Imam Stafi’i Bertanya Kepada Sahabatnya Seorang Miskin Syaiban Aro’i : Kenapa Orang Miskin Harus Berzakat ?

Warga pengguna jalan tampak antusias menerima takjil yang telah disiapkan oleh pihak kepolisian. Pembagian takjil juga penuh keakraban.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News- Gus Bahaudin Nursalim atau Gus Baha dalam sebuah majelis bercerita, bahkan alim-alinya orang itu namanya Imam Syafi’i.

Beliau ini orang yang top dan sangat terkenal. Hidupnya enak, karena ia penasehat pemerintahan.

Tetapi diluar kebiasaan, ia memiliki teman debat orang miskin, penggembala kambing namanya Syaiban Aro’i.

Syaiban Aro’i adalah penggembala kambing yang kumuh. Tetapi ketika Imam Syafi’i sumpek, ia mencari kawannya yang penggembala kambing ini. Dan berdebat.

Murid-murid Imam Syafi’i sempat protes, kenapa sekelas Imam Syafi’i harus berteman dengan seorang Syaiban Aro’i yang kumuh.

Suatu hari Imam Syafi’i mengunjungi Syaiban Aro’i dan bertanya, begini.

“Menurut kamu zakat itu wajib kepada siapa? “tanya Imam Syafi’i.

“Menurut kamu atau menurut saya,” tukas Syaiban Aro’i.

“Ya menurut kamu, yang tanya kamu, ya mesti menurut kamulah,” kata Iman safi’i, memperlihatkan bahwa keduanya sangat dekat.

Ala kuli ghoniyin wa fakirin bahwa zakat itu wajib bagi orang kaya dan orang fakir, papar Syaiban Aro’i.

“Lho kenapa? Masak orang fakir sudah miskin, wajib zakat, “ tanya Imam Syafi’i.

“Memang orang fakir hartanya bersih semua ? Ndak kan? “ ujarnya.

Artinya apa ? Rezeki orang miskin juga banyak yang masalah kalau tidak dizakati.

Terus Imam Syafi’i tertawa-tawa. Ya tertawa-tawa artinya terjadi madzah bersama.

Negara hanya mewajibkan zakat pada orang kaya karena itu yang harus dituntut, kalau tidak zakat.

BACA JUGA  PMI DIY Siaga Penuh Selama Natal 2025 dan Tahun Baru 2025, Berikut Nomor Kontak yang Bisa Dihubungi !

Tetapi orang miskin silahkan yang merasa rizkinya macem-macem itu juga harus dizakati.

Karena zakat itu filosofinya tadzhirul mal mensucikan harta benda.

Barangkali kita perlu tahum bahwa Imam Syafi’i bernama asli Muhammad, bapaknya bernama Idris.

Kakeknyalah yang bernama Syafi’i, seorang ulama besar. Dalam hidupnya ia selalu berdoa untuk diberi keturunan yang sholeh dan alim.

Maka bukan Idris yang terkenal, tetapi Muhammad bin Idris bin Syafi’i yang kemudian terkenal sholeh dan alimnya. Maka ia kemudian dijuluki Imam Syafi’i.

Penulis : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *