Surabaya, Proliman News – Nur Ahmad (16 tahun) salah satu korban ambruknya bangunan empat lantai di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, menorehkan kisah mengharukan.
Saat detik-detik ambruknya bangunan empat lantai termasuk di Ponpes Al Khoziny, Nur Ahmad dan ratusan santri lainnya sedang khusyuk menunaikan salat Ashar berjemaah.
Ahmad menceritakan bahwa musibah terjadi tepat pada rakaat kedua salat Asar.
“Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar, dan bangunan pun runtuh,” katnya.
Nur Ahmad, yang saat itu sedang dalam posisi ruku’, langsung tiarap dan seketika lengan kirinya tertimpa material beton sangat berat.
Ia tidak mampu menyelamatkan diri karena tangan kirinya remuk dan terjepit erat.
Nur Ahmad terperangkap selama berjam-jam, dari sore hingga malam, berteriak meminta tolong di tengah rasa sakit yang luar biasa.
Teriakan Ahmad akhirnya didengar oleh tim penyelamat. Namun, tantangan terbesarnya adalah evakuasi.
Tim dokter spesialis ortopedi dan traumatologi dari RSUD Sidoarjo yang merangkak masuk sejauh 10 meter ke dalam celah sempit reruntuhan, menemukan kondisi Nur Ahmad sudah syok berat.
Lengan kirinya sudah remuk, dan mustahil bagi alat berat untuk mengangkat beton tanpa membahayakan nyawa Ahmad dan santri lain.
Menyadari bahwa beton tidak mungkin diangkat dan waktu terus berjalan, tim dokter harus mengambil keputusan yang sangat sulit: amputasi darurat di lokasi reruntuhan.
Dalam situasi ini, prinsip medis adalah “life saving is number one” (menyelamatkan nyawa adalah nomor satu), bahkan dengan risiko kehilangan anggota tubuh.
Amputasi dilakukan di ruang sempit dan gelap, hanya setinggi 50 sentimeter. Dokter yang bertugas, seperti dr. Aaron Franklyn Simatupang dan dr. Larona Hydravianto, bekerja dalam bahaya besar, siap mati di tempat jika bangunan ambruk lagi.
Mereka berhasil melakukan amputasi setinggi siku dalam waktu singkat setelah membius Nur Ahmad di tempat.
Berkat keputusan heroik dan kerja keras tim medis, Nur Ahmad berhasil dievakuasi keluar dari reruntuhan dalam keadaan selamat, meskipun harus kehilangan lengan kirinya.
Keputusan amputasi di tempat tanpa persetujuan keluarga sempat menimbulkan protes.
Namun, setelah dokter menjelaskan bahwa tindakan itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa Nur Ahmad, pihak keluarga dapat menerimanya dengan lapang dada.
Setelah menjalani operasi lanjutan dan perawatan intensif, kondisi Nur Ahmad berangsur stabil dan membaik. Ia menunjukkan semangat yang kuat untuk pulih dan melanjutkan hidup.
Kisah Nur Ahmad menjadi simbol perjuangan dan harapan di tengah bencana, menunjukkan betapa berharganya setiap detik dalam menyelamatkan nyawa, bahkan dengan pengorbanan yang sangat besar.
Liputan: Reinaldy Dwi



