Kulon Progo, Proliman News – Sejumlah aktivis perempuan Kulon Progo angkat bicara soal carut marut Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Rata-rata mereka mengatakan, sepakat Program MBG tidak digentikan atau dipending. Karena program ini bagus untuk memulai tatanan baru Indonesia.
“Sepaham kita, Program MBG tidak dihentikan. Tetapi perlu dibenagi total, dari makelar penjual titik ordinatnya, hingga sistem pengelolaannya,” ujar Mariani Relawan Jaringan Perempuan Kulon Progo, Sabtu (27/9/2025).
Ia menyoroti tentang banyaknya kasus keracunan yang terjadi di berbagai sekolah setelah menyantap paket makanan Program MBG.
“Bagaimana tidak rusak, basi, dan membuat keracunan kalau satu dapur dengan 50 orang tenaga melayani 4000 penerima manfaat. Kalau satu dapur melayani satu sekolahan antara 300 sampai 400 siswa, mungkin lebih ideal,” katanya.
Kedua, Program MBG ini semestinya kan menjadi program unggulan untuk membangun perekonomian baru, karena akan membantu pelaku ekonomi di berbagai daerah.
“Mulai dari UMKM, catering, petani, peternak di lingkungan penerima manfaat. Kenyataannya bagaimana ? Kan tidak begitu,” katanya.
Lalu para pemain di Program MBG baik pemilik dapur maupun penentu arah kebijakan program ini semuanya politisi, dari partai berkuasa, yayasan yang dimiliki oleh mereka dan investor.
Maka tidak aneh jika kemudian muncul kasus keracunan di mana-mana, ada surat perjanjian menututpi kasus keracunan hingga ada saling berebut titik pembangunan dapur.
“Karena memang akhirnya secara akumulatif ini bisacara duit besar, yang tentu hanya para pemodal dan politisi yang bisa mainm” katanya.
Maka pertanyaannya, jika sampai ada kasus keracunan hingga menelan korban jiwa siapa yang bertanggungjawab? lalu mau ditutup seperti apa kasus kematian akibat keracunan makanan?
Maka Jaringan Perempuan Kulon Progo meminta program ini dikaji ulang, ditata ulang, dan diluruskan niatnya.
Ia juga sepakat jika sekolah atau pesantren penerima manfaat dari program ini dilibatkan secara aktif kalau perlu diberi kewenangan untuk mewujudkan pemenuhan gizi bagi siswa.
“Di berbagai wilayah, kasus keracunan tetap saja pihak sekolah, orang tua siswa, dan relawan yang melakukan kerja keras untuk mengatasi masalah ini,” ujar Koordinator Jaringan Perempuan Kulon Progo, Rusmiyatun.
Vendor tidak bertanggungjawab, karena memang tidak ada anggaran untuk mengatasi masalah keracunan makanan program MBG.
Akhirnya guru-guru pihak sekolah yang menanggung. Bahkan ada juga yang ditanggung sendiri oleh orang tua siswa, karena semua angkat tangan.
“Ini dholim ini, mau untungnya nggak mau resikonya. Maka ini ahrus dibenahi agar bener antara ide mulianya dengan prakteknya,” tambahnya.
Dari ceking lokasi yang ia lakukan rata-rata menu sudah tidak layak konsumsi karena kelamaan (basi) hingga kelamaan mencapi lokasi dan rusak kerana di kemas saat panas sehingga cepat rusak.
“Ada teman yang bekerja di MBG deket rumah, awalnya harus mengemas 4000 paket, baru saja ketemu lagi sekarang menjadi 7000 paket. Gila nggak,” ujarnya.
Ia meminta Presiden Prabowo segera bertindak jika tidak mau ada kasus lebih berat di Program MBG. Stop tipu-tipu di Program MBG.
Liputan : Suyono Sugondo



