Yogyakarta, Proliman News – Tren perceraian di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatatkan angka yang cukup signifikan pada tahun 2025, yakni mencapai 5.202 kasus berdasarkan data Kementerian Agama yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Fenomena ini menunjukkan bahwa ketidakharmonisan hubungan dan tekanan finansial masih menjadi ancaman utama bagi ketahanan rumah tangga di wilayah Jogja.
5 Besar Penyebab Perceraian di Yogyakarta
Mayoritas kasus perceraian di DIY tidak serta-merta dipicu oleh masalah finansial tunggal, melainkan didominasi oleh krisis komunikasi dan konflik internal pasangan.
- Perselisihan & Pertengkaran Terus-Menerus: 3.913 kasus (75,22%) Menjadi faktor dominan yang dipicu oleh ketidakharmonisan komunikasi, terutama pada pasangan muda.
- Masalah Ekonomi: 679 kasus (13,05%) Gugatan timbul akibat ketidakmampuan memenuhi kebutuhan harian, dampaknya gelombang PHK, hingga jeratan pinjaman online (pinjol).
- Meninggalkan Salah Satu Pihak: 438 kasus (8,42%)
- Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT): 90 kasus (1,73%)
- Judi (Termasuk Judi Online): 31 kasus (0,60%) Meski persentasenya kecil di data formal, kecanduan judi online dan utang piutang menjadi pemicu keretakan rumah tangga yang berujung pertengkaran hebat.
Dampak Sistemik Perceraian bagi Keluarga dan Daerah
Meningkatnya angka perceraian memberikan implikasi luas yang tidak hanya dirasakan oleh pasangan, tetapi juga anak dan lingkungan sosial:
- Tumbuh Kembang Anak: Anak-anak rentan mengalami trauma emosional, penurunan prestasi belajar di sekolah, hingga meningkatnya risiko kenakalan remaja akibat kehilangan figur orang tua yang utuh.
- Ekonomi dan Kemiskinan Baru: Terjadinya penurunan standar hidup per kapita, maraknya kasus tunggakan nafkah anak pasca-perceraian, serta munculnya risiko kemiskinan baru bagi ibu tunggal (single mother) yang tidak memiliki pekerjaan tetap.
- Bebal Sosial Daerah: Lonjakan jumlah kepala keluarga tunggal berimbas pada peningkatan permintaan bantuan sosial (bansos) dan jaminan kesehatan daerah, di samping stigma sosial yang masih melekat di masyarakat.
Sinergi antara edukasi pra-nikah, literasi keuangan keluarga, serta penanganan masalah judi online dan pinjol menjadi krusial untuk menekan laju perceraian di Yogyakarta ke depan.
Liputan: Galang Andika Pratama



