TP PKK Temanggung Kenalkan Kembali Dolanan Anak Tradisional, Kurangi Ketergantungan Gadget Sejak Dini

TP PKK Temanggung Kenalkan Kembali Dolanan Anak Tradisional, Kurangi Ketergantungan Gadget Sejak Dini. (Foto/Dok)

Temanggung, Proliman News – Sebanyak 245 anak usia Pra-TK dan TK mengikuti Festival Dolanan Anak yang digelar Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Temanggung melalui Pokja II dalam program unggulan “Sapa Anak”. Kegiatan ini menjadi upaya mengenalkan kembali permainan tradisional sekaligus membangun karakter anak di tengah meningkatnya penggunaan gawai pada usia dini.

Festival menghadirkan berbagai permainan tradisional seperti jamuran, cublak-cublak suweng, engklek, bekelan, dan dakon. Selain bermain, anak-anak juga mendapatkan edukasi melalui pentas drama tentang pencegahan kebakaran serta pengenalan hewan buas, khususnya ular, yang dibawakan oleh tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Temanggung.

Selama kegiatan berlangsung, ratusan anak tampak antusias dan serius mengikuti setiap rangkaian acara, baik saat memainkan permainan tradisional maupun ketika menyaksikan edukasi dari petugas Damkar.

Ketua TP PKK Kabupaten Temanggung Panca Dewi mengatakan program “Sapa Anak” bertujuan mendekatkan orang tua, guru, dan masyarakat kepada anak-anak sekaligus menghidupkan kembali permainan tradisional yang mulai ditinggalkan.

“Maksud dan tujuan kegiatan ini adalah TP PKK mengajak masyarakat serta guru-guru untuk lebih dekat dengan anak-anak, memahami apa yang mereka inginkan, sekaligus mengenalkan kembali dolanan anak zaman dahulu seperti dakon, jamuran, cublak-cublak suweng, dan lain-lain yang sekarang mulai dilupakan,” ujarnya.

Ia berharap seluruh guru PAUD di Kabupaten Temanggung dapat ikut melestarikan permainan tradisional tersebut dalam kegiatan belajar mengajar.

“Kami harap TP PKK Kabupaten Temanggung bisa mengajak semua guru PAUD untuk memperkenalkan kembali dolanan anak yang sudah dilupakan,” katanya.

Menurutnya, permainan tradisional tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga menjadi cara untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget.

“Harapan saya, anak-anak di Temanggung menjadi anak yang saleh dan salehah, tetap menjaga akhlakul karimah, dan yang pasti tidak tergantung dengan gadget. Kita harus mengikuti zaman, tapi jangan sampai dibodohi oleh zaman,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Pokja II TP PKK Kabupaten Temanggung sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, Irma Fitri Hastuti, menjelaskan festival diikuti oleh anak-anak dari tiga organisasi pendidikan usia dini.

Sebanyak tujuh lembaga di bawah Himpaudi mengirimkan masing-masing 15 anak untuk kategori Pra-TK. Kemudian tujuh lembaga di bawah IGTK mengirimkan masing-masing 10 anak, serta tujuh lembaga di bawah IGRA yang juga mengirimkan masing-masing 10 anak. Total peserta mencapai 245 anak dengan pendamping sebanyak 42 guru.

“Setiap sekolah juga mengirimkan dua guru untuk mendampingi. Jadi pagi ini ada 245 anak dan 42 pendidik yang mengikuti Festival Dolanan Anak,” jelas Irma.

Ia mengatakan permainan yang dipilih disesuaikan dengan usia peserta. Anak Pra-TK memainkan jamuran dan cublak-cublak suweng secara berkelompok, sedangkan anak TK memainkan engklek, bekelan, suda manda, dan dakon yang melatih kemampuan bermain bergantian.

Menurut Irma, tujuan utama kegiatan ini adalah mengenalkan kembali permainan tradisional yang kini mulai ditinggalkan karena anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan telepon genggam.

“Yang pertama jelas kita mengenalkan permainan tradisional yang sekarang sudah tidak diketahui anak-anak karena mereka lebih nyaman bermain HP. Melalui kegiatan ini kita ingin mengurangi pemakaian HP,” ujarnya.

Selain itu, kegiatan juga disisipkan pendidikan karakter melalui pengenalan unggah-ungguh dan bahasa Jawa kepada anak-anak.

“Anak-anak juga dikenalkan pitutur luhur, seperti mengucapkan ‘matur nuwun’, ‘nyuwun pangapunten’, ‘derek langkung’, ‘sugeng enjang’, ‘sugeng siang’, dan ‘sugeng dalu’. Jadi tidak hanya belajar mengucapkan terima kasih atau maaf, tetapi juga mengenal bahasa Jawa sebagai bagian dari budaya lokal,” katanya.

Irma menambahkan, lima permainan yang dipilih merupakan permainan tradisional yang masih cukup dikenal masyarakat sehingga diharapkan dapat dilanjutkan di rumah maupun di sekolah.

Menurutnya, permainan tradisional memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak, mulai dari kemampuan sosial, emosional, motorik, hingga kognitif.

“Permainan ini membangun sosial emosional anak. Mereka belajar berkolaborasi, bermain bergantian, berkomunikasi dengan teman, sekaligus melatih kemampuan berbicara. Saat ini kasus speech delay atau keterlambatan bicara pada anak terus meningkat karena terlalu banyak tayangan. Melalui permainan tradisional, anak lebih banyak berinteraksi langsung,” pungkasnya.

Liputan: Nadhifa Zara

Deskripsi Banner
BACA JUGA  Terjatuh ke Jurang 50 Meter di Gunung Sumbing, Pemburu Burung di Temanggung Meninggal Dunia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *