Kulon Progo, Proliman News – Manager Safety Angkasa Pura YIA Hari Harbiyanto, menyatakan bahwa Bandara YIA Kulon Progo itu dirancang special untuk menghadapi guncangan akibat gempa besar 8,8 magnitudo.
“Bangunan gedung terminal Bandara YIA ini dipersiapkan oleh banyak ahli sebagai bangunan bandara tahan menghadapi guncangan gempa 8,8 magnitudo,” ujarnya menanggapi hasil riset BRIN tentang adanya endapan tsunami 1.800 tahun di kawasan dekat Bandara YIA.
Dikatakan, bangunan gedung terminal Bandara YIA Kulon Progo adalah struktur bangunan skala mega pertama di Indonesia yang dirancang spesial.
Struktur bangunan tersebut dirancang untuk menghadapi guncangan akibat gempa besar 8,8 magnitudo karena posisinya ada di pertemuan lempeng Australia dan lempeng Asia, dengan jarak yang relatif dekat dan juga menghadapi bahaya berupa tsunami.
Bangunan ini juga dirancang dengan kekuatan yang dilebihkan agar tetap dapat difungsikan dengan baik setelah terjadi gempa.
Bahkan gedung terminal juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat evakuasi bencana tsunami atau emergency preparadness.
“Dengan demikian Bandara YIA, dipastikan aman,” ujar Hari Harbiyanto ketika dihubungi Jum’at (18/7/2025).
Menanggapi hasil riset BRIN tentang endapan tsunami 1.800 tahun di pantai selatan Kulon Progo tersebut, ahli geologi Ir. Heri Sutanta, M.Sc Ph.D mengatakan ada yang disebut acceptable risk atau tolerable risk.
“Ada potensi tsunami yang mungkin terjadi, entah kapan dan dengan ketinggian berapa. Tetapi itu tidak berarti bahwa wilayah rawan tsunami kemudian tidak bisa dimanfaatkan untuk pembangunan,” ujarnya.
Misalnya ada kemungkinan terjadi tsunami satu kali dalam periode 100 tahun ke depan, berarti ada waktu aman yang juga panjang.
Wilayah rawan tersebut tetap harus bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat, salah satunya melalui pembangunan bandara.
“Nah, penelitian tsunami itu masuk ke konteks untuk menyiapkan rencana mitigasinya. Misalnya bangunan pelindung harus seperti apa dengan ketinggian berapa. Berapa dan dimana temporary evacuation shelter perlu dibangun. Dimana jalur evakuasi perlu ditetapkan dan diperbaiki, dan sebagainya,” katanya.
Ia mengatakan, perlu diingat bahwa Bandara Ngurah Rai juga terletak di wilayah yang rawan tsunami
Sebelum dibangun Bandara YIA juga telah dibahas Focus Group Discussion (FGD) terkait Gempa dan Tsunami sebanyak tiga kali yang dihadiri oleh para Ahli Gempa, Geoteknik, Tsunami dari Perguruan Tinggi Indonesia serta Ahli Gempa dari Jepang.
Liputan : Anung Marganto



