Yogyakarta, Proliman News – PT Pandu Wijaya Negara (PWN) Yogyakarta, menyatakan ikut turun di lantai Bursa Carbon Indonesia (BCI) melalui IDX Carbon Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Karena dengan bursa karbon kita bisa memperdagangkan karbon ke pasar internasional, “ ujar Ir.Edi Supriyanta Direktur PT Pandu Wijaya Negara (PWN), melalui jaringan pesan singkat, Senin (20/1/2025).
Edi Supriyanto menyatakan menyambut gembira dengan dibukanya Bursa Carbon Indonesia (IDX Carbon) di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin.
Bahkan PT PWN juga telah memesan sertifikat karbon yang di otorisasi pemerintah yakni oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) sejumlah 1,7 juta ton karbon untuk diperdagangkan di pasar internasional.
“Kami sudah memesan sertifikat karbon yang sudah di otorisasi pemerintah dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup ( KLH) sejumlah 1,7 juta ton untuk diperdagangkan di internasional,” ujarnya.
PT PWN Yogyakarta merupakan satu-satunya perusahaan yang fokus pada pengelolaan budidaya pohon nyamplung (calophyllum inophyllum) dari pembibitan, persemaian, produksi, pemanfaatan serta pasca panen di Yogyakarta.
Perusahaannya ini tercatat memiliki program seperti Indonesia green gold project Agroforestry Nyamplung Bio Energy and Decarbonizastion.
“Project Agroforestry Nyamplung Bio energi and Decarbonisasi punya potensi serapan dari pohon nyamplung yang lumayan besar, ” papar Edi Supriyanta.
Ini sangat menarik untuk bisa dikembangkan guna membesarkan Bursa Carbon Indonesia (BCI) berbasis alam atau nature base solution, paparnya lebih lanjut.
PT PWN telah membuat persemaian permanen tanaman hutan penghasil energi yaitu nyamplung dan sudah memiliki izin pengadaan dan pengedar bibit tanaman hutan dan sertifikasi mutu bibit
Edi Supriyanta menegaskan, ini sebagai langkah awal untuk solusi perubahan iklim. Pohon nyamplung sebagai premium kredit karbon mempunyai dua fungsi sebagai decarbonisasi dan transisi energi.
“Nyamplung teruji memiliki potensi serapan karbon yang sangat besar, memiliki fungsi transisi energi sebagai bioenergi yang berguna bagi kehidupan yaitu agro forestry, bioenergi dan carbonizasasi,” ujarnya.
Edi Supriyanta mengatakan PT PWN juga akan mempromosikan bursa karbon Indonesia sebagai poros bursa karbon dunia berhasis alam Nature Base Solution (Nbs), lanjutnya.
Bagi PT PWN pembukaan perdagangan karbon 20 Januari 2025 oleh pemerintah di Jakarta merupakan moment suport dan peluang besar yang sangat positif.
Diketahui PT PWN selama dua tahun terakhir ini telah membuat persemaian bibit nyamplung varietes unggul, baik di Kabupaten Sleman dan Gunungkidul serta tempat lain.
Target tahun ini pihaknya juga akan membuat sedikitnya 150 ribu bibit nyamplung.
“ Mari bersama- sama memakmurkan bumi dengan menanam tanaman hutan penghasil energi yaitu nyamplung sebagai solusi perubahan iklim global kesepakatan 180 negara mulai dari Paris Agreement sampai COP 29 th 2024 yaitu Decarbonisasi dan Transisi Energi,” ungkapnya.
Perdagangan karbon adalah mekanisme jual-beli sertifikat pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK). Tujuannya adalah untuk mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) dan mencapai target iklim.
Perdagangan karbon dilakukan melalui bursa karbon, seperti IDX Carbon yang dikembangkan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
Bagaimana cara kerja perdagangan karbon? Pelaku usaha yang menghasilkan emisi karbon membeli kredit karbon (carbon credit) atau kuota emisi karbon (allowance).
Pelaku usaha yang memiliki kelebihan kuota emisi menjual kredit karbon kepada pelaku usaha lain.
Negara-negara maju atau perusahaan yang menghasilkan emisi karbon membayar kompensasi kepada negara yang menyerap karbon.
Siapa yang terlibat dalam perdagangan karbon? Pembeli kredit karbon, yaitu industri, negara, atau perusahaan yang menghasilkan emisi karbon dalam jumlah tinggi.
Penjual kredit karbon, yaitu pelaku usaha yang memiliki kelebihan kuota emisi. Negara pemilik hutan atau negara yang berperan sebagai penyerap karbon.
Liputan : Suyono Sugondo



