Kulon Progo, Proliman News – Bangun jalanmu, bikin padang njiglag (terang benderang) lingkungannya agar ekonomi meningkat hidup rakyat sejahtera.
“Mulai dari sini saja cara mikirnya. Tidak perlu dengan teori muluk-muluk. Kalau sore, malam, hujan riwis, naik sepeda atau naik motor tanpa lampu masuk daerah Banaran, Kranggan Tengah, atau Jalan Raya Dendeles sepanjang Kapanewon Galur, isine gur urip po mati (selamat tidak selamat, red) modyar sampean,” ujar Sutrisno Warga Banaran Galur Kulon Progo.
Kalau jalan bosok, lampu jalan tidak ada, hidup seperti nungsep (terjungkal, red), rezeki seret otak tidak encer, maka pastikan masyarakat tidak sejahtera.
Ini yang membuat wilayah ini masyarakatnya tidak maju-maju, lemah dan menjadi warga negara yang terasing di negerinya sendiri. Atau memang kondisi ini dipelihara ? Oleh siapa ?
Begitu sindir Sutrisno kepada pengelola pemerintahan tentang buruknya kondisi jalan dan sosial di wilayahnya.
“Dalam kondisi seperti itu, apa yang dilakukan, diam sembari berpikir jahat, atau diam stress dan lama-lama gila,” ujar Sutikno warga Kranggan, Galur, Kulon Progo.
Kondisi seperti ini sudah berlangsung lebih dari 10 tahun. Ada jalan yang baru 7 tahun lalu rusak dan tidak diperbaiki sampai sekarang.
Tetapi ada jalan yang sudah lebih dari 15 tahun tidak diperbaiki dinisrkan seperti jalur lahar dingin Gunung Merapi, batu-batu besar, penuh lubang dan di kiri kanannya pemukiman padat penduduk. Bisa dibayangkan?
“Ini hal-hal sepele yang kelihatan jelas di depan mata. Tetapi ini tidak tersentuh. Beberapa tahun Kabupaten Kulon Progo hanya dipimpin pejabat sementara, lalu sekarang ini punya bupati-wakil bupati hasil Pilkada 2024. Ini fakta yang bisa kami sampaikan,” ujar Kuncoro Warga Brosot Galur Kulon Progo.
Dialog diatas merupakan potongan wawancara dengan sejumlah nara sumber, terutama rakyat warga Kapanewon Galur Kulon Progo sebagai bagian dari reportase panjang yang dilakukan Tim Reporter Proliman News selama satu minggu terakhir dengan tema : Memotret Kondisi Jalan Rusak.
Dari hasil reportase tersebut banyak aspek yang akhirnya bisa ditulis mulai dari aspek sosial, ekonomi dan psikologis atau kejiawaan dari kondisi jalan yang hanvcur bertahun-tahun tapa perhatian pemerintah ini.
“Kami akan sajikan hasil reportase tersebut dalam beberapa segmen, yang akan dimulai hari ini dengan intro, cuplikan wawancara ini,” ujar reporter Proliman News, Reynaldi Dwi Maulidy yang kini bermukim di Bantul.***



