HIPPI DIY Gelar FGD Pastikan Setelah Jembatan Pandansimo Dibuka Banaran Galur Jadi Etalase Bisnis Baru

Dengan dioperasikannya Jembatan Pandansimo akhir tahun 2024 ini, dipastikan sisi selatan wilayah Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo, bakal menjadi pintu gerbang baru perekonomian Kulon Progo.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Dengan dioperasikannya Jembatan Pandansimo akhir tahun 2024 ini, dipastikan sisi selatan wilayah Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo, bakal menjadi pintu gerbang baru perekonomian Kulon Progo.

Di areal pintu gerbang baru tersebut selayaknya didorong menjadi etalase bisnis modern yang gemerlap guna mendorong pertumbuhan ekonomi Kulon Progo baik melalui sektor perdagangan maupun pariwisatanya.

Demikian rangkuman pembahasan Forum Group Diskusi (FGD) bertajuk Banaran Culiner Area yang diprakarsai DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DIY di Pendopo Kalurahan Banaran, Sabtu (19/101/2024).

Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Panitiradya Keistimewaan DIY, Aris Eko Nugroho. SP. M.Si, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Dinas Koperasi UMKM, Kepala Dinas PUPR, dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

Kepala Panitiradya Keistimewaan DIY, Aris Eko Nugroho. SP. M.Si, mengatakan, sebagaimana disampaikan Gubernur DIY Sri Sultan HB X, pemerintah berkomitmen mendorong pembangunan perekonomian pedesaan.

Maka gagasan membuat desain kawasan wisata khususnya wisata kuliner di Kalurahan Banaran dinilai sebagai langkah tepat karena wilayah ini akan menjadi pusat pertumbuhan bisnis dan pariwata Kulon Progo.

Kalurahan Banaran memiliki tiga kekuatan yakni alam pantai dan sawah dengan variasi komoditas mulai padi, cabai, bawang merah, melon, semangka hingga tambak udang.

Sementara kekayaan lain yakni kesenian tradisional seperti reog, jatilan, dan ketoprak juga masih bisa dijumpai.

BACA JUGA  Wisata Petik Melon di Kulon Progo Kembali Dibuka, 500 Buah Siap Dipetik Pengunjung

Di wilayah ini semula juga merupakan pusat pendidikan pesantren tertua era Kiai Jauhar Misqun (Simbah Johar Miskin) di tahun 1700-an.

Di muara Sungai Progo pernah menjadi dermaga pelabuhan besar di era Perang Diponegoro atau di era Kiai Istad Sani di tahun 1825 dan desa kelahiran tokoh ulama besar KH. AR. Fachruddin.

Pantai Trisik dan Sungai Progo serta Sungai Gunsairo juga merupakan modal tak ternilai bagi perkembangan wisata terutama wisata kuliner bagi wilayah ini kedepan.

“Hadirnya Jembatan Pandansimo selain mendorong aksesibilitas Pansela Jawa juga menjadi modal besar dan daya tarik wisata kuliner,” tambah Ketua DPD HPPI DIY, Dr. Sarbini yang biasa dipanggil Mbah Ben.

Selain dihadiri sejumlah pejabat pemerintah di lingkungan Pemda Kulon Progo, FGD Banaran Culiner Area juga dihadiri ahli Strategi Pembangunan Pariwisata Dr. Primantoro, dan Ekonom UMY Dr. Sri Handari.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *