Muktamar V Halaqoh BEM Pesantren ‘Tandingan’ Tetapkan Ahmad Tomi Wijaya Sebagai Koordinator Pusat

Ahmad Tomi Wijaya secara resmi ditetapkan sebagai Koordinator Pusat Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia menggantikan hasil Muktamar V yang dianggap cacat secara etik dan moral oleh berbagai pihak. (foto/ist)

Jakarta, Proliman News – Ahmad Tomi Wijaya secara resmi ditetapkan sebagai Koordinator Pusat Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia menggantikan hasil Muktamar V yang dianggap cacat secara etik dan moral oleh berbagai pihak.

Penetapan ini dilakukan melalui muktamar yang sah tanpa intimidasi dan dilaksanakan secara demokratis yang digelar oleh perwakilan kampus dibawah naungan Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia.

Keputusan ini muncul sebagai respons atas sejumlah pelanggaran dalam pelaksanaan Muktamar V Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia yang digelar di Universitas Darunnajah Jakarta, Senin (4/8/2025).

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan oleh Nauval Alfarizi sebagaqi juru bicara forum, disebutkan bahwa proses Muktamar V Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia telah mengabaikan prinsip-prinsip musyawarah, transparansi, dan akhlak keorganisasian.

“Kami menilai Muktamar V Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia yang dilaksanakan di Universitas Darunnjah Jakarta tidak sah secara moral dan etika karena terjadi manipulasi data peserta, pengabaian aspirasi, serta tindakan intimidatif terhadap peserta forum,” tegas Nauval Alfarizi.

Ahmad Tomi Wijaya, sosok muda yang dikenal sebagai aktivis santri dengan rekam jejak kepemimpinan yang kuat di tingkat wilayah dan nasional, menyatakan kesiapannya memimpin konsolidasi nasional demi mengembalikan marwah organisasi.

Pada kesempatan tersebut Ahmad Tomi Wijaya bersedia menjadi Koordionator Penyelamat dan sepakat dengan pemikiran sejumlah Pengurus BEM Pesantren.

“Ini bukan soal jabatan, tapi soal menjaga ruh perjuangan santri dalam bingkai kebangsaan dan keumatan. Saya akan memimpin gerakan ini dengan spirit keadaban dan semangat kolektif,” ujar Tomi dalam sambutannya.

BACA JUGA  Mahasiswa UGM Harumkan Nama Indonesia, Raih Dua Penghargaan di Kompetisi Blockchain Internasional

Penetapan Ahmad Tomi Wijaya disambut baik oleh ratusan orang aktivis dibawah naungan Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia. Mereka berharap kepemimpinan baru ini mampu merestorasi tata kelola organisasi dan mengembalikan kepercayaan internal atau anggota terhadap Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia.

Para aktivis ini menilai kehadiran preman di forum tersebut, tentu menjadi sebuah ancaman dan intimidatif bagi peserta sidang sehingga menimbulkan rasa ketakutan.

Sejumlah peserta mengaku ketakutan dengan hadirnya orang-orang tak dikenal yang diduga bukan bagian dari panitia maupun aparat keamanan resmi.

Kejadian ini memicu reaksi dari peserta muktamar dan aktivis mahasiswa lain yang menilai keterlibatan pihak non-formal dalam acara intelektual keagamaan sangat tidak etis.

Pesantren yang seharusnya mengajarkan kebenaran tanpa kekerasan, justru memperlihatkan bahwa kekuasaan dan intimidasi mental menjadi salah satu hal tindakan menghalalkan segala cara demi kepuasan kekuasaan dan kepentingan tertentu.

“Ini forum santri dan mahasiswa, bukan tempat untuk praktik kekerasan jalanan. Kita tidak anti keamanan, tapi harus jelas siapa dan atas dasar apa mereka hadir, jelas ini menghina marwah pesantren yang dikenal bernorma dan bernilai” ujar Ayub Abdullah, salah satu peserta muktamar delegasi dari DIY.

Kehadiran preman ke dalam forum BEM Pesantren tersebut, hingga kini kejadian tersebut belum mendapatkan keterangan resmi dari panitia maupu SC.

Muktamar ini akhirnya juga menjadi pengingat bahwa terdapat peristiwa pahit tentang tercederainya nilai-nilai pesantren.

BACA JUGA  Dinas Dikpora Kulon Progo Telah Mengambil Langkah pada Kasus Siswa SMP Kecanduan Judol

”Ruang- ruang yang mengatasnamakan Pesantren dan peradaban Islam telah tercoreng dengan praktik- praktik intimidasi hingga ancaman. Bahwa forum mahasiswa santri yang seharusnya berangkat dari amar ma’ruf justru dikalahkan oleh amar maksa,”ujarnya.

Meraka yang telah membiarkan semua ini terjadi, telah mengkhianati tradisi pesantren yang dibangun di atas ilmu, adab, dan keberanian moral. Santri itu pejuang gagasan, bukan objek ketakutan.

Ada dugaan keras keterlibatan preman dalam Muktamar V Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia, untuk kepentingan terpilihnya salaj seorang,  sebab dalam tradisi pesantren tidak mengenal tindakan premanisne, paparnya.

“ Maka, secara tegas kami menduga terdapat oknum (SC dan panitia Muktamar V Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia) yang menghadirkan kedatangan preman dalam forum tersebut,”tegas Ayub Abdullah.

Liputan : Reynaldi Dwi

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *