Kulon Progo, Proliman News – Sedikitnya 8 gedung yang ada di Pelabuhan Tanjung Adikarto, Karangwuni, Wates, Kulon Progo, rusak berat dan nyaris tidak mungkin lagi bisa digunakan.
Pelabuhan yang dibangun di oleh Menteri Kelautan Rohmin Dahuri tahun 2024 lalu itu, kini tinggal menyisakan satu bagunan yang terawat yakni Posko Keamanan (Security).
Seluruh bangunan atapnya remuk, eternitnya jebol dan banyak bangunan yang hancur karena kusen jendela maupun pintu dijungkil tangan-tangan jahil.
Sedang dua kolam besar yang ada di antara bangunan gedung dan fasiliutas lain kini mengalami pendangkalan dan penuh timbunan lumpur. Tidak terawat.
Sejumlah orang warga Kulon Progo menawarkan gagasan Pelabuhan Tanjung Adikarto bisa digunakan oleh rakyat digunakan untuk kawasan Kuliner Ikan Laut atau Pasar Ikan Laut.
“Kalau soal stok ikan kan bisa didatangkan dari berbagai pelabuhan, bisa dari Pati, Semarang, atau Cilacap Jateng, kalau Kulon Progo tidak ada stok ikan laut,” ujar Elman Wiyono, Kamis (15/5/2025).
Konsepnya itu, kawasan ini menjadi tempat rekreasi dengan kuliner ikan laut, atau menjadi pasar ikan laut yang luas dan semua pelaku usahanya warga Kulon Progo.
Pihak masyarakat bersedia melakukan pembenahan semua gedung dan fasilitas yang kini mangkrak rusak dan jebol karena pintu dan jendelanya dicuri orang.
“Ya itu kalau boleh, kalau nggak juga nggak apa-apa, toh uang anggaran ratusan miliar jadi bangunan meski mangkrak, ketimbang dikorupsi hilang tanpa suara,” ujarnya tertawa.
Sementara, dua tahun lalu Staf Ahli Menko Polhukam Bidang Kedaulatan Wilayah dan Kemaritiman Laksda TNI Antongan Simatupang beraudiensi di Kantor Bupati Kulon Progo dan mengunjungi Pelabuhan Perikanan Pantai Tanjung Adikarto.
Ia mengatakan pelabuhan ini diproyeksikan menjadi pelabuhan perikanan ekspor ikan segar ke berbagai negara di Asia.
Hal tersebut mendukung terwujudnya integrasi ekonomi sektor perikanan dan kelautan serta meningkatkan ekonomi masyarakat nelayan.
Kabupaten Kulon Progo terletak di bagian barat berbatasan langsung dengan Samudera Hindia pada bagian selatan, memiliki sumber daya perikanan dan kelautan, yang potensial untuk dikembangkan.
Kondisi fisiografisnya berupa dataran dan dataran pantai di bagian selatan, topografi bergelombang sampai berbukit di bagian tengah dan timur, perbukitan-pegunungan di bagian utara dan barat.
Bagian selatan Kabupaten Kulon Progo merupakan dataran rendah dengan ketinggian 0-100 meter di atas permukaan air laut, dari 12 kapanewon/kecamatan yang ada di Kabupaten Kulon Progo terdapat empat kapanewon yang berbatasan langsung dengan perairan pantai yaitu Kapanewon Galur, Kapanewon Panjatan, Kapanewon Wates, dan Kapanewon Temon.
Selain itu, Kabupaten Kulon Progo memiliki wilayah laut yang potensial karena memiliki beberapa ikan jenis pelagis besar, seperti ikan tuna, cakalang, tongkol, tengiri, dan marlin.
Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, potensi perikanan tangkap di kabupaten ini cukup tinggi. Data potensi perikanan tangkap berdasarkan paparan pada 2005 dari Guru Besar Perikanan UGM Yogyakarta Profesor Kamisa, bila Pelabuhan Tanjung Adikarto dapat dioperasionalkan maka produksi perikanan tangkap mencapai 27.400 ton per tahun atau senilai Rp276 miliar per tahun dengan memuat 400 kapal, dan sekitar 5.000 nelayan setiap tahun melakukan aktivitas di Pelabuhan Tanjung Adikarto.
Potensi perikanan tangkap tersebut sejauh ini belum dimanfaatkan secara maksimal karena hingga saat ini Pelabuhan Tanjung Adikarto belum dapat dioperasikan.
“Ya itu kan data para ahli, kalau data warga masyarakat, yang nyata di depan mata pelabuhan ini mangkrak 20 tahun dan sebenarnya bisa digunakan untuk perekonomian warga dengan sedikit kreatifitas. Kok tidak ada yang mikir sesederhana itu, kenapa ? “ ujar Wiyono, yang juga pengusaha ini.
Liputan : Winarto



