Kulon Progo, Proliman News – Tri Hartati, salah satu nasabah korban BUKP Wates, tak kuasa menahan tangis ketika ditemui di rumahnya.
Kami berhasil menemukan rumah sederhananya yang ia gunakan untuk tinggal bersama suami dan dua anaknya, setelah dua kali tersesat dan empat kali bertanya.
Rumahnya cukup terpencil, di Tawangsari, Pengasih, Kulon Progo.
Tri Hartati baru saja sampai rumah setelah berjualan di Pasar Bendungan, Wates, Kulon Progo.
Ia harus sesekali mengambil nafas dalam untuk memulai bicara.
Ia bahkan bingung harus mulai darimana, untuk menuturkan kisah pedih dan susahnya mengambil tabungannya sendiri di BUKP Wates.
“Berat pak, saya sebenarnya tidak ingin menceritakan buruknya orang lain ( Kepala dan petugas BUKP Wates),” ujarnya pelan.
Karena niatnya menabung di BUKP Wates itu untuk kemaslahatan, hal – hal baik, merenda hari depan yang baik untuk kedua buah hatinya, Afikka Sekar Ayu dan Adrian Hinawan.
“Bisa dilihat, pak, saya menabung itu setiap hari dari Rp5000 sampai Rp10.000, selama puluhan tahun, secara kolektif,” ujarnya lirih.
Tabungan atas namanya satu rekening, dan dua rekening lain beserta dua sertifikat deposito nama kedua anaknya.
“Saat memulai menabung itu saya berdoa, Ya Allah, Ya Robb, semoga ini berkah bagi anak-anak kami, karena mereka harus sekolah tinggi,” katanya sembari menyeka air mata.
Bertahun-tahun ia terus giat menabung, dan tidak pernah diambil. Ia percaya bahwa BUKP Wates baik, petugasnya baik-baik, kepalanya baik.
Sampai suatu ketika, anaknya yang besar masuk sekolah SMK, maka ia membutuhkan banyak biaya.
“Saya tujuh bulan berturut-turut setiap hari ke Kantor BUKP Wates, hanya untuk mencairkan deposito senilai Rp 20 juta, Masyaallah, kenapa sulit begini, hampir saya menyerah,” ujarnya.
Kemudian ia malapor polisi, dimediasi oleh polisi di Polsek Wates, baru bisa mencairkan pokoknya.
“Saya tidak mikir bunganya, pokoknya saja sudah syukur, “ tutur Tri Hartati.
Karena diliputi pikiran kalut dan rasa tidak percaya yang mendalam, maka setelah itu ia terus menerus ke Kantor BUKP Wates meminta pencairan deposito, tabungannya dan kedua anaknya.
“Tetap sulit, pak,” ungkapnya lirih.
Bahkan ada cerita, untuk mencairkan tabungan sebesar Rp 5000 saja, minta ampun susahnya. Sampai-sampai ia harus menerima uang sebesar itu dari pintu belakang.
“Ya Allah, kenapa bisa begini ya. Dosa saya apa? “katanya merintih.
Dengan menabung setiap hari Rp 5000 sampai Rp 10.000 ia bisa mengumpulkan tabungan sebasar Rp 90 juta, saat itu. Lalu akhir tahun 2024 ia cairkan Rp 20 juta melalui mediasi polisi, sehingga dengan tiga tabungan dan dua deposito masih ada dana Rp 70 juta.
Dua deposito atas nama kedua anaknya, masing-masing senilai Rp 10 juta.
Tri Hartati mulai menabung tahun 2007 lalu, kemudian disusul dua tabungan atas nama anaknya sejak tahun 2019 dan 2020.
“Semuanya dari jerih payah saya, menyisihkan keuntungan yang sedikit demi sedikit, saya sadar saya harus istiqomah menabung meski hanya Rp5000 sampai Rp 10.000 setiap hari,” katanya.
Kini harapannya itu nyaris putus, ia tidak tahu harus menangis ke siapa, atau harus mengadu ke siapa. Karena beberapa kali membaca berita di media, Pemprov DIY saja sebagai pemilik BUKP Wates tidak mau bertanggungjawab.
“Jika raja kami saja tidak mau peduli, anak buahnya menolak, mau sambat ke siapa lagi?” ungkapnya lemas.
Sementara, Kepala BUKP Wates dan petugasnya, selalu menghilang, ndelik (ngumpet) kalau di datangi di kantornya. Komunikasi dengan mereka putus.
“Kami serahkan kepada Allah, kepada pemilik jagad raya ini, nggak tahu apa yang bakal terjadi. Nggak kuat mikir saya, uang saya ini hilang kemana? ” ujarnya menyudahi cerita sembari matanya berkaca-kaca.
Liputan : Suyono Sugondo



