Dikawasan Jembatan Kabanaran Banyak Orang Datang dan Bicara Seks Bebas Kemiskinan Hingga Tata Negara

Tindak kejahatan semakin marak di kawasan Jembatan Kabanaran, Galur, Kulon Progo.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Seorang warganet dengan @Eko Eswe menuliskan peristiwa penjambretan yang terjadi di kawasan Jembatan Kabanaran, Sabtu (11/4/2026) pagi tadi.

Ada beberapa narasi yang menarik dari tulisan warganet ini terkait maraknya kejahatan di wilayah ini dan kemiskinan yang kian mencekam masyarakat.

Benarkah kejahatan terjadi karena perekonomian mampat dan lahan penghidupan masyuarakat makin seret ?

“Ada penjambret HP tertangkap warga pagi ini, Sabtu (11/4/2026). Jambret beraksi di JJLS, (barat Jembatan Kabanaran, red)  HP seorang warga yang sedang bersepeda direbut seorang pemotor, “ tulisnya.

Pemilik HP mengejar, mempertahankan haknya, dibantu warga menangkap pelaku, kejar-kejaran terjadi, dua motor rubuh, pelaku digiring ke rumah Pak Dukuh, dikerubuti banyak orang.

Setelah dipukuli beramai-ramai, (lalu) diperiksa bawaannya, sambil mencari barang bukti, ditemukan kul buntet sebagai aji-aji.

“Masyarakat marah melihat hal buruk yang dia lakukan, salah satu menelpon Babhin (Polisi), warga seperti punya demdam untuk dialampiaskan karena marah, penjambret dipukuli, anak-anak melihat kekerasan, peristiwa hukum terjadi, pelaku berusaha membuang barang bukti, masyarakat berkerumun, polisi datang, pelaku dibawa ke kantor polisi,” lanjutnya.

Ada satu kebohongan yang diulang terus menerus sampai terdengar seperti kebenaran, bahwa orang miskin itu malas, bahwa mereka gagal karena kurang kerja keras, bahwa nasib adalah soal pilihan individu, padahal realitanya tidak sesederhana itu.

BACA JUGA  Berbagai Masalah Membayangi BUKP DIY Semua Instansi Terkait Belum Bisa Diajak Berlari Terkait Badan Hukum

Kemiskinan, adalah jebakan struktural, kadang miskin adalah salahnya kebijakan, sebuah sistem yang secara perlahan nyaris tidak terlihat mengunci orang dalam kungkungan yang sulit ditembus, ia bukan sekedar kekurangan uang, Tapi kekurangan akses untuk bermimpi lebih jauh, melampaui kemiskinan nya hari ini.

Membaca tulisan Eko Eswe ini layak untuk dikaji bersama kenapa akhir-akhir ini kawasan Jembatan Kabanaran menjadi ajang kejahatan?

Apakah pencuri yang membobol warung mengambil tabung gas 3 kilogram atau pencuri yang membobol warung dan mengambil peranhkat karaoke, benar-benar tidak bisa makan atau show of force unjuk kebolehan menggaduhkan lingkungan?

Atau ini merupakan teknik para penggerak di negeri ini untuk menjajal seperti apa sikap masyarakat di lingkungan ini terhadap gangguan kamtibmas ?

Atau apa sebenarnya isi kepala seorang pencuri mengangkut kotak amal yang terbuat dari besi di dalam Masjid Zainul Ihksan di barat Jembatan Kabanaran ?

Benarkan kejahatan marak karena kemiskinan atau karena ada skenario lain dari kelompok-kelompok tertentu untuk membuat sebuah fragmen unik tentang tata sosial ?

Sayangnya masyarakat di wilayah ini seolah cuek dan hanya sedikit orang yang membahas tentang kondisi seperti ini.

Bahkan setelah beberapa saat, katakan, 2 x 24 jam hilang sudah tema kejahatan dan kemiskinan serta tatanan sosial yang sedang berubah di wilayah ini.

Atau mereka benar-benar tidak tahu bahwa setiap malam banyak orang dari berbagai wilayah datang ke Kawasan Jembatan Kabanaran untuk bergerombol, untuk sendiri-sendiri, untuk bicara hal-hal yang tidak dipahami umum.

BACA JUGA  Banjir Merendam Perumahan Bumi Progo Sejahtera di Pengasih Kulon Progo, Begini Proses Evakuasinya

Mulai soal seks bebas, soal sulitnya mencari uang, soal tata kelola pemerintahan yang tidak meyakinkan, hingga hal-hal lain yang tidak lazim di telingan masyarakat kebanyakan.

Siapa mereka sebenarnya? Adakah kaitannya dengan maraknya pencurian, kejahatan, klithih yang kini mulai ada dan datang di Kawasan Jembatan Kabanaran ?

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *