Grobogan, Proliman News — Krisis air bersih akibat kemarau panjang melanda Desa Ketro, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Selama dua bulan terakhir, warga terpaksa mengonsumsi air dari kubangan sungai yang keruh dan berbau demi memenuhi kebutuhan harian mereka.
Berikut adalah narasi berita lengkap berdasarkan laporan tayangan Kompas TV Jawa Tengah:
Akibat mengeringnya sumber-sumber air utama, warga terpaksa mendatangi dasar sungai yang mengering dan mengeruk tanah untuk membuat cerukan. Air rembesan dari kubangan tersebut dikumpulkan meskipun kondisinya keruh serta mengeluarkan aroma tidak sedap.
Meski dibayangi risiko penyakit kulit dan gatal-gatal, warga mengaku tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan air kotor tersebut untuk keperluan memasak, mandi, hingga mencuci.
Di tengah krisis yang dialami, warga menyuarakan keluhannya terkait layanan sumur PAM/PAMSIMAS desa yang berhenti mengalir, padahal mereka mengaku tetap rutin membayar iuran bulanan.
Untuk mendapatkan air bersih, warga harus melalui perjuangan ekstra:
- Antrean Panjang: Warga harus mengantre selama 1 hingga 2 jam hanya untuk menunggu cerukan air terisi beberapa jerigen.
- Jarak Tempuh: Mereka harus bolak-balik hingga 6 kali menempuh jarak sekitar 2 kilometer demi mengangkut air.
- Persediaan Terbatas: Air yang diangkut dalam 3 jerigen biasanya langsung habis dalam sehari untuk kebutuhan satu keluarga.
Meski pemerintah daerah telah mendistribusikan bantuan air bersih ke lokasi, jumlah pasokan yang disalurkan dirasakan warga belum mencukupi kebutuhan harian masyarakat. Warga Desa Ketro sangat berharap adanya pasokan bantuan air bersih yang teratur dan rutin dari berbagai pihak agar mereka tidak lagi mengonsumsi air yang kotor dan tidak layak.
Liputan: Galang Andika Pratama



