DIY Mengalami Puncak pada Bulan Agustus 2026 Mendatang Sedang Hujan Akan Terjadi Hingga Juni

Ketua Pokdarwis Glagah, R.H. Sumantoyo, menegaskan bahwa arah pengembangan sport tourism Laguna Glagah tidak berhenti pada olahraga pantai, tetapi harus diperluas ke olahraga air, khususnya dayung. (foto/dok)

Yogyakarta, Proliman News – Berdasarkan pengamatan gejala fisis dan data dinamika atmosfer-laut terkini menunjukkan bahwa angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator bertiup dari timur mengindikasikan Monsun Asia mulai melemah.

Indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) dalam kondisi netral, diprediksi akan tetap netral hingga pertengahan tahun 2026.

Dipole Mode Indeks  (DMI) berada dalam kategori netral hingga pertengahan tahun 2026.

Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi tidak aktif di wilayah Indonesia.

Analisis anomali suhu muka air laut di perairan selatan D.I Yogyakarta, antara -0.5°C s/d  0.0°C (kategori netral), dengan suhu berkisar antara 28°C s/d 29°C.

Curah hujan dasarian II April 2026 diprediksi dalam kategori rendah – menengah berkisar antara 10 – 75 mm/dasarian dengan sifat hujan Bawah Normal (BN).

Curah hujan dasarian III April 2026 diprediksi dalam kategori rendah berkisar antara 10 – 50  mm/dasarian dengan sifat hujan Bawah Normal (BN).

Curah hujan dasarian I Mei 2026 diprediksi dalam kategori rendah berkisar antara 0 – 50  mm/dasaria dengan sifat hujan Bawah Normal (BN).

Dalam tiga bulan ke depan, curah hujan di wilayah D.I Yogyakarta diprediksi sebagai berikut:

Curah hujan bulan April 2026 diprediksi berkisar 51 – 300 mm/bulan (kriteria rendah – menengah) dengan sifat hujan Bawah Normal (BN).

Curah hujan bulan Mei 2026 diprediksi berkisar 21 – 100 mm/bulan (kriteria rendah) dengan sifat hujan seluruhnya Bawah Normal (BN).

BACA JUGA  Diskusi Hukum Proliman News: Aman Jika Kalurahan Palihan Kembalikan Dana Rp 124 Miliar ke Kasultanan

Curah hujan bulan Juni 2026 diprediksi berkisar 0 – 50 mm/bulan (kriteria rendah) dengan sifat hujan seluruhnya Bawah Normal (BN).

Awal musim kemarau 2026 diprediksi pada dasarian III April 2026 5 ZOM (62.5%) dan dasarian I Mei 2026 3 ZOM (37.5%).

Sifat hujan musim kemarau 2026 diprediksi Bawah Normal (BN) 7 ZOM (87.5%) dan Normal (N) 1 ZOM (12.5%).

Puncak musim kemarau 2026 diprediksi pada bulan Agustus 2026 8 ZOM (100%).

Durasi musim kemarau 2026 di D. I Yogyakarta diprediksi bervariasi antara 16 – 18 dasarian sebanyak 1 ZOM (12.5%), 19 – 21 dasarian sebanyak 7 ZOM (87.5%).

Jumlah curah hujan musim kemarau 2026 diprediksi antara 250 – 400 mm.

Akhir musim kemarau 2026 di D.I Yogyakarta diprediksi pada dasarian II Oktober dan dasarian I November 2026.

BMKG menghimbau kepada pemerintah daerah, institusi terkait dan seluruh masyarakat untuk :

Meningkatkan kewaspadaan pada masa akhir musim hujan yang ditandai dengan perubahan cuaca yang cepat, seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir.

 Melakukan langkah mitigasi antara lain membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang berisiko tumbang, serta memastikan struktur bangunan dan baliho dalam kondisi kuat guna mengurangi potensi dampak cuaca ekstrem selama masa pancaroba.

 Lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau terutama di wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih. Hal ini berkaitan dengan prediksi munculnya fenomena El Nino intensitas lemah hingga moderat setelah pertengahan tahun 2026 dengan peluang 50 – 60% yang dapat menurunkan curah hujan, utamanya di wilayah D. I Yogyakarta.

BACA JUGA  Arsita Minaya Meminta Keadilan: Kenapa Suami Saya Jadi Tersangka Padahal Dua Jambret Itu Tewas Kecelakaan

Mewaspadai prediksi curah hujan selama musim kemarau 2026 di Bawah Normal (BN), yang artinya kondisi musim kemarau diprediksikan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Tindakan antisipasi diperlukan terhadap kondisi iklim ekstrem saat musim kemarau dengan mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen dan wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan meteorologis untuk mengambil langkah antisipasif melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien.

Liputan : W Maryanti

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *