Sleman, Proliman News — Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman awan panas guguran dan guguran lava Gunung Merapi. Sektor selatan hingga barat daya kini menjadi area fokus yang dinilai berpotensi terdampak tinggi akibat masih berlangsungnya suplai magma di kawah gunung api tersebut.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih bertahan pada Level III (Siaga). Laporan pengamatan menunjukkan dinamika vulkanik Merapi tetap tinggi, ditandai dengan intensitas kegempaan serta luncuran material pijar yang mengarah ke beberapa alur sungai utama.
Ancaman yang perlu diwaspadai tidak hanya berupa aliran lava pijar dan awan panas guguran, tetapi juga potensi lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif yang dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.
Berdasarkan rekomendasi teknis BPPTKG, sektor selatan-barat daya menjadi area yang rawan:
- Sungai Boyong: Potensi bahaya guguran dan awan panas hingga jarak maksimal 5 kilometer.
- Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng: Potensi bahaya hingga jarak maksimal 7 kilometer.
- Sektor Tenggara (Sungai Woro & Gendol): Potensi ancaman berkisar antara 3 hingga 5 kilometer dari puncak.
Himbauan & Mitigasi:
Otoritas terkait meminta seluruh warga, wisatawan, maupun pelaku aktivitas outdoor untuk sepenuhnya mengosongkan dan menjauhi daerah potensi bahaya yang telah ditetapkan. Selain bahaya awan panas, masyarakat yang beraktivitas di sekitar aliran sungai berhulu Merapi diimbau mewaspadai ancaman lahar hujan, terutama saat intensitas curah hujan tinggi di wilayah puncak.
Masyarakat diharapkan selalu memantau informasi resmi dari BPPTKG dan pemangku kebijakan setempat serta tidak mudah terpengaruh oleh kabar simpang siur yang belum terverifikasi.
Liputan: Galang Andika Pratama



