Kulon Progo, Proliman News – Sisi barat Jembatan Pandansimo, Sidorejo, Banaran, Galur, Kulon Progo dalam sekejab berubah menjadi kawasan eksotis yang dikunjungi ribuan orang setiap harinya.
Pesona Jembatan Pandansimo memang menjadi magnet tersendiri bagi setiap warga untuk bisa berkunjung ke kawasan wisata tanpa nama ini.
Suasana di kawasan ini saat pagi hari mulai pukul 05.00 WIB sepertinya menjadi alternatif terbaik bagi para penggiat sehat,olah raga, dan yang suka semilir angin subuh.
Bagaimana tidak mereka bisa melakukan senam sehat bersama puluhan bahkan ratusan orang dengan musik yang kencang bersemangat, dengan bebas. Tanpa hambatan.
Menjelang siang, warga yang suka nongkrong di tepian jalan, kini tersedia banyak alternatif jajanan, mulai dari nasi kucing, kopi, nasi udug, coto makasar, hingga kuliner aneh-aneh tumpleg bleh.
“Ini yang memanjakan pencitan rasa, tukang jajan,” ujar Sofia Marcela warga Sogan, Temon, Kulon Progo yang terlihat nongkrong dengan mobil sportnya di bawah rerindangan pohon.
Ia mengatakan, di sini sejak pagi sampai sekitar pukul 09.00 WIB seperti tidak ada bosannya. Mulai dari datang pagi-pagi ngopi, hingga makanan kecil, jajanan pasar, hingga sarapan pagi bubur Manado, siap tersedia.
Maka sampai menjelang siang Sofia Marcela baru beranjak pulang, karena sekolah masih libur dan semua keluarganya suka jalan-jalan.
“Ya paslah,” ujarnya pendek sembari mengkuncir rambutnya yang panjang terurai.
Terlihat p-agi-pagi sejumlah rombongan senam ibu-ibu sudah mulai menguasai jalanan sembari memainkan musik dangdut koplo mereka menggelar senam sehat dengan lambaian body yang aduhai.
Sementara gerombolan bapak-bapak setengah baya, dari kejauhan mengamati sembari menyeruput kopi hitam, kopi susu, dan teh panas.
Menjelang siang, berganti suasana. Anak-anak muda dengan motor yang berbagai bentuk beraneka ragam variasi lalu lalang caper ( cari perhatian ).
Bukan hanya dengan sepeda motor, banyak anak-anak muda yang datang bermobil langsung mencari tempat teduh yang berdekatan dengan lapak-lapak jajanan serta aneka minuman segar mulai bergaya-gaya.
Musik eksotis dari dalam mobilnya menjadi bagian yang asyik untuk meneruskan penelusuran sepanjang kawasan wisata tanpa nama ini.
Sementara, sesudah sore menjelang. Yakni mulai sekitar pukul 15.00 WIB suasana berubah menjadi hingar bingar, banyak perempuan muda wangi berseliweran bahkan bercanda di tengah jalan seperti tanpa menggubris pemakai jalan lain.
Sedang ditepian jalan anak-anak muda dengan aroma yang juga semerbak mulai bersiul-siul sembari mengamati lalu lalang perempuan cantik.
“Ya beginilah anak muda. Bercanda, menggunjing cewek-cewek kece, siapa tahu ada pas,” ujar Harimurti, warga Brosot, Galur, Kulon Progo, ketika ditanya kenapa suka ke kawasan ini.
Mereka juga disuguhi atraksi ngundo layangan yangan demikian semarak yang sebagian besar dimainkan oleh anak-anak setingkat SMP, SMA.
Dan akan lebih asyik lagi, menjelang magrib, saat sorot lampu sudah memancarkan keindahannya. Jembatan Pandansimo berwarna warni, dan mengundang kekaguman yang tiada tara.
Banyak kamera kemudian mengabadikannya dengan sangat intens, karena keindahan ini kemungkinan bakal sirna setelah jembatan ini dibuka dan tidak dirawat.
“Ini listriknya nanti hemana ya? Siapa yang bayar? Apa ada petugas khusus merawat jembatan ini setiap hari ? Eman-eman,” kata Agus Sambodo, warga Sentolo, Kulon Progo, yang juga seorang insinyur.
Liputan : Suyono Sugondo



