Dua Nasabah Korban BUKP Wates Gelar Aksi ‘Mati’ Sebagai Sindiran Matinya Nalar dan Hati Para Pejabat

Dua orang nasabah korban BUKP Wates, Kulon Progo, masing-masing Suroso ( 64) dan Tri Wibowo (45) pagi tadi menggelar aksi ‘mati’ di depan kantor BUKP Wates.(foto/Pur)

Kulon Progo, Proliman News – Dua orang nasabah korban BUKP Wates, Kulon Progo, masing-masing Suroso ( 64) dan Tri Wibowo (45) pagi tadi menggelar aksi ‘mati’ di depan kantor BUKP Wates.

Keduanya terbujur di halaman kantor BUKP Wates, dan ditaburi bunga oleh nasabah korban BUKP Wates lainnya.

Aksi ini merupakan simbol matinya nalar dan perasaan seluruh komponen yang terlibat dalam pengelolaan BUKP Wates.

Terutama para pejabat yang bertugas membina beroperasinya BUKP Wates, dan BUKP lainnya yang kini sedang dalam masalah besar.

“Tabungan saya memang hanya Rp 15 juta, tetapi itu hasil mengumpukan serupiah demi serupiah dari setiap malam jualan angkringan, kenapa harus hilang,” ujar Suroso kepada pers.

Melalui Paguyuban Nasabah Korban BUKP Wates, ia telah mengajukan permohonan untuk audiensi dengan DPRD DIY dan pejabat terkait, tiga minggu lalu tetapi hingga hari ini tidak ada juntrungnya.

“Ini karena nalar dan perasaan pejabat sudah hilang, mati, ya tinggal taburi bunga saja kalau begitu,” tambahnya.

Sementara Tri Wibowo salah satu Ketua Paguyuban Nasabah Korban BUKP Wates yang menyertai Suroso melakukan aksi mati mengatakan saat ini waktunya semua komponen masyarakat melakukan aksi sapu bersih.

Dengan terbongkarnya kejahatan di dalam tubuh BUKP Wates, dan BUKP Galur menguak praktek-praktek busuk di berbagai BUKP DIY.

“Kami sekarang tahu, aksi jahat seperti apa dan akal-akalan seperti apa yang sedang kalian lakukan, melalui BUKP, monitoring, manupulasi data dan penindasan kepada rakyat kecil,” ujarnya.

BACA JUGA  JCW Desak Sri Sultan HB X Evaluasi Baperjakat DIY Buntut Polemik Jabatan Kadispar

Ia menegaskan, sekarang ini di masing-masing paguyuban sangat banyak data terkait penyelenggaraan BUKP dan alur kiri dan kanannya.

“Jika hal ini dibiarkan, tetap tidak ada tindakan apapun, tetap uang nasabah tidak dikembalikan, ini sama saja dengan kalian telah njongkeng kawibawan Raja Yogyakarta, yang juga Gubernur DIY, Sri Sultan HB X,”ujarnya.

Aksi yang juga didukung oleh sejumlah ibu-ibu pedagang Pasar Bendungan. Wates, Kulon Progo, ini kemudian diakhiri sebelum aparat keamanan datang.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 Komentar

  1. Terus lanjutkan perjuangan kawan…sampai hak2 kita dipenuhi oleh orang2 dholim di bukp dan sekelilingnya

  2. Semangat bismillah, semoga di mudahkan. Ya Robb.
    Ya mohon pemprov diy memperhatikan. Rakyat cilik yg menabung di bank milik pemprov diy. Jangan lempar tanggungjawab.