Dorong Kemandirian Jamaah, Masjid Diimbau Kelola ZISWAF dan BUMM Secara Produktif

Dorong Kemandirian Jamaah, Masjid Diimbau Kelola ZISWAF dan BUMM Secara Produktif. (Foto/Dok)

Yogyakarta, Proliman News — Peran masjid kini didorong untuk tidak lagi sebatas menjadi tempat pelayanan ibadah ritual (mahḍah), melainkan kembali pada fungsi utamanya sebagai pusat peradaban dan penggerak ekonomi masyarakat. Pembelajaran berharga ini merujuk pada keberhasilan model tata kelola Masjid Jogokariyan di Yogyakarta dan Masjid Istiqlal di Jakarta, yang dinilai mampu mengintegrasikan manajemen modern dengan kepedulian sosial guna menggerakkan roda ekonomi umat secara nyata.

​Masjid Jogokariyan menjadi contoh konkret lewat pendekatan berbasis komunitas melalui penerapan prinsip saldo kas optimal (saldo Rp0), di mana dana infak tidak ditimbun melainkan disalurkan kembali untuk jamaah. Langkah ini diperkuat dengan pemetaan kondisi sosial-ekonomi warga, penyediaan modal usaha tanpa bunga bagi UMKM, hingga penciptaan ruang pasar rakyat. Sementara itu, Masjid Istiqlal menunjukkan model tata kelola skala makro melalui pengelolaan Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) secara produktif, pembentukan pusat inkubasi bisnis ekosistem halal, serta penerapan transparansi keuangan berbasis digital.

​Sinergi antara pemetaan kebutuhan akar rumput ala Jogokariyan dan manajemen profesional ala Istiqlal diharapkan dapat direplikasi oleh masjid-masjid di berbagai daerah. Pembentukan unit usaha kolektif seperti Koperasi atau Badan Usaha Milik Masjid (BUMM) menjadi instrumen strategis untuk menciptakan kemandirian finansial organisasi sekaligus mengentaskan kemiskinan, sehingga tidak ada lagi jamaah di lingkungan sekitar masjid yang terjerat pinjaman ilegal.

BACA JUGA  Kisah Inspiratif Fathan: Dari Bantu Ibu di Kantin Sekolah, Kini Berhasil Kuliah Gratis di UGM

Liputan: Galang Andika Pratama

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *