Fendi Adiatmono Doktor Lulusan Leiden University Pilih Pulang Samigaluh Kulon Progo Produksi Batu Bata Interlock

Apa yang ia produksi bukan sembarang batu bata. Tetapi batu bata dengan sentuhan seorang ahli saintek alumni perguruaun tinggi tua di Eropa.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Siapa sangka kalau Fendi Adiatmono, warga Jl. Samigaluh – Loano, Gerbosari, Samigaluh, Kulon Progo, ternyata seorang doktor keluaran Leiden University.

Setelah menggondol gelar PhD dari universitas ternama di Belanda tahun 2018 lalu, ia memutuskan untuk pulang kampung. Kemudian berwirausaha memproduksi batu bata dari tanah liat.

Tetapi tunggu dulu ! Apa yang ia produksi bukan sembarang batu bata. Tetapi batu bata dengan sentuhan seorang ahli saintek alumni perguruaun tinggi tua di Eropa.

Inovasinya ini dinamai, Batu Bata Interlock dengan metode pengerasan menggunakan sinar matahari, bukan pembakaran pada suhu tinggi seperti pada umumnya.

Batu bata ini memiliki kekuatan tekan (compressive strength) setara dengan batu bata interlock yang dibakar pada suhu 800°C, dan dengan biaya produksi yang jauh lebih efisien.

Inovasi ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga membuka peluang bagi pembangunan yang lebih terjangkau dan berkelanjutan di wilayah pedesaan.

Batu Bata Interlock buatan Fendi Adiatmono ini menjadi solusi konstruksi modern yang semakin diminati karena bentuknya yang saling mengunci, sehingga mengurangi penggunaan semen dan mempercepat proses pembangunan.

Selain itu, bata ini memiliki daya tahan tinggi terhadap gempa, isolasi suara yang baik, dan mampu menjaga suhu ruangan tetap sejuk, sangat sesuai dengan iklim tropis Kulon Progo.

Dengan biaya produksi yang ditekan seminimal mungkin, produk Fendi Adiatmono berpotensi besar untuk meningkatkan kualitas hunian masyarakat tanpa membebani ekonomi mereka.

BACA JUGA  Warga di Gunungkidul Ditemukan Positif Antraks, Berikut Beberapa Tips Menghindari Penularan Antraks

Waoouw keren kan? Meski bergelar doktor dari luar negeri tetapi ia masih ingin mendedikasikan ilmunya untuk masyarakat Kulon Progo.

Degree Ph.D dari perguruan tinggi ternama di kota kecil Leiden Netherlands ini bukan hanya dikenal karena prestasi akademiknya ia bahkan juga penulis puluhan jurnal internasional dan hak paten berbahasa Belanda.

Dalam wawancara mendalam, Fendi Adiatmono menyampaikan filosofi hidupnya yang berlandaskan ajaran Islam. Mengutip hadis riwayat Thabrani: “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”

Prinsip inilah yang menjadi motivasi utama dalam setiap langkahnya, baik dalam riset maupun pengabdian masyarakat.

Meski berstrata 3 dari universitas terkemuka, Fendi Adiatmono enggan menggunakan gelar tersebut dalam pergaulan sehari-hari, ia lebih sebagai sosok rendah hati dan sederhana.

Keputusan meninggalkan karier di luar negeri dan memilih hidup di pedesaan menunjukkan komitmen kuatnya untuk membawa perubahan positif secara langsung di tanah kelahirannya.

Dengan semangat inovasi dan pengabdian, Adiatmono (nama panggilannya di Eropa) pantas menjadi teladan bagi generasi muda Kulon Progo pada umumnya.

Usaha pengembangan Batu Bata Interlock yang ramah lingkungan dan ekonomis ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan infrastruktur yang berkualitas, sekaligus memberdayakan masyarakat lokal secara berkelanjutan.

Liputan : Adhi Karnanta Hidayat

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *