Sambil Menangis Saat Kotbah Idhul Fitri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Meminta Maaf Kepada Rakyat Miskin

Dalam kotbah Sholat Idhul Fitri 1446 Hijriyah, di halaman Gedung Sate (Gasibu) Bandung, Dedi Mulyani beberapa kali menangis saat menyebut masih banyaknya rakyat miskin.(foto/ist)

Bandung, Proliman News – Tugas Gubernur Jawa Barat hari ini adalah bagaimana membangun rasa empati antara pemimpin dengan rakyatnya. Bukan dengan ucapan tetapi dengan tindakan.

Demikian Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat dalam kotbah Idhul Fitri, di Bandung, Senin, (30/3/2025).

Maka empati itu harus dilakukan dengan melakukan tindakan-tindakan yang nyata dan terukur dengan memiliki tanggung jawab pada delapan asnaf yang terus-menerus, setiap tahun kita santuni melalui zakat infak dan sedekah.

Asnaf (golongan yang berhak menerima zakat, red) itu dalam kaidah Islam dilakukan pada zaman Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

“Delapan asnaf yang terus-menerus dalam setiap tahun disantuni melalui zakat infak dan sedekah itu mewajibkan masyarakat membayar zakat tidak diwajibkan membayar pajak,” ujara KDM.

Makna dibalik itu (memberi pelajaran,red) seluruh aparatur negara harus memiliki kesadaran kolektif bahwa kita semua adalah para pemegang kebijakan yang didalamnya memiliki kewajiban.

“Untuk memberikan rasa aman memberikan rasa bahagia memberikan rasa sejahtera bahkan mengangkat derajat mereka dalam tahapan dan tingkatan hidup yang sama yaitu delapan asnaf,”katanya.

Sedangkan di kita pada hari ini, para penyelenggara negara baik eksekutif maupun legislatif memegang kapasitas melakukan pengelolaan terhadap anggaran belanja dan pembangunan negara atau APBN APBD.

Keadlian Bagi Asnaf

Pembangunan daerah Provinsi Jawa Barat yang paling mendasar adalah bagaimana anggaran itu terdistribusi untuk mewujudkan rasa adil pada asnaf itu.

“Karena apa, karena pada zaman Rasulullah zakat pengelolaannya oleh negara melalui baitul mal,” ujarnya memaparkan.

Sedangkan kita hari ini memiliki dobel anggaran, yakni yang pertama mengelola keuangan melalui pembayaran zakat oleh Baznas. Lalu masih ada infak dan sodakoh. Kedua negara melakukan pengelolaan keuangan pajak melalui APBN/APBD, dan pungutan lain.

“Sesungguhnya di Indonesia ini memiliki pungutan untuk (membangun) rasa keadilan masyarakat sangat banyak melebihi negara-negara lain, tetapi kenapa yang menjadi problem justru keadilan belum terwujud, justru kemiskinan belum tertangani,”ungkap KDM.

Masih banyak orang-orang tidak mampu sekolah tidak mampu membeli baju seragam tidak mampu membeli sepatu meski banyak pungutan (pajak/ zakat/infak/sodakoj) di berbagai tempat.

Sesungguhnya kita yang shalat dalam setiap hari lima waktu kita ini (telah) melakukan pengkhianatan terhadap apa yang menjadi tugas dan kewajiban kita sebagai penyelenggara negara di hadapan Allah.

Maafkan Kami

BACA JUGA  Polres Kulonprogo Ungkap Kasus Pencurian Spesialis Gabah Asal Temon

Di negeri yang beriman dan beramal saleh ini ketika ada pungutan negara (pajak) ada pungutan zakat, indak dan sodakoh, tetapi rasa adil belum terwujud.

“Berarti kita sebagai penyelenggara negara belum bisa memaknai dan memahami Islam secara paripurna. Untuk itu kami sampaikan bahwa pemerintah Provinsi Jawa Barat menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena sebagai penyelenggara negara pengelola keuangan daerah kami belum bisa mewujudkan seluruh apa yang menjadi cita-cita dasar proklamasi menjadi cita-cita dasar keislaman kita.

Dan kami dalam setiap detik setiap menit setiap jam setiap hari setiap minggu setiap bulan dan setiap tahun hanya bisa mempertanggungjawabkan secara administratif secara yuridis tetapi kami tidak bisa mempertanggungjawabkan secara paripurna.

Kaidah Islam mengajarkan tidak dibedakan antara dunia dan akhirat dunia dan akhirat itu satu kesatuan, perbaikan dunia akan melahirkan kebaikan di akhirat perbuatan paripurna di dunia akan menjadikan paripurna di akhirat.

Dunia Akhirat

Maka pengelolaan keuangan negara itu adalah pengelolaan keuangan yang dipertanggungjawabkan di akhirat bukan hanya berpegang teguh prinsip-prinsip yang menjadi kewajiban penyelenggara negara tetapi di balik itu memiliki hakikat sesungguhnya pemangkasan anggaran belanja rutin pegawai diturunkan kemudian diarahkan 70% belanja untuk kemakmuran rakyat itu adalah bagian dalam memahami ajaran Islam secara esensial

Kalau di dalam kaidah pengelolaan zakat jangan sampai biaya amilin lebih besar dibanding biaya untuk asnaf sekali lagi jangan sampai biaya amilin lebih tinggi dibanding kepentingan asnafnya itu sendiri

Dalam kaidah anggaran jangan sampai biaya rutin pegawai tunjangan jabatan perjalanan dinas ongkos kantor belanja ATK jauh lebih besar daripada belanja untuk kepentingan kemakmuran rakyat itu sendiri maka perspektif.

Provinsi Jawa Barat hari ini merubah mindset itu tugas pengelolaan anggaran adalah tugas-tugas Islam tugas-tugas kemuliaan tugas-tugas kemanusiaan.

Maka kegagalan seorang gubernur adalah pasti ada orang yang menjadi pengemis di perempatan jalan masih ada anak-anak yatim yang tidak sekolah masih ada orang-orang miskinyang rumahnya roboh masih ada orang yang kebanjiran tapi tidak tertangani dengan baik masih ada orang yang bunuh diri karena terikat bank emok bank keliling pinjol itu adalah kegagalan seorang pemimpin

Untuk itu pada kesempatan hari ini saya mengajak pada seluruh penyelenggara negara di Provinsi Jawa Barat para Bupati Walikota para Kepala Desa Kepala Kelurahan mari kita bersama-sama memiliki kesadaran ke-Islaman kita bukan dinilai dari umrah kita yang dilaksanakan setiap tahun ke-Islaman kita bukan dinilai dari gamis yang kita pakai ke-Islaman kita bukan dinilai dari peci hitam dan putih yang kita kenakan.

BACA JUGA  Ditinggal Orang Tuanya Ida Ayu Siswa SMK Bhakti Raya Karanganyar Jateng Hidup Dengan Jualan Cilok

Senyum Si Miskin

Dari sejarah yang kita hamparkan ke-Islaman seorang pemimpin dinilai dari senyum rakyat dalam setiap waktu sekolah, tidak mesti ngantri, senyum rakyat dalam setiap waktu makannya tepat dan bergaji, senyum rakyat dalam setiap waktu jalannya halus, senyum rakyat dalam setiap waktu pupuk sangat mudah didapatkan, senyum rakyat dalam setiap waktu sakit di rumah sakit negara tampil dan hadir untuk mengobatinya.

Dokter dan para medis tanpa membedakan kaya dan miskin datang dengan penuh senyuman, senyum rakyat dalam setiap waktu ketika seorang yang melahirkan penuh dengan kenyamanan,  bayi yang terlahir dilayani oleh para medis dengan senyuman.

Maka adalah kehinaan bagi seorang pemimpin apabila di Jawa Barat masih ada orang yang meninggal mayatnya tak bisa (dibawa) pulang ditahan di rumah sakit karena belum bisa bayar atau BPJS-nya

Orang-orang miskin makan hanya dengan garam rumah roboh atau bocor sedangkan negara abai. Fasilitasnya digunakan hanya untuk kepentingan pribadi keluarga dan golongannya. Untuk itu marilah kita jadikan kesadaran 1 Syawal 1446 Hijriah ini adalah sebuah kesadaran kolektif.

Kesadaran ritual dan spiritual kita sudah sangat tinggi pejabat umrah masjid-masjid saat Jumat penuh, mimbar-mimbar penuh, ceramah-ceramah dalam setiap waktu itu baik tetapi lebih baik secara substansial adalah dana-dana yang kita miliki digunakan untuk menangani orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum mustadaifin kaum duafa orang-orang duafaa orang-orang yang merintih dalam setiap waktu meminta pertolongan tapi abai orang untuk menolongnya

Kesadaran itulah yang diperlukan oleh negeri hari ini maka jihad kita para pemimpin hari ini adalah jihad menahan hawa nafsu kita untuk menyerap anggaran untuk kepentingan kita,  kemudian kita mengorbankan diri kita emosi kita keinginan kita untuk membelanjakannya untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas, agar kita kembali pada kesadaran Undang-Undang Dasar 1945 agar kita kembali pada kesadaran ke-Islaman kita.

Gedung Sate

Maka terakhir andai kata di sebelah kanan kita ada bangunan yang dibangun dengan angka 60 juta golden dengan tingkatan ke atas dalam bentuk tusuk sate dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda oleh VOC yang hidupnya hanya dari perkebunan teh, perkebunan karet, perkebunan rempah, mereka mampu membangun jalan-jalan yang berkualitas mereka mampu membangun bangunan-bangunan yang berkualitas yang masih digunakan oleh kita hari ini.

BACA JUGA  Tragedi KM Virgo Transport 8: 103 Dievakuasi, 140 Penumpang Masih Hilang di Laut Jawa

Mereka mampu membangun bendungan-bendungan yang berkualitas pertanyaannya adalah kenapa kita yang mengklaim kaum pribumi itu tidak mampu mengelola perkebunanjangankan membangun gedung seindah gedung sate hanya mengelola kebunnya saja sudah tidak mampu dan dikontrakkan kepada pihak lain yang melahirkan longsor kekeringan.

Betapa kita sebagai umat beragama punya rasa malu di hadapan Allah Subhanahu Wa ta’ala betapa kita sebagai bangsa yang berpancasila merasa malu oleh VOC pada VIC saja kita sudah kalah dalam melakukan pengelolaan apalagi oleh bangsa lain. Untuk itu mari kita bersama-sama tinggalkan keegoan ritual kita.

Mari kita bersujud dan mohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala dan bentuk pengampunan Allah Subhanahu Wa ta’ala saya meyakini akan turun pada kita mana kita memiliki kesadaran. Kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang salah dalam pengelolaan kebijakan.

Marilah kita minta maaf pada anak-anak miskin yang tidak bisa sekolah  marilah kita minta maaf pada orang-orang miskin yang mereka masih tak sanggup makan sebaik makannya kita.

Marilah kita minta maaf pada orang-orang fakir yang harus dia mencuri hanya untuk kebutuhan melahirkan keluarganya marilah

Kita minta maaf pada mereka, tinggalkan keampuhan dan kesombongan kita semoga 1 Syawal 1446 Hijriah ini menjadi tahun kesadaran kita bahwa kita telah salah menjadi penyelenggara negara dan kita akan merubah seluruh kebijakan-kebijakan itu dan saya menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Provinsi Jawa Barat apabila penyelenggaraan pemerintahan belum sesuai dengan apa yang diharapkan.

Apabila layanan rumah sakit belum sebaik yang diharapkan apabila layanan pendidikan belum sebaikyang diharapkan apabila layanan kesejahteraan publik belum sebaik yang diharapkan semoga kesadaran itu menjadi kesadaran emosional kesadaran spiritual kesadaran moral.

Moral emosional dan spiritual dalam istilah orang Sunda disebutnya budi pekerti, semoga kita masuk dalam kaidah yang tidak lagi geni secara intelektual tetapi kita menjadi kaidahnya adalah kaidah orang yang paripurna secara budi pekerti.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *