Luruskan Informasi, Motif Batik Binangun Kertaraharjo Tidak untuk Gantikan Geblek Renteng

Joko Mursito, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulon Progo.
Joko Mursito, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulon Progo.

Kulon Progo, Proliman News – Munculnya anggapan masyarakat bahwa motif batik Binangun Kertaraharjo menggantikan Geblek Renteng diluruskan oleh Ketua Asosiasi Batik Kulon Progo, Joko Mursito.

Ia menegaskan bahwa kedua motif tersebut memiliki posisi berbeda dan tidak saling meniadakan.

Joko Mursito, mengatakan sejak awal lahirnya motif baru tersebut sudah dinarasikan sebagai penambahan khazanah batik Kulon Progo, bukan pengganti motif yang telah lebih dulu ada.

“Perlu diluruskan, tidak ada kebijakan mengganti Geblek Renteng. Motif itu tetap menjadi identitas penting Kulon Progo. Binangun Kertaraharjo hadir sebagai penambahan, bukan penggantian,” kata Joko, Kamis (19/2/2026) malam di kediamannya Pengasih.

Ia menjelaskan, sejak awal kepengurusannya  tahun 2017, seluruh pengrajin, pelaku usaha, hingga penyedia bahan batik bersama-sama menyukseskan produksi massal Geblek Renteng untuk kebutuhan seragam pelajar dan pegawai.

Namun dalam perkembangannya, permintaan produksi massal motif tersebut mulai menurun. Dari situ muncul aspirasi para perajin agar lahir motif baru sebagai ruang garapan dan inovasi.

Menjawab aspirasi tersebut, Asosiasi Batik Kulon Progo menginisiasi kurasi desain batik baru dengan tema gunungan sebagai simbol pembangunan daerah.

Proses ini dilakukan tanpa lomba untuk efisiensi anggaran, dengan melibatkan akademisi, praktisi batik, dan unsur media sebagai kurator.

Dari proses tersebut, terpilih motif Binangun Kertaraharjo sebagai motif utama untuk penggunaan massal, sedangkan motif Songsong Agung Ambar Arum ditetapkan sebagai motif pendamping yang bersifat eksklusif.

BACA JUGA  Suharto Politisi dan Mantan Ketua DPD Golkar Masuk Bursa Calon Ketua Askab PSSI Kulon Progo

“Sejak awal sudah jelas, Binangun Kertaraharjo untuk menambah variasi batik daerah. Sedangkan Songsong Agung Ambar Arum untuk kebutuhan yang lebih eksklusif, bukan untuk massal,” ujar Joko.

Menurut dia, seluruh proses tersebut merupakan inisiatif komunitas perajin batik Kulon Progo sendiri, bukan kebijakan sepihak pemerintah.

“Asosiasi hanya memfasilitasi, menampung aspirasi perajin, dan mengkurasi agar lahir motif yang sesuai dengan identitas Kulonprogo,” kata dia.

Untuk memperkuat pemahaman publik, asosiasi juga telah melakukan sosialisasi melalui berbagai kegiatan, termasuk pergelaran fesyen di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang menampilkan perjalanan batik Kulon Progo dari masa ke masa, mulai dari Gringsing, Galaran, Geblek Renteng, hingga motif terbaru.

Joko berharap, dengan pelurusan informasi ini tidak lagi muncul anggapan bahwa motif baru menghapus motif lama.

“Yang ada adalah penambahan kekayaan batik Kulonprogo. Semakin banyak motif, semakin kuat identitas dan semakin luas ruang ekonomi bagi perajin,” katanya.

Liputan : Anung Marganto

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *