Plt Kadis Perdagangan Riyadi Sunarto: Bank Kulon Progo Bisa Atasi Rentenir Tapi BI Ceking Pedagang Ada Masalah !

“Ayo, bantu mereka. Kita repot ini,” ujarnya Minggu (29/6/2025) menanggapi pemberitaan tentang banyaknya pedagang pasar terjerat rentenir.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Plt. Kepala Dinas Perdagangan Kulon Progo, Riyadi Sunarto, mengaku pusing membahas praktek rentenir di Pasar Pagi Wates dan sejumlah pasar lain.

Riyadi Sunarto meminta semua pihak ikut memberi sumbang pemikiran mengenai masalah beroperasinya rentenir di Pasar Pagi Wates dan sejumlah pasar lain di Kulon Progo ini.

“Ayo, bantu mereka. Kita repot ini,” ujarnya Minggu (29/6/2025) menanggapi pemberitaan tentang banyaknya pedagang pasar terjerat rentenir.

Ia menyatakan, pemerintah telah menyiapkan pendanaan modal bagi pedagang melalui koperasi atau bank yang resmi, seperti Bank Kulon Progo.

Bank Kulon Progo bahkan telah meluncurkan program keris untuk kebutuhan modal kelompok pedagang dan UMKM.

Namun para pedagang di Pasar Pagi Wates atau di pasar-lain di Kulon Progo punya kendala saat akan mengajukan pinjaman modal, yakni BI Ceking.

BI Ceking itu sebagai prasarat normatif bagi pengaju kredit di Bank Kulon Progo, yang dulu namanya PD Bank Pasar.

“Nah BI Ceking mereka ini ( para pedagang, red) hitam semua. Terus bagaimana, mereka itu BI pointnya bermasalah,” ujarnya.

Di titik inilah Riyadi Sunarto mengaku pusing mengatasi masalah beroperasinya rentenir di Pasar Pagi Wates serta pasar lain di Kulon Progo.

Ia bahkan memberi data bahwa ada pedagang pasar ada yang memiliki pinjaman di Bank Kulon Progo sampai ratusan juta rupiah.

BACA JUGA  BASO-K Kafe Wates Kulon Progo Tahu Caranya Bikin Enak dan Tetap Puas, Harganya Merakyat!

Tentu pinjaman sebanyak ini bukan untuk modal berdagang di Pasar Pagi Wates, lanjutnya memberi paparan tentang kondisi pedagang.

“Wong ada yang pinjaman kok sampai ratusan juta. Tidak mungkin untuk dagang di Pasar Pagi Wates,” katanya menegaskan.

Maka ia meminta ada sumbang pemikiran dari semua komponen di Kulon Progo untuk mengatasi masalah ini agar tidak berkembang menjadi liar.

Sementara berbagai pihak mengusulkan agar dilakukan revitalisasi Koperasi Pedagang Pasar (Koppas) yang selama ini menjadi tumpuhan permodalam bagi pedagang pasar.

“Koppas kan ada, kenapa tidak diefektifkan, lembaga ini bisa disuntik dana kemudian koperasi bisa memberi dukungan modal bagi pedagang, dengan bunga ringan atau syarat ringan,” ujar Ibnu Heryanto.

Masalahnya, Koppas harus lebih profesional lebih koperasi bukan praktek bisnis perorangan sehingga tidak ada istilah membunuh macan memelihara buaya.

Soal mekanisme suporting modal kepada Koppas bisa dibicarakan antara Pemda Kulon Progo, Koppas dan bank pendukung.

“Serahkan kepada ahlinya, kan banyak orang-orang pinter di Kulon Progo yang perlu dilibatkan,” ujar pengamat ekonomi itu.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *