Jembatan Apung Pajangan Bantul – Lendah Kulon Progo Tunjukkan Kehebatan Warga Saat Kepepet !

Jembatan hasil jerih payah warga ini dinilai pemerintah tidak aman dan tidak berizin. Sehingga harus dibongkar demi keselamatan.(foto/ist)

Bantul, Proliman News – Beroperasinya jembatan apung di Padukuhan Kamijoro, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) viral di emdia sosial.

Jembatan apung ini dibangun oleh tiga pengusaha lokal dengan material kayu dan drum bekas yang melintang di atas derasnya aliran Sungai Progo.

Meski sederhana, keberadaan jembatan ini menjadi harapan baru bagi warga yang tinggal di dua kabupaten, yakni Bantul dan Kulon Progo.

Karena sejak beroperasi hembatan ini warga langusung melintasi baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Jembatan apung sepanjang 30 meter ini dibangun secara swadaya oleh warga.

Sugiman (50), warga Temben, Ngentakrejo, Kulon Progo, salkah satu penggagas jembatan ini menjelaskan bahwa ide pembangunan jembatan bermula dari kebutuhan distribusi tahu yang ia produksi.

“Tujuan kami supaya lebih mudah dan cepat saat distribusi tahu. Lebih hemat biaya juga, karena biasanya harus memutar hingga 1 jam perjalanan, untuk mencapai Bantul dan Yogyakarta,” ujar Sugiman, Rabu (20/8/2025).

Pembuatan jembatan ini memakan waktu sekitar 2 bulan dengan biaya Rp 150 juta yang dikumpulkan secara patungan.

Meski menelan biaya besar, Sugiman menyadari risiko jembatan tersebut jika suatu saat diterjang banjir pasti hanyut.

“Kalau banjir besar datang, ya pasrah saja. Harapan kami, pemerintah bisa membangunkan jembatan permanen yang lebih layak,” tambahnya.

Keberadaan jembatan ini juga mendapat respons positif dari warga Pajangan Bantul.

BACA JUGA  Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto Kerahkan Hampir 38.000 Personil ke Lokasi Bencana Sumatera - Aceh

Sarono seorang pedagang asal Pajangan, Bantul, yang kerap melintasi jembatan dengan mobil pikap, mengaku sangat terbantu.

“Jarak jadi lebih dekat, bisa mengejar setoran. Jembatan ini kuat dan aman dilalui,” katanya kepada BeritaSatu.

Secara teknis, jembatan apung ini menggunakan rangka besi dan bilah kayu setebal 2 sentimeter sebagai alas dan pagar.

Drum plastik bekas difungsikan sebagai penopang agar jembatan tetap mengapung.

Untuk memperkuat konstruksi, jembatan diikat dengan enam seling baja sehingga mampu menahan beban hingga 1,5 ton.

Jembatan darurat ini menjadi bukti ketangguhan warga di dua kabupaten tersebut dalam menghadapi tantangan Sungai Progo sekaligus mendukung akses perekonomian masyarakat.

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *