Kulon Progo, Proliman News – Ratusan pedagang yang juga nasabah korban BUKP Wates di Pasar Bendungan, Wates, Kulon Progo, gempar.
Ini terjadi gara-gara membaca berita bahwa tabungan/deposito mereka di BUKP Wates yang selama ini sulit dicairkan akan segera dibayarkan oleh Biro Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemda DIY.
Tetapi hanya tabungan/deposito yang tercatat dalam sistem laporan keuangan BUKP Wates saja yang akan dibayarkan BPKAD Pemda DIY.
Yang tidak tercatat dalam sistem keuangan laporan keuangan BUKP Wates menjadi tanggungjawab pegawai BUKP Wates untuk menyelesaikannya.
Membaca berita ini para pedagang langsung bersungut-sungut, marah-marah dan membuat suasana Pasar Bendungan Wates, Kulon Progo gempar.
“Astaghfirullah, bagaimana kita tahu tabungan kita dimasukkan dalam sistem atau tidak,” ujar Diana, salah satu nasabah korban BUKP Wates.
Ia mengaku sejak dari tahun 2010 sampai sekarang ia hanya tahu semua setorannya tercatat dalam buku tabungan, hanya tulisan tangan tidak pernah diprint dengan komputer.
Ketika ke BUKP Wates pun ia tabungan mereka hanya ditulis tangan dan ada paraf pegawai BUKP Wates, tidak ada yang dikomputer.
“Kalau ke Kantor BUKP Wates hanya lihat PC (komputer, red) jadi pajangan saja karena barangnya ditutup plastik selama jam kerja, astagfirullah,” katanya menjelaskan.
Demikian juga ketika memasukkan uang untuk deposito, nasabah minta jangka waktu 3 bulan setelah bilyet keluar tertulis jangka waktunya setahu.
“ Ketika dicroscek dijawab tidak apa-apa, nanti nek njenengan butuh dicairkan saja,” begitu katanya menirukan jawaban pegawai BUKP Wates.
“Begitu manis tutur katanya. Tetapi kok jadinya busuk begini, nasabah yang akan dikorbankan. Dianggap bodoh, terus dikibuli, jadi obyek sasaran pengerukan dana untuk hidup enak mereka,” katanya.
Pedagang pasar dan komunitasnya itu selama puluhan tahun main percaya saja kepada semua pegawai BUKP Wates. Tidak ada pikiran negatif sedikitpun.
“Giliran uang tidak ada sekarang nasabah yang akan dikorbankan, Ndak maulah ! Ini penyelesaian model apa ini, dikasih hati makan kepala ini namanya,” ujarnya lantang.
Sejumlah pedagang yang berusia tua mengatakan mereka sudah menambung di BUKP Wates selamalebih dari 15 tahun dan mereka percaya bahwa lembaga ini implementasi sifat kerakyatan Ngarso Dalem Sri Sultan HB X.
“Sejak dulu kita ini disosialisasi oleh petugas, pegawai, BUKP Wates itu milik Sri Sultan dan menjadi penolong orang-orang kecil seperti pedagang ini. Jadi nggak tahu kalau ada sistem ada sistom begini,”ujar Sutarti.
Bahkan dalam beberapa dawuh Ngarso Dalem melalui berita, BUKP Wates ini atau BUKP lain di DIY itu membantu menghidupkan ekonomi rakyat kecil. Dengan pinjaman yang hanya seratus dua ratus ribu.
Itu artinya, apa yang disampaikan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemda DIY Wiyos Santoso dianggap sangat elitis tidak merakyat dan ketinggian.
Suroso pedagang angkringan di Karangwuni, Wates, Kulon Progo mengatakan, siapapun yang terlibat dalam masalah ini pasti tidak enak.
“Namanya koban pasti nggak enak, dengar berita rencana pencairan simpanan bagi nasabah di BUKP Wates dan Galur itu. Yang menipu juga nggak enak hatinya. terasa dipenjara. Belum nanti kalau dijalan berkendara, direncanakan ditabrak pakai mobil dibuat nggak mati hanya cacat permanen pasti tambah nggak enak lagi, cantik nya hilang,” ujarnya.
Liputan : Suyono Sugondo




Wah ya jangan begitu, soalnya pegawai BUKP banyak yg gaptek, mana mungkin mereka bisa paham komputerisasi dengan cepat, hla wong buku tabungan aja cuma ditulis tangan, harus bisa dicairkan semua yang tertulis di buku tabungan itu, apalagi malah ada yang buku tabungannya katanya masih di kantor BUKP dan tidak diserahkan ke nasabah, lalu setoran tabungannya diambilin sama petugas BUKP waktu nasabahnya sedang ngelapak di pasar, harus clear semua dan dapat cair semua itu uang nasabahnya