Banjarnegara, Proliman News – Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, kembali menunjukkan pesona ekstremnya. Suhu di kawasan Candi Arjuna anjlok hingga minus 2 derajat Celsius pada Sabtu (19/7/2025) pagi, memunculkan fenomena langka yang diburu wisatawan sekaligus menjadi momok bagi petani: embun upas atau embun beku.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Banjarnegara mengonfirmasi suhu beku tersebut tercatat di permukaan rumput Kompleks Candi Arjuna, Desa Dieng Kulon.
Fenomena kristal es ini sontak menjadi primadona, menarik wisatawan yang rela datang sejak subuh untuk menyaksikan pemandangan bak salju tipis di negeri tropis.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Banjarnegara, Hery Susanto Wibowo, menyatakan bahwa suhu permukaan yang ekstrem ini kontras dengan suhu.
Di satu sisi, embun beku menjadi daya tarik wisata yang signifikan, terutama saat muncul di akhir pekan. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dieng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Banjarnegara, Sri Utami, mengungkapkan animo wisatawan yang tinggi.
“D lapangan dekat Candi Setyaki cukup tebal, kalau di Candi Arjuna juga ada, tapi tipis,” katanya. Fenomena ini, menurutnya, menyedot perhatian wisatawan yang sengaja datang pagi-pagi buta.
Bagi mereka yang ingin “berburu” embun beku, Utami memberikan sejumlah saran. “Jangan lupa menggunakan jaket, penutup kepala dan sarung tangan. Kami sarankan juga makan minum yang cukup karena sangat dingin,” imbaunya.
Wisatawan disarankan untuk tiba di lokasi sekitar pukul 05.30 WIB untuk mendapatkan momen terbaik.
Namun, di sisi lain, embun upas adalah ancaman serius bagi sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Tanaman kentang, komoditas utama Dieng, sangat rentan terhadap suhu beku yang bisa menyebabkan gagal panen.
Menyikapi dualisme dampak ini, Hery Susanto Wibowo dari BMKG mengimbau semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Tanaman yang rentan seperti kentang perlu dilindungi, dan wisatawan diharapkan menyiapkan pakaian hangat agar tidak terjadi gangguan kesehatan akibat cuaca dingin ekstrem,” kata Hery.
BMKG mengakui bahwa catatan historis suhu ekstrem di Dieng belum terdokumentasi lengkap karena keterbatasan akses alat pantau yang baru bisa dioperasikan langsung oleh BMKG Banjarnegara sejak tahun 2025. Namun, berdasarkan data terbatas, suhu di kawasan tersebut bisa mencapai minus 4 derajat Celsius pada puncak kemarau, sebuah peringatan dini bagi pemerintah daerah, pelaku wisata, dan terutama para petani di ‘Negeri Atas Awan’ itu.
Liputan: Suyono Sugondo



