Yogyakarta, Proliman News – Pasar keuangan Asia dikejutkan oleh penguatan drastis dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan ini, Senin (13/7/2026). Penguatan mata uang “Greenback” tersebut memicu pelemahan massal pada hampir seluruh mata uang utama di kawasan Asia, termasuk Rupiah.
Lonjakan indeks dolar AS (DXY — ukuran nilai dolar terhadap mata uang utama dunia) sebesar 0,19% ke posisi 101,141 dipicu oleh ketegangan geopolitik yang kembali mendidih. Pada akhir pekan lalu, militer AS dan Iran terlibat aksi saling serang menggunakan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) dalam skala besar.
Teheran tidak hanya menargetkan fasilitas militer AS di beberapa negara Teluk, tetapi juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur laut paling vital bagi distribusi minyak dunia. Akibatnya, harga minyak mentah jenis Brent langsung melesat 3,3% ke angka US$78,49 per barel pada awal perdagangan.
Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.15 WIB, 9 dari 10 mata uang utama Asia terpantau kompak melemah terhadap dolar AS. Rupiah menjadi salah satu yang paling terdampak, merosot 0,39% dan membuat posisinya semakin menjauh dari level psikologisnya di Rp18.115/US$.
Berikut adalah rincian performa mata uang Asia pada perdagangan pagi ini:
Mata Uang|Negara|Tingkat Perubahan|Nilai Tukar / US$
Rupiah (IDR)|Indonesia|Melemah 0,39%|Rp18.115
Won (KRW)|Korea Selatan|Melemah 0,38%|KRW 1.504,5
Baht (THB)|Thailand|Melemah 0,30%|THB 33,35
Yen (JPY)|Jepang|Melemah 0,21%|JPY 162,02
Ringgit (MYR)|Malaysia|Melemah 0,20%|MYR 4,075
Dolar (SGD)|Singapura|Melemah 0,15%|SGD 1,293
Peso (PHP)|Filipina|Melemah 0,09%|PHP 61,574
Yuan (CNY)|China|Melemah 0,05%|CNY 6,78
Dolar Taiwan (TWD)|Taiwan|Melemah 0,02%|TWD 32,094
Dong (VND)|Vietnam|Stagnan (0,00%)|VND 26.261
Menurut Tony Sycamore, analis pasar dari IG Sydney, reli kenaikan dolar AS saat ini sangat bergantung pada pergerakan harga minyak. Lonjakan harga energi akibat konflik global dikhawatirkan akan menyalakan kembali api inflasi yang sebelumnya mulai mereda.
Jika inflasi global kembali naik, bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) diprediksi akan mengambil langkah agresif. Pelaku pasar yang memantau data CME FedWatch kini memperkirakan peluang sebesar 52,1% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali lagi hingga akhir Desember 2026. Angka ekspektasi ini naik dari yang sebelumnya hanya 47,6% pada akhir pekan lalu.
Lembaga riset Westpac mengingatkan para investor untuk tetap waspada sepanjang minggu ini. Sentimen pasar akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah agenda ekonomi penting di AS, di antaranya:
Selasa: Rilis data inflasi konsumen (CPI).
Rabu: Rilis data inflasi produsen (PPI).
Testimoni Resmi: Pidato penting dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, di hadapan Kongres (DPR dan Senat AS) yang akan memberikan arah kebijakan ekonomi ke depan.
Liputan: Galang Andika Pratama



