Kulon Progo, Proliman News – Sejumlah pedagang kaki lima di Kota Wates mengaku tidak masalah dengan ditolaknya sampah organik masuk TPA Banyuroto.
Bahkan mereka juga tidak ada masalah dengan pengelolaan sampah rumah tangga, atau sampah organic yang mereka hasilkan.
Sugeng, pedagang Mie Ayam di Alun – Alun Wates mengatakan tidak ada masalah dengan sampah organic yang mereka hasilkan.
Karena ia ikut anggota kelompok sampah dan membayar Rp 40 ribu per bulan untuk pengambilan sampah organik.
“Hanya memang harus memiilah sampah dan mengantongi antara yang organik dan nonorganic,” ujarnya.
Maka jika angkutan sampah tinggal angkut, beres. Hal ini berbeda dengan restouran atau rumah makan besar, yang sampahnya organiknya banyak dan tidak bisa memilah sendiri.
“Kalau restoran mungkin ngeluh karena bayar mahal tapi harus milah lagi sendiri. Maka ketika porter sampah tidak mau angkut mereka jadi rebut, karena porter harus memilah sampah mereka, ya nggak maulah,” katanya.
Hal ini sama kasusnya dengan warga yang tidak ikut kelompok. Karena Depo Sampah Sebrang SD Kanisius Wates barat stasiun Wates ditutup mereka tidak bisa buang langsung.
Sementara, Gatot Rahardjo pemilik sejumlah rumah makan seperti Soto Kudus, Gulai Sawah, di seputaran Alun – Alun Wates mengatakan, kalau tidak diambil seperti ini nanti akan membuat darurat sampah Kota Wates.
Ia mengaku sampah dari rumah makan miliknya sudah sebulan tidak diambil petugas sementara ia sudah membayar Rp 120 ribu sebulan untuk petugas pengambil sampah.
Sedang di rumah tinggalnya sampah juga berserakan tidak diambil petugas meski ia sudah membayar Rp 150 ribu sebulan.
Ia berharap Pemda Kulon Progo turun tangan sebelum kondisi Kota Wates Darurat Sampah dengan alasan TPA Banyuroto menolak sampah organik.
Ia menegaskan, memilha sampah sendiri bisa saja didorong kepada seluruh warga masyarakat. Tetapi tidak semua warga memiliki lahan untuk membuang sampah organik, atau memanfaatkan smapah organik sebagai pupuk atau pakan ternak.
“Kan tidak semua warga memiliki lahan untuk membuang sampah organik atau sampah rumah tangga, terus bagaimana ? Ini harus ada solusinya cepat sebelum bau menyengat memenuhi Kota Wates, ” katanya ketika ditemui.
Liputan : W Maryanti / Suyono Sugondo



