Jakarta, Proliman News – Bendera GAM terus berkibar di berbagai penjuru Aceh saat negeri ini sedang kesusahan akibat dilanda bencana banjir dan longsor.
Media sosial pun riuh dengan unggaha aksi pengibaran bendera GAM yang dilakukan sebagian rakyat Aceh diikuti teriakan pekik merdeka bertalu-talu.
Sejumlah netizen menilai, rakyat Aceh ternyata lebih politisi dibanding para politisi yang sering mereka kecam memanfaatkan situasi bencana untuk kampanye pencitraan.
Mereka memanfaatkan situasi susah, dimana seluruh wartawan nasional dan asing berkumpul di Aceh meliput akibat bencana banjir dan longsor untuk tampil mencari perhatian.
“GAM memanfaatkan wartawan asing yang meliput dampak banjir besar yang melanda wilayah ini sebagai momen Kedaulatan Bangsa Aceh!” tulis seorang netizen dalam unggahannya.
Sejumlah warga Aceh yang terlihat masih melangsungkan upaya memisahkan diri dari Indonesia juga terus menumbar statemen.
“Sekarang adalah waktunya yang tepat. Para wartawan asing sedang meliput banjir di Aceh dan perhatian dunia sebagai sedang tertuju ke sini,” tulis netizen warga Aceh.
Ini bisa menjadi momentum bagi rakyat Aceh untuk mendapatkan dukungan internasional sekaligus menunjukkan kemampuan untuk bangkit dan berdiri di atas kaki sendiri.
“Inilah Aceh, kesepakatan untuk kemerdekaan,” tulisnya lebih lanjut.
Dibagian lain seorang netizen mengatakan bahwa di tengah bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, perhatian dunia kini tertuju ke provinsi paling barat Indonesia ini.
Sejumlah wartawan asing yang sedang meliput kondisi darurat itu turut menyaksikan bagaimana masyarakat berjuang menghadapi dampak bencana yang terjadi sejak beberapa hari terakhir.
Namun di tengah situasi krisis tersebut, sebuah rekaman pernyataan dari sekelompok masyarakat Aceh beredar di media sosial.
Bahwasanya Aceh satu-satunya untuk meliput berita di Aceh hanyalah merdeka, hidup dan mati. Aceh tetap merdeka !
Tidak hilangnya rakyat Aceh untuk merdeka. Walaupun mati dijajah tetap merdeka.
Rakyat Aceh mengibarkan bendera bola bintang tengah kebanjiran dan longsor di Aceh longsor.
Dalam rekaman video yang beredar di mana –mana mereka menyampaikan bahwa kehadiran wartawan internasional dianggap sebagai momentum untuk menunjukkan martabat serta eksistensi Aceh di mata dunia.
Mereka juga menyebut bahwa perhatian global terhadap Aceh dinilai sebagai kesempatan untuk memperoleh dukungan internasional.
Dalam pernyataan tersebut, kelompok itu menegaskan kembali aspirasi mengenai identitas dan masa depan Aceh.
Mereka mengklaim bahwa Aceh harus mampu berdiri di atas kaki sendiri dan mempertahankan apa yang mereka sebut sebagai martabat Aceh.
Mereka juga mengekspresikan keyakinan bahwa semangat kemerdekaan tidak akan hilang meski wilayah mereka tengah dilanda bencana.
Dalam rekaman yang sama terlihat beberapa warga mengibarkan bendera yang dikenal sebagai simbol gerakan separatis di Aceh.
Mereka menyebut bendera tersebut sebagai simbol sejarah dan identitas.
Meskipun pemerintah Indonesia menegaskan bahwa bendera itu dikategorikan sebagai lambang kelompok separatis dan tidak sah digunakan dalam konteks negara.
Pernyataan yang direkam itu juga memuat ajakan kepada masyarakat Aceh untuk tetap mempertahankan identitas, bahasa, dan keyakinan mereka.
Mereka menyampaikan bahwa aspirasi tersebut tidak berkaitan dengan negara lain, namun lebih pada apa yang mereka sebut sebagai urusan bangsa Aceh sendiri.
Di sisi lain, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah Aceh hingga saat ini belum memberikan komentar resmi terkait beredarnya pernyataan tersebut.
Fokus utama pemerintah saat ini masih tertuju pada upaya penanganan darurat, evakuasi warga, dan pemulihan wilayah terdampak bencana.
Sementara itu, situasi di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak warga yang membutuhkan bantuan akibat banjir dan longsor yang melanda sejumlah kabupaten.
Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat terus bekerja mengevakuasi korban, menyalurkan logistik, serta memulihkan akses yang terputus.
Bencana yang terjadi bersamaan dengan munculnya rekaman pernyataan tersebut menjadi perhatian banyak pihak, terutama karena menyangkut aspek sosial, politik, serta keamanan di wilayah Aceh.
Hingga kini aparat masih memantau situasi dan memastikan bahwa penanganan bencana tetap menjadi prioritas utama di tengah dinamika yang berkembang di masyarakat!!.
Bikin miris melihat kenyataan ini. Tetapi begitulah adanya, tidak bisa ditutup-tutupi, masih ada yang ingin merdeka !
Liputan : Suyono Sugondo



