Bupati Agung Setyawan Menghapus Geblek Renteng karena Perintah Sri Sultan HB X, Sabar Widodo: Benarkah ?

Fraksi Partai Gerindra DPRD Kulon Progo mendukung program pembebasan kredit macet bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang diterbitkan Presiden RI Prabowo Subianto.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Di sebuah media, Bupati Kulon Progo Agung Setyawan mengaku menghapus motif batik geblek renteng karena diperintah Gubernur DIY Sri Sultan HB X.

“Saya dapat perintah langsung dari Ngarsa Dalem. Sebaiknya nandalem (Anda, Red) menggantinya,” kata Agung Setyawan saat ditemui di sela mengikuti kegiatan Musda VI PAN di Hotel Royal Brongto Jogja (13/4/2025).

Ngarsa Dalem yang dimaksud Agung tentu raja sekaligus Gubernur DIY Hamengku Buwono X.

Diceritakan, tak lama usai dirinya dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai bupati Kulon Progo pada 20 Februari 2025 lalu, dirinya bertemu dengan HB X.

Pertemuan berlangsung di Hotel Royal Ambarrukmo, Sleman. Dalam pertemuan itu dibahas banyak hal terkait perkembangan Kulon Progo.

Di antaranya, menyangkut eksitensi batik Geblek Renteng. Dari pembicaraan itu, Agung menangkap pesan raja yang bertakhta sejak 7 Maret 1989 kurang berkenan dengan pilihan Geblek Renteng sebagai batik resmi di lingkungan Pemkab Kulon Progo.

“Beliau merasa sengkel ing manah (kecewa perasaannya, Red),” tutur Agung yang juga memiliki gelar raden dari  Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini.

Sejak Geblek Renteng dijadikan batik khas Kulon Progo, HB X kemudian relatif jarang berkunjung ke kabupaten yang punya motto Binangun itu.  Bahkan dari catatan Agung, boleh dibilang tidak pernah.

Benarkah Ngarso Dalem memberi pernyataan bahwa Kenapa pake istilah hapus?

BACA JUGA  Aktivitas Vulkanis Gunung Merapi Meningkat Luncuran Awan Panas Mengarah ke Selatan dan Barat Daya

Mantan Kepala Kelautan Kulon Progo Sabar Widodo menulis di akun FB-nya, jika motif geblek renteng di sukai rakyat, hak cipta Kulon Progo ya wis (sudahlah) dibiarkan berkembang, (karena itu) milik rakyat Kulon Progo.

Kalau Pemda Kulon Progo ingin mengganti motif nggih sae mawon (bagus-bagus saja). Lomba membatik lagi lalu ditetapkan menjadi seragam pegawai.

“Tiap tahun ganti motif juga sae. UMKM pembatik laris. Tetapi, menurut saya Pak Sultan tidak menyuruh menghapus Geblek Renteng. Tetapi untuk ikon Pemkab Kulon Progo kembali ke logo Binangun Gunungan,” tulis Sabar Widodo.

Menurutnya membuat kebijakan publik (tidak boleh) mboten pareng berdasar suka tidak suka.

Dalam unggahannya itu Sabar Widodo mendapat sejumlah komentar diantaranya dari Rendra Heru Pramono.

Ia mengatakan, bahwa hal itu hanya trik marketing. “Mugo-mugo njuk viral. Okeh sik tumbas. Ekonomine bergerak, khususe batik

Mass Sutardi, menanggapi, setuju pertahankan ciri khas Kulon Progo, kalaupun identik dengan kepala daerah terdahulu setidaknya sebagai bentuk apresiasi atas hasil kerjanya selama menjabat, untuk ciri khas Pemda Kulon Progo secara resmi silahkan mau pakai gunungan pare anom atau apapun kebijakannya.

Sedang Dipo Pawiro menuliskan, sanepane kon (baiknya disuruh) kembali ke jatidiri. Le nampa kudu nganggo olah roso.

Bambino mengomentari pendek, “ Ada yang baper om,” katanya.

Simbah menulis, setuju gunungan pare anom, sedang Arismawan, menanggapi Simbah cocok saya, juga setuju kembali seperti semula bukan gebleg renteng.

BACA JUGA  Kawal Produktivitas Pangan, Pemkab Kulon Progo Dampingi Penanaman Bawang Merah

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *