Makin Banyak Warganet Memberi Dukungan Demo Pembebasan Botok dan Teguh, Tuduhan Keterlaluan !

Unggahan sejumlah warganet di berbagai media sosial menyimpulkan tuduhan ini terlalu dibuat-buat dan sangat tidak relevan.(foto/ist)

Pati, Proliman News – Dua pentolan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) Supriyono Botok dan Teguh Istiyanto diringkus polisi dengan tuduhan menganggu keertiban karena meblokir Jalan Pantura.

Unggahan sejumlah warganet di berbagai media sosial menyimpulkan tuduhan ini terlalu dibuat-buat dan sangat tidak relevan.

Maka beberapa warganet mengajak untuk seluruh pendukung Botok dan Teguh untuk melakukan demo besar pembebasan keduanya di markas polisi.

“Sangat dipahami, perlu ada koordinasi yang baik dan rapi,” tulis seorang warganet.

Di sisi lain banyak warganet yang terus memberi dukungan kepada keduanya dan menyampaikan ucapan terimakasih atas perjuangannya.

“Matursuwun Mas bBotok Cs kagem perjuangane njenengan. Senajan njenengan gak berhasil menurunkan Bupati Sudewo nek njenengan tetep pahlawan saat ini untuk jadi sejarah di kemudian hari.Tanpa perjuangane njenengan cs Mas Botok, mungkin saat ini PBB akan tetap naik 250%++.

Dan kami para pelaku UMKM pun akan terbebani dengan pajak di tengah sulitnya ekonomi saat ini. Gak ada perjuangan yang sia-sia Mas Notok. Anda cs tetep pemenang. Aku warga PATI bangga terhadap anda cs karna perjuangan dan empati anda cs terhadap kami masyarakat kecil,” tulisnya.

Di halaman lain di sebuah media sosial, seorang warganet memberi laporan kondisi terakhir Botok di Polresta pati.

“Potret Terakhir Sang Pejuang: Mas Botok..!”

Foto terakhir Mas Botok, diambil pada Jumat dini hari, 31 Oktober 2025 pukul 02.30 di Polresta Pati, sebelum beliau dibawa ke Polda Jateng.

BACA JUGA  Jajaran Polsek Mojotengah Wonosobo Menyapa Warga Korban Puting Beliung dan Salurkan Bantuan

Sebuah potret yang bukan sekadar gambar, melainkan saksi bisu perjuangan dan keberanian seorang rakyat kecil yang tak gentar bersuara demi keadilan.

Melihat wajahnya di foto itu  lelah, namun tegar  hati ini terasa terenyuh.

Ada ketulusan yang tak bisa disembunyikan, ada keberanian yang tak semua orang sanggupi.

Di balik segala keterbatasan, Mas Botok membuktikan bahwa cinta tanah air bukan sekadar kata-kata: “NKRI harga mati” bukan slogan, tetapi napas perjuangan yang ia hidupkan sampai titik akhir.

Harkat dan martabatnya sebagai anak bangsa telah ia jaga dengan penuh kehormatan.

Ia memilih jalan yang berat  jalan kebenaran. Dan di sanalah ia berdiri, menanggung resiko demi keyakinan bahwa rakyat tak boleh diam saat keadilan diperlakukan semena-mena.

Semoga Mas Botok dan Pak Teguh diberi kekuatan dan keadilan dalam proses hukum yang mereka hadapi.

Dan semoga kisah ini menjadi cermin bagi kita semua   bahwa perjuangan menegakkan kebenaran tak selalu berakhir dengan tepuk tangan, tetapi selalu berharga di hadapan Tuhan dan sejarah.

Liputan : Andy Nursahbani

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *