Kulon Progo, Proliman News – Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Kulon Progo baru saja meluncurkan dua program spektakuler yakni Sigra Mentas dan Sambang Rowang.
Dua program ini diharapkan mampu menjadi senjata ampuh membedah kantong-kantong kemiskinan yang masih melilit sejumlah wilayah di Kabupaten Kulon Progo.
“Kita akan melakukan pendampingan dan pelatihan untuk kalurahan-kalurahan miskin agar memiliki kesenian bernilai jual, payu didol ( laku dijual) dengan standar kualitas industri budaya,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo Joko Mursito, Kamis ( 27/11/2025).
Kabupaten Kulon Progo pernah memiliki sejarah bangkit dan hidupnya sebuah kesenian lokal yang akhirnya mampu membangun perekonomian banyak warga yang terlibat, yakni kesenian Angguk.
“Angguk itu kesenian yang semula hampir punah, lalu dihidupkan dengan berbagai sentuhan dan akhirnya bisa menjadi kesenian layak jual dengan harga standar industry kebudayaan,” tambahnya.
Nah melalui dua program ini Dinas kebudayaan akan lebih membangkitkan kembali kesenian yang hampir punah atau yang sudah punah menjadi kesenian kekinian yang mengikuti perkembangan zaman.
“Ini program yang digadang-gadang bisa berdampak pada 2 hal, yakni setiap kalurahan memiliki kesenian yang layak jual dan bisa menjadi senjata membedah kemiskinan karena laku dijual, serta memiliki kontrak yang panjang dengan berbagai lembaga utamanya Pemerintah Kulon Progo,” katanya.
Joko Mursito mengatakan, sebagaimana maknanya, Sigra Mèntas berarti Segera Bangkit atau Segera Tampil. Maka akan segera dilakukan Pendampingan dan Pelatihan untuk kalurahan miskin agar memiliki kesenian bernilai jual dengan standar kualitas industri budaya.
Dengan begitu Program Sigra Mentas bisa membantu menggeliatkan ekonomi karena lahirnya seni budaya yang berkualitas setelah dilakukannya pendampingan, pelatihan, pembinaan dan pengembangan.
“Targetnya laku jual,” ujar Joko Mursito melalui saluran telpon pribadi.
Sigra Mentas nantinya juga akan menyentuh sektor ekonomi kreatif (ekraf) yakni mampu menumbuhkan sentra-sentra indurtri alat kesenian seperti Jaran Kepang, Topeng, Kostum Tari, dan lain-lain.
“Sasarannya tahun ini kita akan membangkitkan seni Rodhatan di Tirtorahayu, Galur, Kulon Progo dan seni Bangilun di Gerbosari, Samigaluh, Kulon Progo,” tambah Joko Mursito.
Sementara Program Sambang Rowang yang berarti mengunjungi saudara atau tilik sedulur teman kanan kiri lebih ke ngaruhke kesenian-kesenian daerah yang hampir punah atau malah sudah punah untuk digairahkan kembali dengan sentuhan kreatifitas tanpa meninggalkan nilai-nilai keasliannya.
Melalui program ini diharapkan tergali, terlestarikan dan terbinanya kembali kesenian-kesenian yang hampir punah di berbagai wilayah.
Joko Mursito mengatakan, jika selama ini program-program kebudayaan “terkesan” bagito atau bagi roto, maka dalam program ini Dinas Kebudayaan ingin ada prioritas dan penguatan dan memiliki dampak ekonomi berkelanjutan.
“Agar lebih visioner kami mencoba menyisir daerah-daerah miskin (sesuai data BPS) untuk menciptakan ruang-ruang ekspresi yang lebih kemedol (marketable),” katanya lebih lanjut.
Kalau Sambang Rowang bertujuan ingin mengulang kejayaan Angguk yang dahulunya kesenian biasa lalu dibina menjadi luar biasa maka Sigra Mentas bertujuan membangun pisau baru membedah kemiskinan.
“Seberapa yakin kedua program ini akan sukses mengangkat kemiskinan, kita akan evaluasi setelah ini. Dan tentu berharap ada lanjutannya. Karena keberhasilan program ini ditentukan dari berbagai sisi,” paparnya.
Termasuk dukungan Pemerintah Kalurahan yang diharapkan ketika kesenian ini sudah jadi, maka ada kesepakatan untuk menampilkannya pada acara-acara tertentu sebelum menjatuhkan pilihan tampilan yang lain atau bahkan nanggap kesenian dari luar.
Liputan : Suyono Sugondo



