Gedongkiwo Tampilkan Potensi Budaya dan UMKM Saat Sambut 17 Rombongan DPRD dari Berbagai Daerah

(Foto/Dok)

Yogyakarta, Prolimannews – Kampung Wisata Gedongkiwo menjadi etalase potensi budaya, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat saat menerima 17 rombongan tamu DPRD dari berbagai daerah di Indonesia di Pendopo Condronegaran, Selasa (30/6/2026).

Rombongan yang hadir berasal dari sejumlah daerah seperti Serang, Magelang, Lampung, Pekalongan, Labuhan Batu Utara, Sukabumi, Tulungagung, Sumbawa Barat, Pasuruan, Salatiga, hingga Kotawaringin. Kehadiran para tamu disambut alunan gamelan yang dimainkan anak-anak Gedongkiwo, menciptakan suasana khas budaya Yogyakarta.

Tidak hanya menikmati pertunjukan seni, para peserta kunjungan juga berkeliling melihat pameran potensi kawasan, berdialog dengan pelaku UMKM, membeli produk lokal, hingga mencoba memainkan gamelan yang tersedia di pendopo.

Ketua Komisi B DPRD Kota Yogyakarta, Mohammad Sofyan, mengatakan penerimaan tamu DPRD di kampung wisata merupakan bagian dari strategi memperluas persebaran destinasi wisata di Kota Yogyakarta.

“Kita ingin destinasi wisata tidak hanya berpusat di Malioboro, Keraton, dan Tamansari. Kampung-kampung wisata juga harus mendapatkan manfaat dari arus kunjungan wisata sehingga ekonomi masyarakat bisa ikut tumbuh,” ujarnya.

Menurut Sofyan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi pengelola kampung wisata untuk terus meningkatkan kualitas destinasi, baik dari sisi atraksi, fasilitas, maupun kesiapan menerima wisatawan.

“Semangat untuk terus berbenah semakin kuat. Kampung wisata memiliki harapan untuk menjadi tujuan kunjungan, sehingga mereka terus mempersiapkan diri dan meningkatkan kualitas kawasan,” katanya.

BACA JUGA  Demo di Senayan Ricuh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi Minta Polisi Penuh Kehati-hatian

Dalam kesempatan itu, Kelurahan Budaya SEKARNITI Gedongkiwo menampilkan berbagai produk unggulan, mulai dari kuliner tradisional, kerajinan, seni budaya, hingga inovasi pengolahan sampah berbasis ekonomi kreatif.

Salah satu produk yang menarik perhatian adalah Bakpia Niti Gurnito Tamansari. Produk tersebut diperkenalkan sebagai salah satu bakpia asli Yogyakarta yang keberadaannya belum banyak diketahui masyarakat.

“Ini merupakan bakpia asli Yogyakarta yang pertama kali ada, namun justru belum begitu dikenal. Tidak hanya wisatawan, masyarakat lokal pun belum tentu mengetahuinya,” kata pendamping UMKM kuliner, Epa Ramadona.

Selain produk kuliner, stan pengolahan sampah juga mendapat perhatian para tamu. Berbagai karya seni berupa wayang yang dibuat dari botol plastik bekas dipamerkan sebagai contoh praktik daur ulang yang memiliki nilai tambah ekonomi.

Perajin wayang daur ulang, Bayu Anggoro, mengatakan sampah plastik yang sebelumnya bernilai rendah dapat diolah menjadi produk kreatif dengan harga jual yang lebih tinggi.

“Botol plastik bekas yang biasanya hanya dihargai murah bisa diubah menjadi karya seni bernilai ekonomi. Bahkan satu wayang dapat dijual dengan harga lebih dari Rp100 ribu,” ungkapnya.

Ia berharap kunjungan para anggota DPRD dari berbagai daerah dapat menjadi media edukasi tentang pentingnya pengelolaan sampah melalui pendekatan ekonomi kreatif.

“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah tidak selalu menjadi masalah. Jika dikelola dengan kreativitas, sampah justru bisa menjadi sumber manfaat sekaligus penghasilan bagi masyarakat,” jelas Bayu.

BACA JUGA  Surprise ! Presiden Prabowo Pamerkan Maung Garuda Mobil Keren Buatan PT Pindad di Momen Special

Apresiasi terhadap konsep penerimaan tamu di kampung wisata juga disampaikan anggota DPRD Serang, Ahmad Mujimi. Menurutnya, pengelolaan sampah menjadi produk seni merupakan inovasi yang layak direplikasi di berbagai daerah.

“Persoalan sampah dihadapi hampir seluruh daerah di Indonesia. Inovasi seperti ini sangat baik karena mampu menggabungkan aspek lingkungan dengan peningkatan nilai ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Kunjungan tersebut juga diramaikan dengan pameran buku budaya Jawa melalui Pustaka Jawi yang dikelola Kelurahan Budaya Gedongkiwo. Koleksi literasi budaya, bahasa Jawa, dan aksara Jawa diperkenalkan kepada para tamu sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.

Ketua Kelurahan Budaya Gedongkiwo, Tulus Widodo, berharap kegiatan tersebut dapat memperluas pemahaman masyarakat tentang budaya Jawa sekaligus mendorong daerah lain untuk mengembangkan identitas budayanya masing-masing.

“Harapannya semakin banyak masyarakat mengenal budaya Jawa dan terdorong untuk melestarikan budaya lokal yang dimiliki di daerah masing-masing,” katanya.

Gedongkiwo sendiri memiliki beragam potensi yang terus dikembangkan, mulai dari wastra, kriya, batik, ecoprint, kuliner, pengolahan sampah, seni gamelan, jemparingan, hingga literasi budaya melalui pengenalan bahasa dan aksara Jawa.

Liputan: Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *