Kulon Progo, Proliman News – Dari 7 kalurahan yang ada di Kapanewon Galur, Kulon Progo, Kalurahan Banaran merupakan wilayah yang paling parah kondisi jalannya.
Di wilayah yang terdiri dari 13 padukuhan ini, 80 persen jalannya rusak, dengan tingkatan hancur remuk, rusak saka, dan buruk.
Kondisi paling parah tentu di jalur-jalur yang semula dilaluki armada tambang pasir 8 tahun silam. Karena saat itu frekuensi armada tambang sangat padat dengan muatan yang monjleng ( over tonase) membuat semua jalan hancur.
Tetapi setelah tidak ada tambang jalan-jalan ini dibiarkan terbengkelai dan sekedar tambal sulam dengan sirtu atau tanah biasa oleh warga yang punya kepedulian.
Kondisi terparah ada di Jalan Trisik dari Pertigaan Kalibuntung Jl Daendeles ke selatan sampai ke Jembatan Kabanaran. Kondisinya remuk redam, dan berusaaha dibenahi dengan urug sirtu (pasir batu) oleh warga.
“Halo..halo, ini jalan rusak sudah lebih dari 7 tahun, tidak tersentuh pemerintah, iki piye,” tulis Surono Airin di media sosialnya membahas foto yang ia kirimkan soal Jalan Pantai Trisik ini.
Dalam unggahannya ini ia mengajak warga untuk memanfaatkan jalan amoh ini sebagai wisata baru, wisata ektrem, dengan nama Wisata Jeglongan Sewu.
Dengan Wisata Jeglongan Sewu wisatawan bisa main balap ekstrim di sepanjang jalan ini, gratis, wisatawan bisa bersepeda ekstrim sepuasnya, gratis, dan warga juga bisa wisata mincing di sepanjang jalan ini.
Selain itu, jalan dari Pertigaan Kenteng Dusun 7 Banaran ke tyimur sampai ke Dusun 9, Banaran, Galur, juga remuk redam tanpa perbaikan sama sekali sudah lebih dari 10 tahun.
Lalu kondisi tanggul sepanjang Sungai Progo yang dulu biasa digunakan untuk wisata sepeda tiap pagi dan sore hari sekarang hancur remuk tinggal layak untuk jalan kebo atau sapi.
Kondisi yang sama juga terjadi dari Pertigaan Pundong Dusun V Banaran sampai ke Dusun I Jati Banaran, sampai ke perbatasan Kalurahan Kranggan, jalan remuk tetapi sebagian masih bagus sekitar saku kilometer dari Masjiud Al Huda sampai ke Jembatan Kujon.
Selebihnya jalan-jalan kabupaten atau jalan desa di wilayah ini remuk dan menjijikkan karena kotor, penuh sampah dan tidak ada semangat merawat atau memperbaiki secara swadaya.
Masyarakat di wilayah ini sudah nyaris lemes, stress dan sepertinya tidak ada lagi tokoh-tokoh yang berfikir untuk membangun wilayah ini.
Bangun jalanmu, bikin padang njiglag (terang benderang) lingkungannya agar ekonomi meningkat hidup rakyat sejahtera.
“Mulai dari sini saja cara mikirnya. Tidak perlu dengan teori muluk-muluk. Kalau sore, malam, hujan riwis, naik sepeda atau naik motor tanpa lampu masuk daerah Banaran, Kranggan Tengah, atau Jalan Raya Dendeles sepanjang Kapanewon Galur, isine gur urip po mati (selamat tidak selamat, red) modyar sampean,” ujar Sutrisno Warga Banaran Galur Kulon Progo.
Kalau jalan bosok, lampu jalan tidak ada, hidup seperti nungsep (terjungkal, red), rezeki seret otak tidak encer, maka pastikan masyarakat tidak sejahtera.
Liputan : Tim Redaksi



