Temanggung, Proliman News – Semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap Tanah Air ditunjukkan sekitar 200 santri bersama pengurus Pondok Pesantren Tahfidz Al Musthofa Tebuireng 16 Wadas, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, saat mengikuti upacara bendera memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman kompleks pesantren, Senin (17/8/2026).
Upacara berlangsung layaknya upacara peringatan kemerdekaan pada umumnya. Para santri mengikuti seluruh rangkaian dengan penuh semangat dan khidmat. Pengibaran Sang Merah Putih, penghormatan kepada bendera, hingga pembacaan doa menjadi bagian dari peringatan kemerdekaan di lingkungan pesantren tersebut.
Bertindak sebagai inspektur upacara sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Al Musthofa Tebuireng 16 Temanggung, KH Agus Ahmad Yani, menyampaikan amanat bertajuk “Mengisi Kemerdekaan dengan Tholabul Ilmi dan Cinta Tanah Air” serta pesan “Menjaga Akhlaq untuk Peradaban, Menjaga Alam agar Lestari, Jaya dan Sentosa.”
Dalam amanatnya, KH Agus Ahmad Yani menegaskan bahwa upacara kemerdekaan bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi momentum untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kemerdekaan merupakan amanah yang harus diisi dengan hal-hal bernilai.
“Hari ini kita tidak sekadar mengibarkan Sang Merah Putih. Hari ini kita sedang mengibarkan semangat perjuangan. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah, air mata, pengorbanan dan doa para pahlawan harus kita isi dengan sesuatu yang bernilai,” tuturnya.
Menurutnya, bagi seorang santri, kemerdekaan harus diisi dengan tiga hal penting, yakni ilmu, akhlaq dan cinta Tanah Air.
Ia mengajak para santri memanfaatkan masa muda untuk menuntut ilmu, membaca dan menghafal Al-Qur’an, mempelajari ilmu agama dan pengetahuan umum, mengembangkan teknologi, menjaga kesehatan, berorganisasi serta mempersiapkan diri menjadi generasi penerus bangsa.
“Dahulu para pejuang berjuang mengangkat senjata. Hari ini tugas kita adalah mengangkat ilmu, mengangkat akhlaq dan mengangkat martabat bangsa,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan di pesantren tidak cukup hanya menghasilkan santri yang mampu menghafal Al-Qur’an. Lebih dari itu, nilai-nilai Al-Qur’an harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.
“Al-Qur’an harus hidup dalam akhlaq santri. Hafalannya kuat, ibadahnya kuat, belajarnya rajin, tetapi juga hormat kepada guru, sayang kepada orang tua, santun kepada sesama, disiplin, jujur, bertanggung jawab dan rendah hati,” tegasnya.
Menurut KH Agus, ilmu tanpa akhlaq dapat kehilangan arah. Sebaliknya, ilmu yang dibimbing iman dan akhlaq akan menjadi rahmat bagi manusia dan alam semesta.
Dalam amanatnya, KH Agus Ahmad Yani juga menekankan bahwa menjadi santri dan umat Islam tidak menghilangkan identitas sebagai anak bangsa Indonesia. Penghormatan terhadap Merah Putih, kata dia, harus diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi bangsa.
“Jangan pernah bertanya, apa yang sudah diberikan Indonesia kepada saya. Tetapi mari bertanya, apa yang bisa saya berikan untuk Indonesia?” ujarnya.
Kontribusi tersebut, lanjutnya, dapat diwujudkan dengan memberikan ilmu, akhlaq, prestasi, menjaga persatuan, menjaga lingkungan, menciptakan kedamaian serta menjadi manusia yang bermanfaat.
Kecintaan terhadap Tanah Air juga tidak cukup diwujudkan dengan memasang dan menghormati bendera. Menurutnya, nasionalisme juga berarti menjaga lingkungan sebagai bagian dari amanah.
“Mencintai tanah air bukan hanya dengan memasang bendera, tetapi juga dengan tidak merusak tanah air. Tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak pohon, tidak mencemari sungai, tidak menyia-nyiakan air dan tidak merusak kehidupan sosial dengan kebencian, permusuhan dan perpecahan,” katanya.
Semangat tersebut, lanjut dia, sejalan dengan semangat Qur’anic Eco School yang dikembangkan di Pesantren Tahfidz Al Musthofa Tebuireng 16 Temanggung, yakni “Menjaga Alam agar Lestari, Jaya dan Sentosa.”
“Bumi ini bukan warisan yang boleh kita habiskan. Bumi adalah amanah Allah yang harus kita jaga dan kita wariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
KH Agus juga mengajak para santri memaknai perjuangan di era sekarang. Jika para pahlawan dahulu berjuang dengan senjata, maka generasi muda saat ini harus berjuang melalui ilmu, Al-Qur’an, akhlaq, kedisiplinan, karya, prestasi dan doa.
Ia menegaskan bahwa pesantren merupakan tempat untuk mempersiapkan generasi yang kelak dapat mengabdi melalui berbagai bidang profesi.
“Apa pun profesinya, semuanya harus memiliki satu ruh: menjadi manusia yang bermanfaat,” ujarnya.
Ia berharap para santri tidak hanya menjadi generasi yang cerdas, tetapi juga memiliki karakter dan integritas. Santri diharapkan mampu menguasai teknologi sekaligus mengendalikan diri, mampu berbicara sekaligus menjaga lisan, serta mampu menghafal Al-Qur’an sekaligus mengamalkan nilai-nilainya.
Pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI tersebut, KH Agus menitipkan lima pesan kepada para santri, yakni mencintai Al-Qur’an, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, memuliakan guru dan orang tua, menjaga akhlaq, serta mencintai Indonesia dengan menjaga persatuan, kedamaian, lingkungan dan nama baik pesantren.
“Mari kita isi kemerdekaan ini dengan tholabul ilmi. Kita kuatkan dengan iman dan takwa, kita sempurnakan dengan akhlaqul karimah, kita wujudkan dengan cinta Tanah Air, dan kita wariskan kepada generasi berikutnya dengan menjaga alam dan lingkungan,” pesannya.
Salah seorang santri kelas VII, In’amul Hasan, mengaku senang dan bangga dapat mengikuti upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI di pesantren.
Ia mengatakan keikutsertaannya dalam upacara menjadi salah satu cara untuk menghargai jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Kegiatan upacara bendera dan doa bersama tersebut digelar sebagai wujud nasionalisme para santri sekaligus untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Usai upacara, suasana berubah menjadi penuh kegembiraan. Para santri meluapkan rasa suka cita dengan sorak-sorai dan yel-yel kemerdekaan. Kegembiraan tersebut menjadi penutup setelah mereka berhasil mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan lancar.
Melalui peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Pesantren Tahfidz Al Musthofa Tebuireng 16 Temanggung berupaya menanamkan pemahaman bahwa nasionalisme tidak berhenti pada seremoni. Kemerdekaan diharapkan menjadi momentum bagi santri untuk terus belajar, berakhlaq, berkarya, menjaga persatuan serta berkontribusi bagi bangsa dan menjaga kelestarian alam.
Liputan: Nadhifa Zara



