Yogyakarta, Proliman News – Ratusan pengemudi becak listrik mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) yang diselenggarakan Dinas Perhubungan (Dishub) DIY di Kompleks Kepatihan Yogyakarta.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan transportasi wisata sekaligus memastikan armada becak listrik yang kini berjumlah 340 unit dapat beroperasi secara aman dan optimal.
Kepala Bidang Angkutan Dishub DIY, Wulan Sapto Nugroho, menjelaskan bahwa para pengemudi tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai aspek teknis kendaraan listrik, tetapi juga dibekali kemampuan pendukung yang berkaitan dengan pelayanan wisatawan.
“Becak listrik ini tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga bagian dari wajah pariwisata Yogyakarta. Karena itu pengemudi perlu memiliki pengetahuan yang memadai, baik terkait kendaraan maupun informasi wisata yang sering ditanyakan pengunjung,” kata Sapto.
Menurutnya, materi yang diberikan meliputi tata cara pengoperasian kendaraan, perawatan baterai, hingga pengenalan sejarah dan budaya Yogyakarta.
Pengemudi juga mendapatkan pelatihan bahasa Inggris dasar agar lebih siap melayani wisatawan mancanegara.
“Harapannya mereka dapat menjadi mitra pariwisata yang mampu memberikan pengalaman yang baik bagi wisatawan selama berada di Yogyakarta,” ujarnya.
Dalam bimtek tersebut, Dishub DIY juga menekankan pentingnya disiplin dalam proses pengisian daya baterai.
Pengemudi diminta menggunakan perangkat pengisian sesuai spesifikasi kendaraan untuk menghindari risiko kerusakan maupun gangguan keselamatan.
Sapto menjelaskan bahwa armada becak listrik yang saat ini beroperasi masih menggunakan sistem pengisian daya konvensional sehingga membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam hingga baterai terisi penuh.
“Karena belum menggunakan teknologi fast charging, proses pengisian harus dilakukan sesuai prosedur. Kami juga mengingatkan agar tidak menggunakan charger yang tidak sesuai dengan spesifikasi kendaraan,” jelasnya.
Untuk menunjang operasional, Pemda DIY telah menyediakan fasilitas Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di kawasan Parkir Ketandan.
Selain itu, pengemudi juga dapat mengisi daya kendaraan menggunakan jaringan listrik rumah tangga.
Dishub DIY juga tengah mengkaji kemungkinan penambahan fasilitas pengisian daya di kawasan yang lebih dekat dengan pusat aktivitas wisata, khususnya Malioboro yang menjadi wilayah operasional utama becak listrik.
Sementara itu, pengemudi becak listrik Malioboro, Mardiono, mengakui penggunaan kendaraan listrik membuat pekerjaannya lebih ringan dibanding becak kayuh konvensional.
Namun, ia menilai masih terdapat sejumlah kendala yang perlu mendapat perhatian, terutama terkait layanan perawatan.
“Kalau untuk operasional sehari-hari sangat membantu karena tidak terlalu menguras tenaga. Tetapi ketika ada kerusakan, kami masih kesulitan mencari bengkel yang benar-benar memahami sistem becak listrik,” katanya.
Ia mengatakan bengkel yang mampu menangani perbaikan kendaraan tersebut masih terbatas dan sebagian berada di luar pusat Kota Yogyakarta.
Selain itu, ketersediaan suku cadang juga belum seluas kendaraan konvensional.
“Kami berharap ke depan ada lebih banyak bengkel dan akses suku cadang yang lebih mudah. Dengan begitu operasional becak listrik bisa semakin lancar dan mendukung pariwisata Yogyakarta,” ujarnya.
Saat ini armada becak listrik yang beroperasi di DIY berasal dari berbagai sumber, yakni 90 unit bantuan Pemda DIY, 50 unit dari program CSR PT KAI, serta 200 unit bantuan pemerintah pusat melalui program Bantuan Presiden.
Kehadiran armada tersebut diharapkan semakin memperkuat citra Yogyakarta sebagai destinasi wisata yang mengedepankan transportasi ramah lingkungan sekaligus tetap mempertahankan moda transportasi tradisional yang menjadi ciri khas daerah.
Liputan : W Maryanti



