Yogyakarta, Prolimannews – Di balik bangku kuliah Universitas Gadjah Mada (UGM), selalu ada cerita perjuangan yang menyentuh hati.
Salah satunya datang dari Muhammad Fathan Khairul Muna R, remaja berusia 17 tahun asal Pekanbaru yang membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah tembok pembatas untuk meraih mimpi.
Fathan, yang baru saja diterima di Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, memiliki rutinitas harian yang tidak biasa bagi remaja seusianya.
Sejak sang ayah meninggal dunia, ibunya, Rida Rahayu, menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan di kantin SMA Negeri 8 Pekanbaru yang juga tempat Fathan bersekolah.
Setiap hari, Fathan terbiasa bangun dini hari. Sebelum bersiap memakai seragam sekolah, ia dengan cekatan membantu mengantarkan sang ibu dan barang-barang dagangan menuju kantin. Baginya, membantu ibu adalah kewajiban, namun pendidikan tetap menjadi prioritas utama.
Impian Fathan untuk kuliah di kampus biru sudah dipupuk sejak menginjakkan kaki di bangku SMA.
Sadar bahwa jalurnya tidak mudah, ia menyusun strategi dengan menjaga konsistensi nilai rapornya dari semester pertama hingga kelima. Karena bercita-cita masuk jurusan Akuntansi, ia memberikan perhatian dan fokus ekstra pada mata pelajaran Ekonomi.
Kerja kerasnya di sekolah membuahkan hasil. Dengan dukungan lingkungan sekolahnya, Fathan aktif mengikuti berbagai kompetisi.
Salah satu pencapaian terbaiknya adalah berhasil menyabet Juara II tingkat Sumatra dalam lomba Cerdas Cermat yang diadakan oleh Mahkamah Konstitusi Indonesia. Selain prestasi lomba, berkat rekam jejak akademiknya yang baik, Fathan juga mendapatkan Beasiswa 4698 dari ikatan alumni sekolahnya saat duduk di kelas XII.
Perjalanan Fathan tentu tidak selalu mulus. Ia mengaku sempat beberapa kali menelan kekecewaan akibat kalah dalam kompetisi. Namun, mentalnya tidak goyah. Remaja ini memilih melihat kegagalan dari sudut pandang yang berbeda.
“Setiap kegagalan bukan berarti akhir dari perjalanan, melainkan tanda bahwa Tuhan sedang menyiapkan jalan yang lebih baik,” ungkap Fathan bijak.
Dalam perjuangan ini, Fathan tidak sendirian. Ia didampingi oleh dua sosok perempuan tangguh: sang ibu yang selalu menanamkan keyakinan bahwa tidak ada mimpi yang mustahil, serta kakak perempuannya yang terus menyokongnya, baik secara moral maupun finansial.
Kini, Fathan siap merantau ke Yogyakarta untuk memulai babak baru sebagai mahasiswa FEB UGM tanpa harus memikirkan biaya kuliah yang memberatkan keluarganya.
Ia menutup ceritanya dengan sebuah pesan yang kuat untuk siapa saja yang sedang berjuang: “Kalau mimpi kita jauh, kita akan terus mencari cara untuk menuju ke sana. Tidak ada yang mustahil untuk dicapai karena yang memimpikannya adalah kita sendiri.”
Liputan: Galang Andika Pratama



