Yogyakarta, Proliman News – Rangkaian Ruang Masyarakat Ketemu (RUMAKET) 2026 “Hageganti” memasuki hari ketiga pada Selasa (6/10/2026) di Taman Pintar Yogyakarta. Mengangkat tema dolanan anak, berbagai kegiatan dihadirkan untuk mendekatkan budaya kepada generasi muda melalui aktivitas yang menyenangkan dan dekat dengan keseharian.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pemutaran film animasi wayang “Jabang Tetuka” dan “Srikandi” di Science Theater. Kegiatan tersebut menghadirkan Ki Bayu Aji Nugraha sebagai narasumber dan Ki Naung Sunu Prasetyo sebagai moderator.
Melalui film animasi, cerita pewayangan dikemas dalam bentuk yang lebih dekat dengan generasi muda. Film tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan cerita dan nilai budaya yang terkandung dalam pewayangan.
Kegiatan dilanjutkan dengan Aktivasi Dolanan Anak bersama Sanggar Seni Argodumilah di Pythagoras Hall. Anak-anak diajak bermain dan berinteraksi secara langsung melalui permainan tradisional sebagai bagian dari kekayaan budaya yang perlu terus dikenalkan dan diwariskan.
Pada sore hari, Talkshow “Dolanan Anak: Bermain, Belajar, dan Berkarya” menghadirkan Lab. Sariswara Tamansiswa sebagai narasumber. Talkshow tersebut membahas dolanan anak sebagai ruang bermain, belajar, dan berkarya, sekaligus memperkenalkan berbagai lagu anak berbahasa Jawa yang dapat menjadi sarana belajar budaya dengan cara yang menyenangkan.
Rangkaian talkshow dilengkapi Sinau “Dolanan Anak”, yang mengajak peserta mengenal dan mencoba gerakan lagu dolanan secara langsung.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengatakan dolanan anak memiliki posisi penting dalam kehidupan budaya masyarakat Yogyakarta. Beragam permainan tradisional tidak hanya menawarkan kegembiraan, tetapi juga menyimpan pengetahuan dan nilai kehidupan yang diwariskan antargenerasi.
“Yogyakarta memiliki begitu banyak dolanan anak. Ada Cublak-Cublak Suweng, Ingkling, Soyang, Lepetan, Dhingklik Oglak-Aglik, Jethungan, Gamparan, hingga Ancak-Ancak Alis. Dolanan-dolanan tersebut bukan sekadar permainan masa lalu,” kata Yetti, Selasa (6/10/2026).
Menurut dia, di dalam dolanan anak terdapat cara masyarakat membangun relasi, mengenalkan aturan, mengajarkan kebersamaan, sekaligus menanamkan nilai-nilai sosial kepada generasi berikutnya. Karena itu, pelestarian dolanan anak tidak cukup hanya dengan mempertahankan nama atau bentuk permainannya.
“Ketika dolanan anak telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kota Yogyakarta, sesungguhnya yang kita jaga bukan hanya nama permainannya. Yang kita jaga adalah ingatan, pengetahuan, nilai, dan pengalaman budaya yang hidup di balik permainan tersebut,” ujar Yetti.
Melalui rangkaian hari ketiga, RUMAKET 2026 “Hageganti” menunjukkan bahwa budaya dapat hadir dalam berbagai bentuk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dolanan anak menjadi salah satu ruang untuk mengenalkan, menikmati, sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dekat dengan generasi masa kini.
Liputan: W Maryanti



