Yogyakarta, Prolimannews – Harga komoditas telur dan ayam di tingkat peternak dilaporkan mengalami penurunan tajam dalam beberapa bulan terakhir. Anjloknya harga ini dipicu oleh terjadinya kelebihan pasokan (oversupply) yang tidak sebanding dengan lemahnya daya serap pasar saat ini.
Di sejumlah daerah, kondisi ini kian memprihatinkan setelah harga telur sempat merosot tajam ke kisaran Rp19.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Angka tersebut berada jauh di bawah biaya produksi para peternak yang rata-rata mencapai sekitar Rp26.000 per kilogram, sehingga memicu kerugian yang cukup besar di sektor peternakan.
Merespons situasi tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengusulkan langkah strategis guna mendongkrak kembali angka penyerapan pasar. Mentan mengusulkan peningkatan konsumsi telur dan ayam secara masif melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam usulannya, frekuensi penyajian menu ayam dan telur dalam program MBG yang sebelumnya hanya 1 kali per minggu, akan ditingkatkan secara signifikan menjadi 3 kali per minggu. Langkah ini diambil secara khusus agar sisa produksi dari para peternak lokal yang berlebih dapat terserap secara maksimal oleh program nasional tersebut.
Melalui kebijakan penambahan menu MBG ini, pemerintah berharap dapat segera mengurangi surplus pasokan yang ada di pasar, mendorong harga komoditas ayam dan telur kembali ke level normal, serta menekan angka kerugian yang tengah membebani para peternak ayam dan telur di berbagai daerah.
Liputan: Galang Andika Pratama



