Bandung, Proliman News – Ribuan netizen memberi reaksi luar biasa positif terhadap kotbah Idhul Fitri Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyani (KDM).
Berikut lima menit pertama kotbah Idul Fitri, KDM, yang berdurasi lebig dari 14 menit dan dua kali jeda karena suasana sangat mengharukan.
“Pada hari ini kita bersama-sama akan bersujud dan bersimpuh dari dihadapan Allah Subhanahu Wa taala untuk menyempurnakan rangkaian perjalanan ritual dan spiritual kita bahwa kita adalah makhluk yang berkesadaran,” bukanya.
Berkesadaran sebagai manusia yang memiliki hubungan emosional dan spiritual dengan Allah, berkesadaran sebagai manusia yang memiliki hubungan dan emosional dengan alam sebagai rangkaian zat keperciptaannya dan kesadaran kita yang memiliki hubungan emosional dan spiritual dengan seluruh lapisan tetangga sahabat saudara handai taulan orang tua dan keluarga.
Seluruh kesadaran itu merupakan aspek historikal dan wujud pribadi kita bahwa manusia sesungguhnya mengalami perjalanan panjang yang tidak pernah berhenti dalam kata orang Sunda baik alam bihari alam kiwari dan alam pois.
Alam bihari para kiai menyebutnya alam roh alam alam kiwari adalah alam dunia dan alam po isuk ada alam akhir. Seluruh rangkaian itu merupakan yang tidak pernah berhenti seluruh cel itu memiliki dua kualifikasi yang pertama adalah kebersihan hati yang kedua adalah keluhuran budi. Kebersihan hati dalam kaidah orang Sunda menyebutnya celik putih celak heran canggulan 14 jalan gede sesapuan adalah kebersihan jiwa karena jiwa yang bersihlah yang akan mampu memiliki empati pada sesama hidup.
Maka tugas pemimpin sebagai Gubernur Jawa Barat hari ini adalah bagaimana membangun rasa empati antara pemimpin dengan rakyatnya.
Bukan dengan ucapan tetapi dengan tindakan, maka empati itu harus dilakukan dengan melakukan tindakan-tindakan yang nyata dan terukur dengan memiliki tanggung jawab pada delapan asnaf yang terus-menerus dalam setiap tahun kita santuni melalui zakat infak dan sedekah.
Tetapi di balik itu seluruh aparatur negara harus memiliki kesadaran yang kolektif bahwa kita semua adalah para pemegang kebijakan yang didalamnya memiliki kewajiban untuk memberikan rasa aman memberikan rasa bahagia memberikan rasa sejahtera bahkan mengangkat derajat mereka dalam tahapan dan tingkatan hidup yang sama yaitu delapan asnaf.
Tugas Gubernur Jawa Barat hari ini adalah bagaimana membangun rasa empati antara pemimpin dengan rakyatnya. Bukan dengan ucapan tetapi dengan tindakan.
Maka empati itu harus dilakukan dengan melakukan tindakan-tindakan yang nyata dan terukur dengan memiliki tanggung jawab pada delapan asnaf yang terus-menerus, setiap tahun kita santuni melalui zakat infak dan sedekah.
Asnaf (golongan yang berhak menerima zakat, red) itu dalam kaidah Islam dilakukan pada zaman Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
“Delapan asnaf yang terus-menerus dalam setiap tahun disantuni melalui zakat infak dan sedekah itu mewajibkan masyarakat membayar zakat tidak diwajibkan membayar pajak,” ujara KDM.
Makna dibalik itu (memberi pelajaran,red) seluruh aparatur negara harus memiliki kesadaran kolektif bahwa kita semua adalah para pemegang kebijakan yang didalamnya memiliki kewajiban.
“Untuk memberikan rasa aman memberikan rasa bahagia memberikan rasa sejahtera bahkan mengangkat derajat mereka dalam tahapan dan tingkatan hidup yang sama yaitu delapan asnaf,”katanya.
Sedangkan di kita pada hari ini, para penyelenggara negara baik eksekutif maupun legislatif memegang kapasitas melakukan pengelolaan terhadap anggaran belanja dan pembangunan negara atau APBN APBD.
Pembangunan daerah Provinsi Jawa Barat yang paling mendasar adalah bagaimana anggaran itu terdistribusi untuk mewujudkan rasa adil pada asnaf itu.
“Karena apa, karena pada zaman Rasulullah zakat pengelolaannya oleh negara melalui baitul mal,” ujarnya memaparkan.
Sedangkan kita hari ini memiliki dobel anggaran, yakni yang pertama mengelola keuangan melalui pembayaran zakat oleh Baznas. Lalu masih ada infak dan sodakoh. Kedua negara melakukan pengelolaan keuangan pajak melalui APBN/APBD, dan pungutan lain.
“Sesungguhnya di Indonesia ini memiliki pungutan untuk (membangun) rasa keadilan masyarakat sangat banyak melebihi negara-negara lain, tetapi kenapa yang menjadi problem justru keadilan belum terwujud, justru kemiskinan belum tertangani,”ungkap KDM.
Masih banyak orang-orang tidak mampu sekolah tidak mampu membeli baju seragam tidak mampu membeli sepatu meski banyak pungutan (pajak/ zakat/infak/sodakoj) di berbagai tempat.
Sesungguhnya kita yang shalat dalam setiap hari lima waktu kita ini (telah) melakukan pengkhianatan terhadap apa yang menjadi tugas dan kewajiban kita sebagai penyelenggara negara di hadapan Allah.
Di negeri yang beriman dan beramal saleh ini ketika ada pungutan negara (pajak) ada pungutan zakat, indak dan sodakoh, tetapi rasa adil belum terwujud.
“Berarti kita sebagai penyelenggara negara belum bisa memaknai dan memahami Islam secara paripurna. Untuk itu kami sampaikan bahwa pemerintah Provinsi Jawa Barat menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena sebagai penyelenggara negara pengelola keuangan daerah kami belum bisa mewujudkan seluruh apa yang menjadi cita-cita dasar proklamasi menjadi cita-cita dasar keislaman kita.
Dan kami dalam setiap detik setiap menit setiap jam setiap hari setiap minggu setiap bulan dan setiap tahun hanya bisa mempertanggungjawabkan secara administratif secara yuridis tetapi kami tidak bisa mempertanggungjawabkan secara paripurna.
Kaidah Islam mengajarkan tidak dibedakan antara dunia dan akhirat dunia dan akhirat itu satu kesatuan, perbaikan dunia akan melahirkan kebaikan di akhirat perbuatan paripurna di dunia akan menjadikan paripurna di akhirat.
Liputan : Suyono Sugondo



