Kulon Progo, Proliman News — Buntut dari dugaan kasus pelecehan seksual oleh oknum satpam di SMAN 1 Sentolo, Kulon Progo, kini muncul dinamika baru di media sosial. Sebuah pembuat poster kritik bertajuk “Sistem Sekolah yang Rusak” yang dibuat oleh seorang siswa SMAN 1 Sentolo viral hingga berujung pada penyampaian video klarifikasi dan permohonan maaf.
Isi Poster Kritik Siswa
Poster digital yang beredar luas di media sosial tersebut memuat kritik keras terhadap manajemen sekolah terkait transparansi dan keadilan penanganan kasus di lingkungan sekolah.
Beberapa poin utama yang disuarakan dalam poster tersebut antara lain:
- Dugaan Ketidakadilan Penanganan Kasus: Menyoroti sikap sekolah yang dinilai sangat tegas memviralkan siswa yang pernah menggeser kamera CCTV, namun terkesan menutupi kasus dugaan pelecehan oleh oknum satpam (“Kasus Pencabulan Satpam Ditutupi!”).
- Aturan dan Beban Siswa: Mempertanyakan aturan jam masuk sekolah pukul 06.50 WIB yang dinilai memberatkan siswa.
- Tuntutan Transparansi: Menyampaikan pesan bahwa “Sekolah bukan tempat takut, tapi tempat tumbuh” serta penegasan bahwa siswa memiliki hak untuk diperlakukan secara adil.
Pernyataan dan Klarifikasi Siswa
Menanggapi riuhnya poster tersebut di ruang publik, pembuat poster yang merupakan siswa SMAN 1 Sentolo bernama Purboyuda Adi Wibowo menyampaikan video permohonan maaf terbuka yang ditujukan kepada pihak sekolah dan masyarakat.
Dalam video klarifikasi tersebut, Purboyuda menjelaskan poin-poin berikut:
- Tujuan Pembuatan Poster: Poster tersebut dibuat dengan niat awal membantu menyuarakan aspirasi rekan-rekannya yang takut berpendapat, serta mencegah agar kasus dugaan pelecehan oleh oknum pengamanan tidak terulang kembali.
- Permohonan Maaf: Ia meminta maaf karena telah mengunggah poster kritik tersebut ke media sosial sebelum melakukan konfirmasi (cross-check) terlebih dahulu kepada pihak sekolah.
- Sikap Terhadap Penanganan Kasus: Ia mengakui bahwa pihak sekolah sebenarnya telah memberikan sanksi kepada oknum satpam. Namun, ia menegaskan bahwa tuntutan utama dari korban dan para siswa adalah pemecatan/pemberhentian total oknum tersebut, mengingat rasa trauma yang dialami korban serta rasa tidak nyaman dari siswa lain jika oknum tersebut masih bertugas di sekolah.
Gelombang Dukungan dari Warganet
Video klarifikasi yang diunggah ulang oleh berbagai akun media sosial lokal Kulon Progo dan DIY (seperti @kulonprogospotlight dan @kotawates_) mendadak dibanjiri ribuan tanggapan dari warganet.
Mayoritas publik dan warganet memberikan dukungan moral kepada siswa tersebut. Banyak yang menilai tindakan siswa menyuarakan aspirasi adalah bentuk keberanian dan kepedulian terhadap korban, serta menyayangkan jika kritik kritis dari siswa harus berujung pada klarifikasi dan permohonan maaf.
Liputan: Galang Andika Pratama



