Kulon Progo, Proliman News – Sebanyak 10 kalurahan di sepanjang pantai selatan Kabupaten Kulon Progo, akan terkena gelombang tsunami setinggi lebih dari 10 meter jika gempa megathrust terjadi.
Sepuluh kalurahan tersebut, yakni Kalurahan Banaran, Karangsewu, di Kapanewon Galur.
Kalurahan Bugel, Pleret, dan Garongan di Kapanewon Panjatan.
Kalurahan Karangwuni, Glagah, Kapanewon Wates, dan Kalurahan Palihan, Congot, Pasir Mendit di Kapanewon Temon.
Tsunami setinggi 10 meter lebih bisa menerjang kawasan Pantai Selatan Kulon Progo tersebut hanya dalam tempo 30 sesudah terjadi gempa megathrust.
Kepala BPBD Kulon Progo Taufik Prihadi menjelaskan, pihaknya sejak lama sudah melakukan persiapan apabila terjadi megathrust dan tsunami.
Pihaknya telah menambah banyak jalur evakuasi yang akan digunakan warga, jika tsunami terjadi.
“Kami juga telah mengadakan kegiatan yang bersifat kesiapsiagaan,” ucap Taufik Prihadi, Minggu (25/8), dikutip media.
Taufik menjelaskan, untuk menciptakan kesiapsiagaan bencana, pihaknya telah mengadakan berbagai kegiatan pelatihan.
Tujuannya menumbuhkan kesiapsiagaan terhadap masyarakat, serta memberikan gambaran evakuasi apabila terjadi bencana.
Dari data BPBD terdapat 10 kalurahan dari 4 kapanewon yang berlokasi di bibir pantai. Apabila terjadi tsunami, wilayah tersebut masuk kategori zona merah.
Sementara Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, mengatakan rentang waktu antara gempa dan tsunami sekitar 30 menit, gelombangya berkisar 10 meter.
Dalam rentang waktu setengah jam, gelombang tsunami bisa mencapai daratan dengan mudah.
Rentang waktu tersebut bisa dibilang sebagai rentang waktu optimal untuk melakukan evakuasi, katanya saat mengunjungi Kalurahan Bugel, Kabupaten Kulon Progo, Jumat (23/8/2024) lalu.
Dwikorita menyampaikan, untuk mengantisipasi tsunami BMKG telah menyiapkan sistem monitoring yang memantau rentang waktu antara gempa dan tsunami, serta ketinggian gelombang.
Namun, BMKG tidak bisa memprediksi kapan gempa terjadi. Sehingga, masyarakat diminta memiliki kesiapsiagaan terhadap bencana.
Seperti penyesuaian bangunan yang tahan gempa. Ia mencontohkan, bangunan YIA yang didesain mampu menahan megathrust.
Terutama terjangan tsunami karena ketinggian bangunan melebih prediksi tinggi gelombang, yakni lebih dari 10 meter.
“Bukannya menakut-nakuti tetapi masyarakat harus punya kesiapsiagaan,” ujarnya.
Dwikorita menyampaikan, munculnya isu megathrut kembali dipicu setelah rentetan gempa di Negara Jepang.
Padahal isu megathrust telah muncul dan menjadi kajian beberapa tahun sebelumnya.



