Subhanallah Kenapa Semua Kawan Saya Tidak Punya Uang Alias Miskin, Kemana Uang Indonesia ?

Ekonomi Kulon Progo Tumbuh Melesat 5,69% di Triwulan I 2026, Pemkab Siap Genjot Pembangunan Infrastruktur. (Foto/Dok)

Subhanallah, hari ini menjadi hari paling menyedihkan !

Dalam kondisi tidak bisa bergerak karena tidak memiliki sepeserpun uang di kantong, rasanya seperti terjepit batu pualam, sesak, sempit, susah bergerak, makin menyakitkan !

Bayangkan, untuk isi pertalite seliter saja tidak ada duit sama sekali. Motor kedip kedip, mau jalan takut mogok kehabisan bahan bakar, tidak mogok makin sumpek di rumah !

Saya mendongkrak nyali untuk mengkontak sedikitnya 11 orang teman. Ini test case, oleh syuukur ora oleh ora popo.

Allahuakbar ! Mereka semua menyatakan juga sedang mengalami kondisi yang sama, krisis, tidak memiliki uang sedikitpun untuk hidupnya.

“Ya Allah, kemana hilangnya uang, uang kita ini dimakan apa kok bisa habis, tak tersisa untuk rakyat Indonesia ini, kenapa 11 orang hebat-hebat ini juga tidak berduit,” gumamku.

Padahal 11 orang tersebut merupakan orang-orang hebat, pilihan ( dimata saya, red ) dengan latar belakang profesinya yang berbeda, mulai dari swasta murni, profesional, orang baik nan dermawan, hingga setengah pejabat setengah swsata.

Bahkan salah satu kawan dekat saya seorang kontraktor muda mengirim screnshoot isi rekeningnya, yang tinggal Rp 9.600 rupiah.

Padahal dia termasuk orang baik, dermawan, dan gampang memberi saat ada teman mengeluh tidak berdaya ( secara keuangan, red).

“Maaf pak belum bisa bantu, ini saldo saya,” katanya sembari mengirim screenshot saldo sebedsar Rp 9.600.

BACA JUGA  Aris Syarifudin: DPRD Kulon Progo Belum Diajak Bicara Soal Penutupan PT SAK, Keputusan Tertinggi di RUPS !

Salah satu kawan dekat saya juga mengirim jawaban senada.

“Ngapunten saya juga sedang krisis, anak-anak butuh bayar SPP anak petama kuliah, kedua masuk SMA dan ketiga masuk SMP, maaf,” katanya.

Agar tidak kentara kalau saya sedang krisis saya mengajak dua kawan saya (teman berwirausaha saya sekaligus teman ngobrol) ngopi di sebuah restoran terkenal di Kota Ku.

Begitu datang duduk, dengan muka ditekuk langsung cerita, bahwa kemungkinan dia akan bercerai dengan istrinya, karena baru saja melakukan KDRT.

Apa penyebabnya ?

Karena karyawan di tempat usahanya harus bayar bulanan minggu besuk, tetapi uang tagihan belum masuk.

Ia berusaha meminjam perhiasan istrinya, tetapi (biasalah) perempuan banyak ngomel.

Maka tanpa kendali teman saya ini melakukan kekerasan kepada istrinya, hingga berpamit pada anak-anaknya, jika suatu hari ia atau ibunya harus pergi dari rumah maka pastikan anak-anaknya tetap kuat dan sehat ?

“Saya jengkel, mereka nggak ngerti dunia sedang lolaps, usaha sedang hancur, tagihan susah, malah ngomel. Saya sudah putuskan untuk bercerai. Besuk saya mau ke pengadilan agama,” katanya tegas banget.

“Waduh, stop, hatiku perih mendengarnya, stop ! Saya sebenarnya pingin cerhat minta bantuan tapi malah denger kepedihan yang mendalam dan sudah berdampak, wes..wes,” kataku.

“Maaf Om, aku tinggal punya uang Rp 600 ribu di rekening,” katanya sembari tertawa pahit.

BACA JUGA  Dari "Rebahan" Jadi "Gajian": Pemkot Yogyakarta Gelar Job Fair 2026, Sediakan 2.000 Lowongan Kerja

Kawan dekat saya yang satunya antusias bercerita, dan tanpa jeda lalu menyambung cerita KDRT tadi.

“Ini sama mirip, kemarin malam aku telpon jenengan itu karena habis gegeran dengan istri pak, jadi cicilan bank saya besuk itu Rp 23 juta, saya harus masih menutup biaya produksi Rp 180 juta, saya bingung, maka saya cerita ke istri mau minta pinjam sertifikat tanah untuk pengajuan kredit baru. Istri marah cemarah, dan bilang duit yang kemarin ditanam juga belum balik dan belum ada hasilnya, kenapa lagi sekarang,” katanya.

Karena saya bingung, saya keluar rumah merokok dan telpon jenengan untuk sekedar berbagi cerita soal tagihan.

“Ya Allah, ini teman-teman saya pada kenapa, ada apa dengan ekonomi Indonesia? Kenapa semua tidak punya duit,” kataku menggumam.

Sebagai orang yang lebih tua dari mereka, saya hanya bisa terdiam sembari mengalihkan pembicaraan dengan topic yang lain. Saya ingin menghibur diri saya dan kawan-kawan dengan cerita seru yang lain.

Tapi akhir-akhirnya kita selalu kembali ke cerita krisis keuangan, tidak ada dana segar, tidak ada kemampuan bayar, kehidupan mengalami banyak tekanan, proyek kosong, tagihan tidak jalan, uang rokok seadanya, sedapatnya !

“Rokok aja kadang ngutang,” timpaku.

“Nah saya baru saja membaca literasi, ternyata sekarang ada trend cerai bagi suami istri yang sudah berumur! Ini fakta, “ kata temanku lagi.

BACA JUGA  Stok Beras 4,8 Juta Ton, Mentan Amran Sulaiman di KPPD Lemhannas Dorong Kemandirian Pangan

Lalu kami tertawa sembariu mengangkat pedih perih dalam dada masing-masing. Tertawa dengan alasan yang beda-beda !

Teman saya paling tua dengan nada lembut mulai bicara, bahwa setiap rumah tangga pasti ada masalah.

“Kecil besar, penting nggak penting pasti ada masalah dalam setiap rumah tangga! Tidak tidur seranjang nggak apa-apa, tidak sering bercinta nggak apa-apa, jangan bercerai ! Mari disikapi dengan dingin. Soal keuangan, bukan hanya sampean semua yang sedang krisis, 180 juta rakyat Indonesia sedang mengalami nasib yang sama, kecuali yang ketangkap punya 47 kilogram emas di lemarinya,” ujarnya sembari tertawa.

Apa yang terjadi dengan ekonomi kita sebenarnya, konon MBG untuk kesejahteraan rakyat, KDMP untuk membangun ekonomi rakyat ? Rakyat yang mana ?

Tulisan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *