Trauma Terendam Banjir Setinggi 2 Meter Warga Perumahan BPS Pengasih Kulon Progo Minta Pemda Bangunkan Floodwall

“Kami sudah mengirimkan proposal tersebut bulan Juni 2025 lalu. Bahkan kami juga sudah mengirim proposal ke Balai Besar Wilayah Serayu – Opak (BBWSO). Tetapi juga belum ada tanggapan,” ujar Joko Triyatno.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News –  Trauma terendam banjir hingga setinggi 2 meter warga Perumahan Bumi Progo Sejahtera (PBS), Margosari, Pengasih, Kulon Progo, meminta pemerintah untuk membantu membangunkan tembok pengaman banjir.

“Kami trauma, karena musim penghujan kemarin pemukiman kami terendam banjir hingga 2 meter. Saat itu kita panik, dan sampai hari ini ratusan kepala keluarga masih sedih mengingat banjir besar saat itu,” kata Joko Triyatno, pemuka warga Perumahan BPS, Senin (14/7/2025).

Ia mengatakan, pembangunan tembok pengaman banjir (floodwall) ini sebenarnya masih menjadi tanggungjawab pengembang yakni PT Kawan Bersama Sejahtera Abadi (KBSA). Namun mendapat keluhan warga pengembang juga tenang-tenag saja.

“Pengembang juga tidak bereaksi apa-apa atas keluhan warga ini. Bahkan sampai hari ini pengembang sejak kita sampaikan bulan Mei lalu, juga tidak pernah ngaruhke,” lanjutnya.

Padahal perumahan ini belum diserahkan kepada Pemda Kulon Progo, terkait pemeliharaan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang ada di perumahan tersebut.

“Maka logikanya, pembangunan tembok pengaman banjir sepanjang 150 meter setinggi 2,5 meter dengan kedalam pondasi satu meter dan tinggi tembok 1,5 meter ini menjadi tanggungjawab pengembang,” ujarnya.

Karena pengembang tidak merespon, sementara waktu terus bergulir, kawatir musim penghujan keburu datang lagi, maka warga kemudian membuat panitia pembangunan tembok pengaman banjir secara swadaya.

Tetapi ternyata dengan konstruksi seperti itu, dibutuhkan dana sangat besar yakni sebesar Rp 430 juta.

BACA JUGA  Tim Pengendali Inflasi Daerah DIY Terjun ke Pasar Tradisionail, Stok Pangan Jelang Lebaran Aman !

“Biaya yang dibutuhkan dengan konstruksi tembok panjang 150 meter, tinggi 2,5 meter, tebal pondasi mulai dari satu meter kemudian temboknya tebal 40 centimeter ternyata habisnya Rp 430 juta,” ujarnya.

Karena kemampuan warga terbatas, maka warga membuat proposal pembangunan tembok pengaman banjir ditujukan kepada Pemda Kulon Progo, Bupati – Wakil Bupati, dan DPRD Kulon Progo dan DPRD DIY.

“Kami sudah mengirimkan proposal tersebut bulan Juni 2025 lalu. Bahkan kami juga sudah mengirim proposal ke Balai Besar Wilayah Serayu – Opak (BBWSO). Tetapi juga belum ada tanggapan,” ujar Joko Triyatno.

Dalam proposal tersebut mereka akan membangun tembok tersebut bulan Agustus 2025 mendatang, dan diperkirakan akan rampung pada awal bulan Oktober 2025.

“Itu masalahnya. Kita harus kemana lagi ini ? Padahal jika musim penghujan datang dengan situasi cuaca seperti ini, kami semua kawatir bakal terendam lagi. Kami ini terus berfikir, piye carane,” katanya.

Oleh karena itu, mereka meminta agar Pemda Kulon Progo, Bupati – Wakil Bupati bersedia membantu dengan cara apapun agar tembok pengaman banjir bisa terwujud.

“Kalau diasumsikan dari 250 pemilik kavling separo membayar, maka diperkirakan dari iuran warga baru terkumpul Rp 125 juta. Kami minta kurangnya ditopang oleh pemerintah atau BBWSO melalui program pengamanan banjir,” jelasnya.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *