27 Politisi Pengusung Agung Setyawan – Ambar Purwoko Gelar Evaluasi, Juwardi : Kita Ini Malu Berat !

Kenapa pot-pot bunga di lingkungan kompleks Pemda Kulon Progo harus dihilangkan, apa untungnya apa ruginya. Bukankah biaya untuk pembongkaran itu bisa untuk menambal jalan memperbaiki infrastruktur?(foto/sigit)

Kulon Progo, Proliman News – Evaluasi yang digelar 27 politisi pengusung dan pendukung pasangan Bupati – Wakil Bupati Kulon Progo Agung Setyawan – Ambar Purwoko semakin menghangat dengan orasi Politisi Golkar Jujuk Juwardi, Rabu (23/4/2026).

Jujuk mengatakan, pihaknya merasa tidak nyaman (malu) mendengar dan menyaksikan berbagai langkah yang dilakukan oleh Bupati – Wakil Bupati Kulon Progo Agung Setyawan – Ambar Purwoko.

Kenapa pasangan ini mengambil langkah-langkah kebijakan tanpa dasar seperti soal investor Gedung Samudra Raksa yang akhirnya kalah dengan rengekan Bundesma, tetapi kemudian tidak bisa berlanjut.

Lalu kenapa ornamen gebleg renteng harus dicabut sementara ornamen itu hanya bisa dilepas jika merobohkan bangunannya.

“Ini kan bangunan yang juga memakan anggaran besar, dan butuh bertahun-tahun untuk mewujudkannya. Kenapa sekarang harus dibongkar, padahal jika ini tetap ada pun tidak mengurangi martabat Bupati – Wakil Bupati,” katanya.

Kenapa pot-pot bunga di lingkungan kompleks Pemda Kulon Progo harus dihilangkan, apa untungnya apa ruginya. Bukankah biaya untuk pembongkaran itu bisa untuk menambal jalan memperbaiki infrastruktur?

“Hal lain, ternyata ada kewajiban-kewajiban pasangan ini kepada partai-parti tidak cair hingga hari ini. Justru kami-kami ini yang harus nombok dengan merogok kocek sendiri untuk menutup tanggungan kepada para pihak, baik di dalam partai atau di luar partai. Kan aneh ini, sementara keduanya tidak lagi mau menerima pesan yang kita sampaikan,” kata Jujuk.

BACA JUGA  Pergolakan Cincin Api: PVMBG Catat 7 Gunung Api Erupsi di Indonesia

Ia menegaskan, benar, bahwa komuniaksi atau akses mereka dengan Bupati – Wakil Bupati Kulon Progo putus dan tidak direspon sama sekali.

“Jangankan hal-hal duniawi, urusan dunia, urusan memberi ucapan selamat Idul Fitri saja tidak direspon. Ini seolah keduanya tidak butuh lagi dengan kita. Tetapi ingat, suatu ketika entah kapan keduanya bakal butuh kita, pasti, yakin itu,” tegas Jujuk.

Jujuk mengatakan, secara kasat mata mereka butuh jika sedang ingin meraih kekuasaan tetapi tidak butuh lagi saat sudah duduk dan berkuasa.

Mantan Sekretaris DPD Partai Golkar Kulon Progo ini meminta semua pihak yang datang dalam evaluasi ini tidak perlu risau atau emosi menanggapi apa yang sekarang terjadi.

Ia meminta semua pihak baik partai pengusung maupun pendukung memberikan doa terbaik untuk keduanya hingga bisa menyelesaikan kekuasaannya tuntas hingga akhir nanti.

Jujuk meminta semua politisi dari partai apapaun meniatkan apa yang telah mereka lakukan hingga bonjrot untuk Pasangan Agung Setyawan – Ambar Purwoko sebagai ibadah.

“Yakin saja jika kemudian kita semua meniatkan apa yang kita lakukan sebagai ibadah, maka kita semua akan mendapatkan ganti yang lebih banyak lebih baik, semoga keduanya diberi ampunan,” katanya.

Menyitir tentang teori pembangunan sosial maka Jujuk Juwardi menyatakan bahwa salah satu diantara teori pembangunan itu yakni merangsang pertumbuhan di berbagai titik hingga akan mempengaruhi atau memiliki dampak positif terhadap pertumbuhan ikutan di wilayah sekitarnya.

BACA JUGA  Presiden Prabowo: Keracunan Makanan MBG Masalah Besar Jangan Dipolitisasi Kita Akan Cari Solusinya !

“Ini dulu kami sampaikan, dengan gamblang dan terang. Bagaimana mengalokasikan anggaran secara tepat demi pertumbuhan atau pusat-pusat pertumbuhan di sejumlah titik. Tetapi rupanya terori itu tiunggal teori,” katanya.

Tetapi sekarang ini Bupati – Wakil Bupati Kulon Progo Agung Setyawan – Ambar Purwoko seperti bekerja sekenanya, membangun infrtastruktur secara serampangan, menambal –nambal jalan berlubang dan itu justru menghabiskan banyak biaya tanpa hasil nyata.

“Jalan yang ditambal itu tidak sampai berusia 3 bulan hancur lagi, kenapa ini jadi pilihan. Kenapa tidak terfokus pada satu wilayah agar baik gtuntas dan berefek,” paparnya.

Kenapa tidak memilih pada pembangunan  infrtastruktur yang terfokus di suatu wilayah tetapi tuntas dengan asumsi bahwa akan terjadi pergerakan pertumbuhan ekonomi akibat pembangunan terfokus tersebut.

Jika pembangunan terfokus tersebut dilakukan, dan terbagi dalam lima tahun berturut turut maka diyakini akan terjadi pertumbuhan ekonomi yang signifikan di Kulon Progo.

“Tetapi karena akses kita kepada keduanya terputus atau tidak sambung maka banyak pembangunan tambal-tambal jalan kali ini tidak akan memberi efek apa-apa kepada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan,” tegasnya.

Juwardi bahkan memberi contoh diserahkannya bangunan milik pusat berupa Gedung Samudra Raksa di Kalibawang, Kulon Progo kepada pemerintah daerah.

“Lalu datang investor yang siap mengembangkan kawasan itu dengan skema yang jelas, membangun jalur – jalur wisata, angkutan wisata, dan sebagainya. Tetapi apa, Bundesma tidak rela, karena ingin mengambil Gedung Samudra Raksa, tetapi Bundesma tidak siap dengan pengembangannya, hingga membuat investor batal dan mu ndur. Kok bisa begini ? “ ujarnya.

BACA JUGA  Soroti Pesan Batas Kekuasaan dari AHY, Prabowo Puji Pidato Ketum Demokrat Sistematis dan Clear

Ini contoh yang kita semua tahu dan nyata, bahwa pengelolaan aset daerah itu kurang konsep. Sedang peran investor juga penting, siapa yang pantas mengelola aset ini, dan siapa yang tidak juga harus jelas.

“Jika Selat Hormun ditutup, maka sekarang ini Selat Solo yang ditutup,” katanya sembari tertawa. Apa maksudnya penutupan Selat Solo.

Selanjutnya diberikan waktu berikutnya kepada Ketua DPC PPP Kulon Progo Zuharsono Azhari yang duduk bersama Jujuk Juwardi di depan forum.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *