Dedi Mulyadi Menjawab Kritik Pengusaha Travel Soal Larangan Study Tour di Sekolah – Sekolah, Ini Penjelasannya !

“Saya mengucapkan terima kasih ya kepada para pihak yang mengkritik saya terhadap kebijakan yang kita lakukan (memecat 133 Kepala SMA/SMK gara-gara nekad study tour, red) dan itu bagian dari demokrasi saya juga mengucapkan terima kasih pada salah seorang penyelenggara travel yang secara terbuka mengkritik saya karena dianggap mematikan usaha mereka,” ujarnya.(foto/ist)

Bandung, Proliman News – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberi argumen panjang menanggapi kritik berbagai kalangan seusai memecat 133 Kepala Sekolah SMA/SMK karena nekad melakukan stuy tour.

“Saya mengucapkan terima kasih ya kepada para pihak yang mengkritik saya terhadap kebijakan yang kita lakukan (memecat 133 Kepala SMA/SMK gara-gara nekad study tour, red) dan itu bagian dari demokrasi saya juga mengucapkan terima kasih pada salah seorang penyelenggara travel yang secara terbuka mengkritik saya karena dianggap mematikan usaha mereka,” ujarnya.

Dedi Mulyadi nenjelaskan, travel itu kan penyelenggara kegiatan perjalanan wisata kenapa harus menjadikan anak sekolah sebagai objeknya.

“Kalau menjadikan objek anak sekolah berarti melakukan eksploitasi terhadap proses pendidikan. Kalau menjadi penyelenggara tour travel objeknya hanya anak sekolah tidak usah belajar marketing karena cukup bertemu dengan kepala sekolah kasih diskon yang cukup jadi deh barang, “ ujarnya.

Meskipun kualitas penyelenggaraannya misalnya buruk dan busnya mengalami kecelakaan seperti kasus yang terjadi di SMK di Depok di Ciater.

Mengutip kritik yang lain, kemudian kalau ada yang mengatakan kalau ada yang miskin itu adalah tugas gubernur untuk merubah nasib mereka.

“Saya katakan justru kegiatan yang saya lakukan adalah bagaimana menurunkan angka kemiskinan karena apa karena orang tua yang penghasilannya pas-pasan dengan mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah yang menghabiskan anggaran sampai Rp4 sampai Rp5 juta itu bisa berdampak pada menurunnya angka kualitas hidupnya,” ungkapnya.

BACA JUGA  Percepat Perlinsos Digital, Dinsos PPPA Kulon Progo Gembleng 255 Pendamping Sosial

Bahkan mereka bisa pinjam ke sana kemari ke pinjol kemudian ke rentenir Bank Emok kemudian juga bank keliling yang pada akhirnya menjadi pembebanan ekonomi dan angka kemiskinan menjadi semakin meningkat.

Sedangkan pembebasan mereka dari kewajiban untuk melakukan pembayaran di luar kepentingan pendidikan dasarnya itu sendiri sesungguhnya adalah ikhtiar untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Mendidik masyarakat untuk berinvestasi kemudian menghilangkan tradisi orang Jawa Barat kajenting tekor asal sohor ini adalah ikhtiar kami.

Dan negara mensubsidi pendidikan triliunan rupiah menjadi tidak bermakna karena apa, karena tujuan dari mensubsidi pendidikan agar beban orang tua itu menurun bila perlu zero atau nol.

Tetapi dengan berbagai kegiatan pungutan ini subsidi pendidikan tidak ada artinya.

Kalau subsidi pendidikan tidak ada artinya lebih baik sekolah bayar saja dan kita gunakan uang yang triliunan itu bahkan puluhan triliun untuk kepentingan investasi.

Untuk kepentingan pembangunan infrastruktur untuk kepentingan penyelesaian air bersih untuk kepentingan-kepentingan lainnya yang bermanfaat bagi publik.

“Saya beri contoh deh andai siswa SMA dan SMK negeri dan swasta dan kemudian juga di bawah pemerintah provinsi Jawa Barat maupun Kemenag jumlah kelas tiganya ada 800.000 kemudian mereka mengeluarkan Rp 4 juta untuk berbagai kegiatan pada waktu kelas 3 menjelang lulus maka diperlukan dana sebesar Rp 3,2 triliun nah dana Rp 3,2 triliun itu lari ke mana-mana,” papar Kang Dedi.

BACA JUGA  Mensos: Integritas dan Empati Kepala Sekolah Adalah Kunci Sukses Sekolah Rakyat

Nah untuk itu kalau Rp 3,2 triliun itu didorong untuk investasi kemudian mereka mempersiapkan mereka untuk masuk perguruan tinggi, mempersiapkan diri untuk bekerja mengikuti pelatihan-pelatihan yang bermanfaat bagi kepentingan dirinya dan masa depannya maka ini sangat berarti Rp 3,2 triliun itu.

“Untuk itu mari kita bersama-sama membangun negeri ini dengan cara berpikir dan cara pandang rasional, sekali lagi saya mengatakan mohon maaf pada adik-adikku anak-anakku tercinta yang kelas 3 hari ini yang merasa kecewa karena tidak bisa piknik,”pinta Kang Dedi.

Dan saya katakan Anda melaksanakan kegiatan perpisahan membuat foto kenangan dengan biaya yang sangat murah dengan Anda satu sama lain melalui kegiatan OSIS anda bisa berembuk bersama kemudian patungan dengan tidak membani orang tua, dan kegiatannya sederhana saja menampilkan kegiatan seni-seni tari-tari kemudian musik di sekolah yang berasal dari kreativitas siswa membangun kenangan indah kami tidak ada larangan.

“Yang dilarang itu adalah kegiatan-kegiatan yang melibatkan sekolah mengumpulkan uang memobilisasi siswa demi kepentingan yang sifatnya hanya sekedar hura-hura,” jelasnya.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *