Jombang, Proliman News — Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin memanas menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Sejumlah figur kuat menyatakan kesiapannya untuk maju dalam kontestasi kepemimpinan tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Di antara nama-nama yang mengemuka, tiga tokoh utama menjadi sorotan publik: petahana KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Pengasuh PP Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), serta Pengasuh PP API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf). Selain ketiganya, sejumlah nama lain seperti KH Zulfa Mustofa, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Menteri Agama Nasaruddin Umar, KH Abdussalam Shohib, dan KH Marzuki Mustamar turut masuk dalam radar bursa pencalonan.
Ketua Umum PBNU petahana, KH Yahya Cholil Staquf, secara terbuka mengonfirmasi kesiapannya untuk kembali mencalonkan diri demi menuntaskan pengabdiannya.
”Allahu Robbuna. Niatku ora kliru (niat saya tidak keliru),” tegas Gus Yahya di arena muktamar, menyuarakan komitmennya melanjut pengabdian di PBNU.
Sementara itu, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) mengonfirmasi bahwa dirinya dicalonkan oleh PWNU Jawa Timur. Cicit pendiri NU KH Hasyim Asy’ari ini menekankan pentingnya membangun kemitraan yang harmonis dengan negara serta mempererat silaturahmi dengan pengurus cabang dan wilayah di seluruh Indonesia. Menurut Gus Kikin, setiap kandidat memiliki peluang yang sama dalam perhelatan ini.
Gus Yusuf Usung Poros Perubahan: “Pilih dengan Basyirah, Bukan Bisyarah”
Di sisi lain, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) tampil membawa gagasan Poros Perubahan dan semangat rekonsiliasi. Gus Yusuf mengklaim telah mengantongi dukungan sedikitnya 235 Pengurus Cabang NU (PCNU) yang jenuh dengan konflik internal di PBNU selama lima tahun terakhir.
Gus Yusuf menegaskan kesiapannya maju baik melalui mekanisme voting langsung maupun Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Ia menyerukan agar pemilihan berjalan secara demokratis, bersih, dan mematuhi AD/ART serta Qanun Asasi NU tanpa adanya aturan turunan yang terkesan dijadikan instrumen untuk menjegal kader.
Ia juga berpesan kepada para muktamirin agar teguh pada nilai-nilai perjuangan NU saat menggunakan hak pilihnya:
- Pilih Berdasarkan Basyirah (Hati Nurani): Muktamirin diminta memilih pimpinan yang mampu menjadi solusi dan perekat organisasi dengan pertimbangan mata hati.
- Tolak Bisyarah (Iming-iming Materi): Gus Yusuf mengingatkan agar pemegang hak suara tidak tergiur iming-iming politik uang atau materi yang dinilai mulai beredar menjelang pemilihan.
Meski suhu politik muktamar terus meningkat, Gus Yusuf mengingatkan para peserta agar tidak menguras seluruh energi hanya demi perebutan kursi kepemimpinan. Menurutnya, NU harus tetap mengedepankan kepedulian sosial dan hadir di tengah musibah yang dialami masyarakat.
Sebagai bentuk aksi nyata, Gus Yusuf menyerahkan bantuan kemanusiaan sebesar Rp100 juta untuk korban bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis kepada perwakilan PCNU dari wilayah terdampak seperti Alor, Malaka, Flores Timur, dan Belu.
”Muktamar jangan hanya bicara siapa yang menjadi Ketua Umum PBNU, sementara masyarakat yang sedang terkena musibah kita lupakan. Jangan sampai energi muktamar habis hanya untuk urusan kursi. Siapa pun yang terpilih, yang jauh lebih penting adalah NU tetap hadir ketika rakyat membutuhkan,” ujar Gus Yusuf.
Liputan: Galang Andika Pratama



