Agung Setyawan: Bawang Merah Potensial Didorong Menjadi Komoditi Andalan Kedua Kulon Progo

Sejumlah penelitian menunjukkan bawang merah ternyata sangat bagus dikembangkan di kawasan lahan tandus, lahan batuan kapur seperti di kawasan Perbukitan Menoreh, dan Lendah Kulon Progo.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Bawang merah ternyata potensial untuk didorong menjadi komoditi andalan kedua Kabupaten Kulon Progo setelah cabai.

Selain pasarnya bagus, di Kulon Progo masih banyak lahan yang bisa digarap untuk pengembangan bawang merah.

Demikian terang Calon Bupati Kulon Progo Nomor Urut 1, Agung Setyawan, saat diksusi tentang produksi pangan, dan komoditas andalan Kulon Progo ke depan, Jumat (11/10/2024).

Agung Setyawan memaparkan, kenapa bawang merah potensial jadi andalan komoditi Kulon Progo, karena ternyata bawang merah tidak hanya bagus dilahan sawah atau kawasan pantai.

Sejumlah penelitian menunjukkan bawang merah ternyata sangat bagus dikembangkan di kawasan lahan tandus, lahan batuan kapur seperti di kawasan Perbukitan Menoreh, dan Lendah Kulon Progo.

“Penelitian Fakultas Pertanian Universitas Jember, itu menarik. Lahan kapur, lahan batuan kapur tandus di perbukitan itu dengan perlakuan khusus bagus untuk bawang merah,” ujarnya.

Penelitian lembaga tersebut, cukup detail lanjut Agung Setyawan. Karena telah menganalisa tanah meliputi C-Organik, PH, NPK Tanah, kadar air tanah hingga unsur organik dalam tanah, komposisi Pupuk, tata cara budidaya sampai ke analisa usaha tani dan strategi pengembangannya.

Maka menurutnya tidak perlu pesimis tentang masa depan produksi pangan di Kulon Progo.

Semua pihak harus memperkaya referensi dan berani melakukan terobosan untuk Kulon Progo berkemajuan, agar mencapai kondisi turah sandang turah pangan, turah papan.

BACA JUGA  Gandeng BAZNAS Kulon Progo, SDIT Muadz bin Jabal Gelar Bakti Sosial di Girimulyo

“Kalau sekarang produksi bawang merah sudah mencapai hampir 9.000 ton dengan areal lahan hampir 8000 hektare, maka ke depan bisa dikembangkan lebih luas lagi,” ungkapnya.

Bukan hal mustahil, dengan kerja cerdas kedepan Kulon Progo layak didorong menjadi sentra produksi bawang merah terbesar di DIY.

Apalagi sekarang selain Srikayangan Sentolo sejumlah wilayah juga sudah mulai mengembangkan budidaya bawang merah.

Panjatan, Lendah, Wates juga mengembangkan bawang merah di lahan sawah tadah hujan, lalu di Galur di lahan sawah dan pantai.

“Maka dengan teknologi maju, semua lahan di perbukitan nantinya juga bisa dikembangkan sebagai areal intensifikasi bawang merah. Termasuk teknologi sederhana seperti hidroponik dan lahan pangan di kebun yang kini sedang digencarkan,”katanya.

Agung Setyawan mengungkapkan, dibanding lima tahun lalu kini budidaya bawang merah sudah jauh berkembang. Namun masih potensial untuk digenjot lebih optimal.

Dengan perencanaan sektor pertanian demikian detail, tentu harapannya akan lebih mensejahterakan masyarakat yang berbasis petani.

Bukan hanya luasannya yang ditambah, tetapi juga produktifitas dan kualitas produksinya yang perlu ditangani secara serius, agar bisa menaikkan kelas harga dan segmen pasarnya.

Kalau tahun  2019 produksi bawang merah di Kabupaten Kulon Progo itu baru mencapai 6.135 ton dengan luas areal tanam seluas 616 hektare, sekarang memang sudah mencapai hampir 9.000 ton dengan areal hampir 8.000 hektar, jelasnya.

BACA JUGA  Pengamat : Kasus BUKP Galur Bisa Berakibat Rush Money atau Penarikan Dana Besar-besaran di Semua BUKP

“Tetapi saya lihat masih bisa dikembangkan. Potensinya ada, baik di sisi lahan maupun produktifitasnya. Hanya butuh sentuhan teknologi, termasuk tata kelola irigasinya juga butuh dibehani,” pungkasnya.

Liputan : Bagus Aryo Wicaksono

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *