Anggota DPR RI Subardi Serahkan Dua Kendaraan Pengangkut Sampah untuk Warga Papringan Sleman

Anggota Komisi IV DPR RI dari Partai NasDem Subardi (Mbah Bardi) menyerahkan bantuan dua kendaraan roda tiga untuk warga Padukuhan Papringan, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman.
Anggota Komisi IV DPR RI dari Partai NasDem Subardi (Mbah Bardi) menyerahkan bantuan dua kendaraan roda tiga untuk warga Padukuhan Papringan, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman.

Sleman, Prolimannews.id – Persoalan sampah di kawasan padat penduduk tidak melulu soal volume. Keterbatasan fasilitas pembuangan juga menjadi tantangan yang dirasakan oleh warga. Kondisi inilah yang dirasakan masyarakat Padukuhan Papringan, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman.

Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, Anggota DPR RI dari Partai NasDem Subardi menyerahkan dua unit kendaraan roda tiga yang akan digunakan warga sebagai sarana pengangkut sampah.

Bantuan diserahkan langsung oleh Ketua DPW NasDem DIY tersebut di halaman Masjid Shirothul Jannah, Papringan, Sleman, Jumat (7/8/2026) di hadapan Dukuh Papringan Nur Hamid, para ketua RT dan RW di wilayah Padukuhan Papringan, serta sejumlah tokoh masyarakat.

Subardi mengatakan bantuan tersebut berawal dari kebutuhan yang disampaikan masyarakat. Warga Papringan sebelumnya menghadapi kendala ketika harus membawa sampah menuju depo.

Karena itu, kendaraan roda tiga diberikan agar proses pengumpulan dan pengangkutan dapat dilakukan secara lebih terorganisasi melalui mekanisme swadaya masyarakat.

“Ini aspirasi warga yang memang kesulitan membuang sampah ke Depo. Dengan pola swadaya, bantuan ini akan mengurangi penumpukan sampah di lingkungan Papringan dan sekitarnya,” kata Subardi seusai penyerahan bantuan, Jumat (7/8/2026).

Bantuan dua kendaraan roda tiga dengan nilai sekitar Rp72 juta itu merupakan bagian dari kerja sama kemitraan antara Komisi VI DPR RI dengan PT Pupuk Sriwidjaja (PUSRI).

Selain dua kendaraan roda tiga untuk membawa sampah ke TPRt, Subardi juga berencana menambah tiga unit kendaraan pengangkut sampah hingga akhir tahun 2026 untuk wilayah Papringan.

BACA JUGA  Ribuan Santri dari Berbagai Pondok Pesantren Ikuti Upacara Hari Santri di Lapangan Paseban Bantul

Papringan sendiri dikatakan Subardi menjadi salah satu kawasan yang memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi. Karenanya aktivitas rumah tangga yang berlangsung setiap hari turut menghasilkan sampah dalam jumlah besar.

Pada saat yang sama, keterbatasan lahan di wilayah perkotaan membuat pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan keberadaan tempat pembuangan.

Di tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), produksi sampah rumah tangga diperkirakan berada di kisaran 260-300 ton setiap hari.

“Sampah organik menjadi salah satu bagian terbesar dari timbulan tersebut sehingga pemilahan sejak sumber menjadi langkah penting dalam pengelolaannya,” kata Subardi.

Dalam situasi ini, Subardi menilai keberadaan kendaraan pengangkut sampah menjadi penting. Sebab kendaraan tersebut dapat digunakan untuk membawa sampah yang telah dikumpulkan warga dari lingkungan permukiman menuju fasilitas pengelolaan yang telah tersedia.

Dukuh Papringan Nur Hamid mengatakan kebutuhan kendaraan pengangkut sampah sebelumnya telah dibicarakan melalui musyawarah warga. Masyarakat menilai fasilitas tersebut dibutuhkan karena kondisi lingkungan Papringan yang relatif padat.

Menurutnya, bantuan kendaraan menjadi jawaban atas aspirasi yang disampaikan masyarakat kepada Subardi.

Nur Hamid menyebut keberadaan kendaraan akan memudahkan warga mengangkut sampah dari lingkungan permukiman menuju depo yang selama ini telah menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah warga.

“Mbah Bardi memahami kendala yang dirasakan warga. Papringan ini termasuk padukuhan yang padat penduduk sehingga persoalan sampah memang belum menemukan solusi. Dengan bantuan ini warga bisa membuang ke depo secara langsung. Kita juga sudah ada kerja sama dengan Depo,” ujar Nur Hamid.

BACA JUGA  Sekdin Disdikpora Kulon Progo: Siswa SMP yang Terjerat Pinjol Prinsip Tidak Boleh Putus Sekolah, Ada Pendampingan !

Bagi warga, kendaraan tersebut bukan sekadar alat transportasi. Fasilitas itu diharapkan menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang dijalankan bersama-sama.

Namun demikian, Subardi mengatakan kendaraan pengangkut tidak otomatis menyelesaikan persoalan sampah. Pengelolaan dari sumber tetap diperlukan agar sampah yang dibawa ke depo tidak seluruhnya berakhir sebagai residu.

Pola semacam ini sejalan dengan prinsip pengurangan sampah melalui pendekatan Reduce, Reuse, Recycle (3R). TPS 3R atau depo pada dasarnya menjadi fasilitas pengelolaan sampah skala kawasan.

“Sampah yang terkumpul dapat dipilah, digunakan kembali, maupun didaur ulang sehingga jumlah sampah yang harus dikirim ke tempat pemrosesan akhir dapat ditekan,” katanya.

Ia menilai pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan masyarakat secara langsung. Pemerintah dan berbagai pihak memang dapat menyediakan fasilitas, tetapi keberlanjutan sistem sangat bergantung pada kedisiplinan warga.

Pengelolaan secara swadaya di Papringan diharapkan membuat proses pengumpulan sampah menjadi lebih teratur sehingga sampah tidak lagi dibiarkan menumpuk terlalu lama di lingkungan permukiman karena tersedia sarana untuk mengangkutnya menuju depo.

“Dengan pola swadaya, bantuan ini akan mengurangi penumpukan sampah di lingkungan Papringan dan sekitarnya,” kata Subardi.

Ia juga berharap keberadaan kendaraan tersebut tidak berhenti sebagai bantuan fasilitas, tetapi turut mendorong terbentuknya kebiasaan baru dalam memperlakukan sampah.

Liputan: Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *