Pemkot Yogyakarta Dukung 130 Volunteer remaja Dampingi Keluarga Disabilitas di Wilayah Ini

Melalui Youth Mental Health Summit 2026, SHINE berharap gerakan volunteerisme remaja dapat terus berkembang dan menjadi langkah nyata dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, sehat secara mental, dan saling menguatkan satu sama lain.(foto/ist)

Yogyakarta, Proliman News – Pemerintah Kota Yogyakarta Dukung 130 Volunteer Remaja untuk Dampingi Keluarga Disabilitas Yogyakarta — Youth Mental Health Summit 2026 yang berlangsung pada 16 Mei 2026 di PDIN Pusat Industri Nasional Yogyakarta menghadirkan semangat baru gerakan anak muda dalam isu kesehatan mental dan inklusi sosial.

Melalui program SHINE (Spirit of Hope, Inclusion, and Nurturing Equality), ratusan pelajar SMP dan SMA dipersiapkan menjadi volunteer pendamping bagi keluarga penyandang disabilitas.

Komunitas SHINE yang diinisiasi oleh para pelajar SMA Masa Depan ini dengan dukungan Disdikpora DIY dan Forum Komunikasi Pengurus OSIS DIY diperluas dan dibuka untuk seluruh remaja SMP SMA DIY.

Tentu saja kegiatan ini terlahir atas kerjasama erat dengan, Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP). Kegiatan ini juga disupervisi oleh Center for Public Mental Health Universitas Gadjah Mada (CPMH UGM) karena permintaan WKCP ke Fakultas Psikologi UGM untuk mendapatkan dukungan Psikologis kepada keluarga-keluarga penyandang

disabilitas.

Volunteering remaja menjadi gerakan strategis yang diyakini sustain dan sesuai dengan misi CPMH untuk memperkuat sistem kesehatan mental Bangsa.

Acara ini secara resmi dibuka dan didukung oleh Pemerintah Kota Yogyakarta. Wali Kota Yogyakarta yang berhalangan hadir diwakili oleh dr. Lana Unwanah untuk meresmikan rangkaian Youth Mental Health Summit 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Walikota menyampaikan dukungan Pemerintah Kota Yogyakarta terhadap gerakan anak muda yang berfokus pada kesehatan mental dan pemberdayaan keluarga penyandang disabilitas.

BACA JUGA  Ketua DPD PAN Kulon Progo Muhatrom Asrori: Kita Tidak Bisa Menghapus Kemiskininan dengan Cara Apapun !

Youth Mental Health Summit 2026 terdiri dari tiga rangkaian program, yaitu SHINE (Spirit of Hope, Inclusion, and Nurturing Equality), Pelatihan Peer Counsellor se-DIY, dan AMSAC (Adolescent Mental Stability Advocation Campaign).

Di antara ketiga program tersebut, SHINE hadir sebagai gerakan yang berfokus pada pemberdayaan keluarga penyandang disabilitas, pembangunan lingkungan inklusif, serta penguatan kesehatan mental keluarga melalui gerakan volunteerisme remaja.

Dalam pelaksanaannya, SHINE berkolaborasi bersama WKCP yang turut menghadirkan keluarga penyandang cerebral palsy, pendamping, serta narasumber inspiratif dalam kegiatan tersebut.

Kolaborasi ini juga mendapat dukungan dari CPMH UGM sebagai bentuk sinergi bersama dalam mendukung kesehatan mental keluarga penyandang disabilitas.

Dalam sesi talkshow, para orang tua dari anak penyandang cerebral palsy turut membagikan kisah perjuangan mereka dalam mendampingi anak-anak bertumbuh di tengah stigma sosial, tekanan lingkungan, hingga tantangan emosional yang mereka hadapi setiap harinya.

Suasana hangat dan penuh haru terasa ketika peserta mendengarkan langsung cerita perjuangan para keluarga yang selama ini berjuang dalam diam.

Acara ini juga menghadirkan narasumber inspiratif, di antaranya Ibu Safrina, seorang guru penyandang cerebral palsy yang berhasil menyelesaikan pendidikan hingga jenjang S2, serta Andika yang telah menempuh pendidikan S1, yang meski harus merangkak menaiki panggung, namun ceritanya sangat memukau peserta.

Kehadiran keduanya menjadi simbol bahwa keterbatasan tidak pernah menghalangi seseorang untuk terus bertumbuh, belajar, dan memberi manfaat bagi banyak orang.

BACA JUGA  Muktamar ke-35 NU Menghangat: Gus Yahya, Gus Kikin, dan Gus Yusuf Siap Bertarung di Bursa Ketum PBNU

Melalui program SHINE, sebanyak 130 volunteer remaja resmi dipersiapkan untuk mendampingi keluarga penyandang disabilitas. Hingga saat ini, lebih dari 300 keluarga telah tergabung dalam jaringan pendampingan bersama WKCP dan para relawan.

Kehadiran volunteer muda dinilai menjadi langkah penting dalam menghadirkan dukungan emosional, ruang aman, dan harapan baru bagi keluarga penyandang disabilitas.

Di akhir kegiatan, Diana Setiyawati, Ph.D. Psikolog, selaku Ketua CPMH UGM secara resmi melantik para volunteer sebagai bagian dari gerakan kepedulian kesehatan mental dan inklusi sosial bagi masyarakat.

Dalam sesi temu bersama core team SHINE, Kamil Ramadhan menyampaikan bahwa SHINE dibentuk untuk membangun lingkungan yang lebih inklusif serta menumbuhkan empati dan kepekaan sosial di tengah generasi muda.

“Kami ingin menunjukkan bahwa anak muda juga bisa bergerak dan memberi dampak nyata. Harapannya, SHINE bisa terus bertumbuh menjadi komunitas besar bagi isu disabilitas dan kesehatan mental keluarga penyandang disabilitas,” katanya.

Sementara itu, Raisa Syahira menambahkan bahwa banyak keluarga penyandang disabilitas yang sebenarnya sedang berjuang secara mental dan emosional akibat tekanan sosial maupun lingkungan sekitar.

“Dalam kegiatan ini kami membawa keluarga-keluarga yang sebelumnya pernah kami damping bersama WKCP. Karena itu SHINE hadir bukan hanya untuk anak-anak disabilitas, tetapi juga untuk menjadi ruang dukungan dan penguatan emosional bagi keluarganya,” lanjutnya.

Melalui Youth Mental Health Summit 2026, SHINE berharap gerakan volunteerisme remaja dapat terus berkembang dan menjadi langkah nyata dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, sehat secara mental, dan saling menguatkan satu sama lain.

BACA JUGA  Pabrik Rokok HS Membuka Lowongan Kerja bagi Difabel, Bos Suryo: Berapapun Jumlahnya Saya Terima !

Liputan : W Maryanti

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *